Antara Dolly, Kalijodo dan PSK
Nasional

Antara Dolly, Kalijodo dan PSK

Senin, 29 Feb 2016 | 17:28 | kontributor

WinNetNews.com - Nama kalijodo yang menjadi tempat prostitusi ternama kini tinggal kenangan. Pemeprov DKI Jakarta kini telah meratakan bangunan yang menjadi sarang bisnis haram di wilayah kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara itu.

Selain terkenal dengan wilayah prostitusi, kalijodo juga merupakan sarang judi, narkoba dan preman yang berani mati demi membela bos nya. Pasukan pemukul alias preman yang bertugas di Kalijodo memiliki sebutan "Anak Macan".

Para "Anak Macan" ditugasi untuk menjaga lokasi perjudian dan bisnis seks, baik dari aparat pemerintah maupun dari serbuan ormas-ormas agama, yang kerap kali melakukan razia di kawasan tersebut.

Penggusuran Kalijodo sempat menuai kontroversi, beberapa orang menolak dan sebagian warga pun ada yang setuju untuk dipindahkan. Namun, setelah proses penggusuran kawasan Kalijodo ini telah selesai dieksekusi oleh pemerintah, ada seuntai tanya di benak kita, bagaimanakah nasib Kalijodo selanjutnya?

Apakah dengan langkah penertiban dan penggusuran kawasan prostitusi Kalijodo ini akan berhasil membumihanguskan bisnis haram esek-esek, judi, dan sejenisnya? Kemanakah PSK yang selama ini menggantungkan hidupnya di kawasan yang merupakan ruang terbuka hijau (RTH) milik Pemprov DKI Jakarta itu? Kemanakah bandar-bandar judi dan mucikari yang selama ini meraup keuntungan dari bisnis haram Kalijodo akan hijrah?

Langkah yang ditempuh oleh Pemprov DKI dalam upaya penutupan lokalisasi Kalijodo ini hampir serupa dengan Pemkot Surabaya ketika menutup lokalisasi Dolly, yang sangat terkenal itu. Tapi winners, meskipun Dolly telah ditutup, bisnis haram esek-esek ini tak sepenuhnya hilang dari Dolly.

Informasi yang dihimpun dari laman Tribun menyebut bahwa prostitusi Dolly ternyata hidup lagi. Dalam tulisan yang diterbitkan pada 25 Agustus 2015 itu menerangkan jurus baru yang digunakan oleh para mucikari dalam menjajakan PSK di Dolly.

 

Tak ada lagi foto, tak ada lagi wanita-wanita seksi yang terang-terangan menawarkan diri. Hanya saja sang mucikari melambaikan tangan kepada pengendara yang melintas di kawasan tersebut. Ketika ada pengendara yang tertarik dan menghentikan kendaraannya, maka sang mucikari akan menjelaskan ciri-ciri PSK yang bisa dibooking oleh para lelaki hidung belang.

Seperti kucing-kucingan dengan petugas, sang mucikari kemudian mengajak pelanggannya untuk masuk melalui pintu belakang rumah bordil yang berkedok 'wisma' itu. Biasanya pengelola wisma mematikan lampu luar sehingga terkesan tidak ada aktivitas, hal ini untuk menghindari kecurigaan petugas satpol PP atau polisi yang kerap patroli di kawasan tersebut.

Para mucikari pun tidak akan melambaikan tangan kepada pelanggan bila ada kendaraan satpol PP atau polisi. Modusnya, sang mucikari akan nongkrong di warung kopi sekitar wisma. Kemudian sang mucikari pun segera menghubungi PSK-nya agar segera keluar dari 'wisma'.

Baca juga: Dolly dan Kalijodo Serupa Tapi Tak Sama

Sementara itu, dihimpun dari Tribun, para PSK eks kalijodo enggan tinggal di panti sosial untuk dibina.

"Mereka mendapatkan dana Rp 5 juta selama enam bulan. Diganti Rp 5 juta, tetapi harus tinggal di Panti Sosial," tutur seorang wanita yang tak ingin disebutkan namanya itu ditemui di Kalijodo, Senin (29/2/2016), kata seorang yang menyebut dirinya sebagai tokoh masyarakat kalijodo, dikutip dari Tribun, Senin (29/2/16).

Hal ini lantaran dana 5 juta yang mereka peroleh per kepala dianggap terlalu kecil, sementara mereka terbiasa memegang uang yang lebih besar untuk memenuhi kehidupan sehari-hari mereka. Akhirnya para PSK pun memilih untuk pulang kampung dan sebagian besar memilih tetap mencari nafkah sebagai PSK di Ibu Kota, meskipun di tempat yang berbeda.

Mewabahnya bisnis prostitusi di kota-kota besar seperti Jakarta adalah sebuah penyakit masyarakat yang cukup sulit dihilangkan. Meski kenyataannya keberadaan bisnis haram tersebut sangat meresahkan, prostitusi tidak hanya ada di Jakarta tetapi tersebar juga di daerah-daerah. Menghapuskan bisnis esek-esek bukanlah perkara mudah.

TAGS:
SurabayaAhokdollyJakarta UtarapskprostitusiPemprov DKI Jakartamucikarikalijodolokalisasipenggusurangang dollypekerja seks komersialsarang judibisnis harambisnis esek esekPemkot Surabayarth

RELATED STORIES

Loading interface...