Ayo Hilangkan Stigma Pelecehan Seksual
Artwork via safeducate.com
Kolom

Ayo Hilangkan Stigma Pelecehan Seksual

Rabu, 4 Des 2019 | 16:20 | Maya Akbar Sugiharto

Winnetnews.com - Pelecehan seksual adalah perilaku pendekatan yang terkait dengan seks yang Tak Diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seks.

Pelecehan seksual dapat dilihat sebagai bentuk kekerasan pada wanita. Menurut data catatan tahunan Komnas Perempuan tahun 2019 Kekerasan di ranah publik mencapai angka 3.915 kasus (28%), dimana kekerasan seksual menempati peringkat pertama sebanyak 2.521 kasus (64%). Peliknya kehidupan di perkotaan mengakibatkan tidak jarang perempuan menjadi korban pelecehan seksual, hal ini mengakibatkan mereka menjadi takut dan tidak sedikit pula yang trauma.

Komnas Perempuan mencatat, selama 12 tahun (2001- 2012), sedikitnya ada 35 perempuan menjadi korban kekerasan seksual setiap hari. Pada tahun 2012, setidaknya telah tercatat 4,336 kasus kekerasan seksual, dimana 2,920 kasus diantaranya terjadi di ranah publik/komunitas, dengan mayoritas bentuknya adalah perkosaan dan pencabulan (1620).

Sedangkan pada tahun 2013, kasus kekerasan seksual bertambah menjadi 5.629 kasus. Ini artinya dalam tiga jam setidaknya ada dua perempuan mengalami kekerasan seksual. Usia korban yang ditemukan antara 13-18 tahun dan 25-40 tahun.

Pelecehan seksual menjadi lebih sulit untuk diungkap dan ditangani karena sering dikaitkan dengan konsep moralitas masyarakat. Perempuan dianggap sebagai simbol kesucian dan kehormatan untuk dirinya dan orangtua, karenanya ia kemudian dipandang menjadi aib ketika mengalami pelecehan seksual, misalnya pelecehan seksual yang mengakibatkan hubungan sex.

Korban juga sering disalahkan sebagai penyebab terjadinya pelecehan seksual, ini membuat perempuan yang sebagai korban seringkali bungkam dan memilih untuk tidak berinteraksi dengan masyarakat karena perempuan yang terkena pelecehan seksual merasa tidak percaya diri, tidak suci, merasa tidak berguna, dan masih banyak lagi.

Yang mengakibatkan perempuan bungkam yaitu karena mereka mendapatkan stigma dari masyarakat. Masyarakat berasumsi bahwa perempuan yang terkena pelecehan seksual merupakan perempuan “nakal”, perempuan yang memakai baju terbuka atau perempuan yang sudah tidak suci atau bahkan perempuan yang kotor dan hina.

Konteks semacam ini sering kita dengar ditelinga kita, bahkan sudah sampai diseluruh lapisan masyarakat, lalu bagaimana perasaan kaum perempuan yang mendapatkan suatu kesan yang tidak mereka inginkan? nama baik mereka akan hancur kemudian mereka akan dikucilkan dari pergaulan masyarakat. Banyak perempuan yang sudah tidak dianggap lagi oleh keluarganya atau teman dekatnya karena mereka malu untuk mengakuinya.

Stigma seperti ini dapat menghancurkan psikis dari korban. Korban menjadi tidak berani untuk bergaul dan malu akan dirinya. Padahal tidak sepenuhnya menjadi kesalahannya atau bahkan memang bukan kesalahannya tetapi dia harus menanggung malu dari pelecehan seksual yang dilakukan kepadanya.

Maka dari itu kita sebagai masyarakat harus memiliki rasa toleransi yang tinggi. Mereka yang menjadi korban pelecehan seksual sama seperti masyarakat lainnya yang memiliki haknya untuk dihormati dan dihargai.

Masyarakat yang memiliki toleransi yang tinggi pasti akan membantu korban-korban pelecehan seksual agar bisa dan mau untuk berani berbicara. Kita harus bisa untuk tidak menghakimi secara sepihak dan tidak berasumsi negatif kepada perempuan korban pelecehan seksual. Sehinga jika korban berani untuk berbicara, kasus pelecehan seksual akan dapat ditangani sehingga kasus pelecehan seksual tidak akan meningkat pertahunnya.

***

 


Maya Akbar Sugiharto adalah mahasiswa London School of Public Relations, Jakarta. Saat ini ia sedang menjalankan kampanye yang bertema “Brave to speak up against sexual harassment”. Latar belakang dilakukannya kampanye ini adalah karena masih banyak korban pelecehan seksual yang belum berani bersuara. Menurutnya, korban harus berani bersuara agar masyarakat sadar akan apa yang akan mereka lakukan ketika mereka atau keluarganya yang terkena pelecehan seksual. Yang demikian itu diharapkan meminimalkan kasus pelecehan seksual.

TAGS:
kekerasan seksualkasus pelecehan seksual

RELATED STORIES

Loading interface...