Akhirnya Pemilik Snack Bikini Angkat Bicara
Nasional

Akhirnya Pemilik Snack Bikini Angkat Bicara

Sabtu, 6 Agt 2016 | 20:31 | Ahmad Mashudin

WinNetNews.com - TW, mahasiswi yang memproduksi snack Bikini akhirnya memberikan pernyataan terkait dengan jajanan yang kontroversial itu. Melalui sebuah surat, TW menjelaskan awal bula bisnisnya tersebut.

Seorang pria yang mengaku sebagai paman TW dan mengenalkan diri sebagai Om Ber kemudian memberikan secarik kertas kepada wartawan yang menunggu di rumah TW di kawasan Sawangan Baru, Depok, Jawa Barat, Sabtu (6/8/2016). Surat tersebut disebut merupakan pernyataan TW terkait kasua yang menimpanya.

"Awal terbentuknya bikini snack adalah saat mendapat tugas dari sekolah bisnis saya, nama projectnya home bussiness yaitu mengharuskan membuat produk sendiri dari belanja barang, mengolahnya, dan packagingnya. Kami dibuat perkelompok, saya berlima dengan teman-teman saya yaitu (dicoret), pada saat itu semua memberikan ide-ide produk masing-masing. Saya memberikan ide membuat bihun goreng, setelah semua ide dicoba ternyata yang lebih mudah diproduksi yaitu bihun goreng ini. Ide bihun goreng ini juga tidak murni dari saya, tapi melihat di dekat rumah saya ada yang menjual seperti itu dan banyak yang suka jadi saya berpikir kalu produk ini bisa diterima masyarakat," kata TW dalam surat pernyataannya.

Kemudian TW juga menyebut tentang masalah perizinan kepada lembaga terkait seperti Dinkes dan MUI. Dia beralasan tidak tahu tentang masalah perizinan dan tentang label halal yang dicantumkannya di kemasan produk snack itu.

"Untuk masalah perizinan memang sudah berniat untuk mendaftarkan namun karena ketidaktahuan cara mengurusnya jadi belum sempat ke Dinkes," ucapnya.

Sebelumnya, BBPOM Bandung bersama Polresta Depok menggerebek rumah TW yang dijadikan tempat memproduksi Snack Bikini di Sawangan, Depok, Sabtu (6/8) dini hari. Dari penggerebekan itu, sejumlah barang mulai dari bahan baku hingga kemasan dan juga Snack Bikini siap jual disita dan dibawa oleh petugas untuk diperiksa lebih lanjut. Dalam UU No 18/2012 tentang pangan, produk pangan tanpa izin edar dapat dikenakan sanksi pidana kurungan penjara dua tahun atau denda paling banyak Rp 4 miliar. 

TAGS:

RELATED STORIES

Loading interface...