Bagaimanakah Mengatasi Ketidakpastian Menghadapi Pandemi CONVID-19?
ilustrasi
Kesehatan

Bagaimanakah Mengatasi Ketidakpastian Menghadapi Pandemi CONVID-19?

Minggu, 22 Nov 2020 | 07:28 | Rusmanto

Winnetnews.com -  Belum ada tanda pandemi akan berakhir dalam waktu dekat, karena itu masyarakat masih diminta untuk terus melakukan rutinitas pencegahan penularan COVID-19. Mengurangi aktivitas di luar rumah, memakai masker, menjaga jarak, dan sering-sering mencuci tangan harus menjadi kebiasaan baru. Berbulan-bulan hidup di tengah pandemi dengan segala keterbatasan dan ketidakpastian kapan wabah ini berakhir membuat banyak orang jemu dan lelah atau saat ini dikenal dengan pandemic fatigue.

Apa itu pandemic fatigue dan bagaimana mengatasinya?

image0

Masih ingat masa-masa awal pandemi COVID-19 masuk ke Indonesia? Kewaspadaan tinggi pada sebagian besar orang membuat mereka mengikuti arahan untuk membatasi kegiatan di luar rumah. Banyak kafe dan restoran mengubah bisnisnya ke layanan pesan antar, sejumlah calon pasangan pengantin pun rela menunda pesta pernikahan mereka. 

Memasuki libur idul fitri, pemerintah memotong cuti bersama dan memindahkannya di akhir tahun, dengan harapan di akhir tahun pandemi telah bisa dikendalikan. Sebagian besar masih memiliki semangat tinggi untuk mencegah penularan, ditambah adanya harapan bahwa pandemi akan segera berakhir. 

Tapi memasuki penghujung tahun, dengan segala upaya yang dilakukan, penyebaran COVID-19 belum bisa dikendalikan. Per Kamis (19/11) sudah ada total 478.720 kasus di mana 76.347 masih berstatus aktif. Pertambahan kasus setiap harinya masih berada di angka ribuan, bahkan Sabtu lalu tembus 5.000 kasus baru dalam satu hari. 

Berbulan-bulan menghadapi kondisi ini, membuat banyak orang merasa lelah dan tidak lagi termotivasi untuk tetap mengikuti protokol pencegahan COVID-19. 

Pandemic fatigue membuat masyarakat cenderung untuk mengambil risiko berbahaya tertular virus. Banyak orang berbondong-bondong pergi ke mal atau berpesta. Mereka berusaha melakukan aktivitas seperti sebelum pandemi, entah karena keinginan, kebutuhan, atau bosan. 

“Di awal krisis, kebanyakan orang dapat memanfaatkan lonjakan kemampuan, yakni kumpulan kemampuan adaptasi fisik dan mental untuk bertahan hidup jangka pendek dalam situasi sangat menegangkan. Namun, ketika keadaan mengerikan berlarut-larut, mereka harus mengadopsi cara adaptasi berbeda karena itu kelelahan dan demotivasi mungkin terjadi,” tulis WHO di situs resminya. 

Lelah atau menurunnya motivasi untuk mengikuti protokol kesehatan pencegahan COVID-19 ini muncul secara bertahap dan semakin meningkat dari waktu ke waktu. Kondisi ini perlahan timbul karena dipengaruhi oleh sejumlah emosi, pengalaman, dan persepsi. 

Dalam catatan organisasi kesehatan dunia (WHO), pandemic fatigue dilaporkan terjadi karena memiliki persepsi risiko bahaya COVID-19 yang rendah. Efektivitas imbauan untuk menjalankan protokol 3M perlahan menurun karena berbagai faktor. Oleh karena itu, pemerintah membutuhkan pendekatan lain yang lebih menyegarkan. 

TAGS:
kesehatanpandemiCOVID-19pandemic fatiguecoronavirus

RELATED STORIES

Loading interface...