Beberapa Tips Periksa Kehamilan Saat Pandemi COVID-19
ilustrasi
Kesehatan

Beberapa Tips Periksa Kehamilan Saat Pandemi COVID-19

Kamis, 16 Jul 2020 | 06:29 | Rusmanto
Winnetnews.com -  Saat hamil terjadi perubahan sistem kekebalan dan sistem kardiovaskular, seperti kebutuhan oksigen yang meningkat dan pembengkakan mukosa saluran pernapasan, sehingga ibu hamil kurang bisa mentoleransi kekurangan oksigen. Berdasarkan data CDC 22 Januari hingga 7 Juni 2020, dari 326.335 perempuan usia produktif di Amerika yang terkonfirmasi positif COVID-19, 8.207 (9%) sedang hamil.

Gejala demam dan batuk lebih dominan pada ibu hamil daripada gejala lain seperti sesak, nyeri otot, dan diare. Menurut data tersebut, ibu hamil berisiko tinggi untuk dirawatinapkan dan masuk ICU dibandingan perempuan yang tidak hamil.

Ada beberapa laporan bahwa virus pneumonia pada ibu hamil dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur, pembatasan pertumbuhan janin (FGR), dan kematian perinatal, namun risiko aborsi spontan tidak meningkat pada wanita hamil dengan infeksi SARS-CoV-2 dari data yang ada di Cina.

Tentu ibu sangat khawatir apakah janin akan tertular COVID-19 bila ibu sudah terkonfirmasi positif, penularan dari ibu ke janin ini disebut penularan vertikal.

Hasil penelitian di Cina menjelaskan bahwa dari sampel cairan amnion, darah tali pusat dan swab pada bayi yang dikumpulkan belum terbukti bisa terjadi penularan vertikal ini. Meskipun demikian, ada beberapa laporan mengenai bayi baru lahir di Cina yang antibodi IgM dan IgG COVID-19 reaktif, namun diperlukan data yang lebih kuat agar temuan ini bisa mewakili populasi.

Pentingnya Pemeriksaan Kehamilan saat Pandemi COVID-19

Berdasarkan protokol gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 dalam hal layanan kesehatan ibu hamil di Indonesia, ada kunjungan ibu hamil yang wajib dilakukan selama pandemi, yaitu:

  1. Kunjungan wajib pertama dilakukan pada trimester 1 direkomendasikan oleh dokter untuk dilakukan skrining faktor risiko (HIV, sifilis, Hepatitis B). Jika kunjungan pertama ini di lakukan ke bidan, maka sebaiknya ibu hamil meminta rujukan ke dokter untuk pemeriksaan selanjutnya.
  2. Kunjungan wajib kedua dilakukan pada trimester 3 (satu bulan sebelum taksiran persalinan) harus oleh dokter untuk persiapan persalinan.
  3. Kunjungan selebihnya dapat dilakukan atas nasehat tenaga kesehatan dan didahului dengan perjanjian untuk bertemu.

Lebih disarankan untuk kunjungan yang tidak wajib dilakukan melalui teknologi telemedicine supaya mengurangi kontak ibu hamil dengan orang lain yang tidak diketahui status kesehatannya.

TAGS:
COVID-19ibu hamilpandemikehamilan

RELATED STORIES

Loading interface...