Benarkah Orang Sarkastik Cenderung Cerdas?
Ilustrasi: BTR Today
Culture

Benarkah Orang Sarkastik Cenderung Cerdas?

Sabtu, 9 Nov 2019 | 17:30 | Amalia Purnama Sari
Winnetnews.com - Kamu patut bersyukur jika memiliki teman atau kolega yang doyan menyindir lewat sarkasme. Soalnya kebiasaan ini ternyata ‘memaksa’ orang di sekitarnya untuk berpikir lebih keras.

Menurut KBBI, sarkasme adalah penggunaan kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain, contohnya adalah cemoohan atau ejekan kasar. Dalam Bahasa Indonesia, sarkasme merupakan majas yang berguna untuk menyindir dan menyinggung menggunakan kata-kaata yang berlawanan dengan maksud asli yang ingin disampaikan.

Sarkasme berasal dari bahasa Yunani yang memiliki arti ‘Sarkazein’ yang artinya ‘merobek sesuatu’. Hal ini tidak mengherankan karena sarkasme memang bisa merobek hati seseorang karena disindir habis-habisan oleh orang lain.

Kerja keras otak untuk memproses sarkasme

image0
Foto: Sites at Penn State

Psikolog dari University of Haifa, Dr. Sharman-Tsoory menjelaskan bahwa pikiran dan perasaan berikatan dengan kemampuan seseorang dalam memahami sarkasme. Orang yang melontarkan sarkasme biasanya cenderung cerdas, kritis, dan kreatif, serta kemampuan prediksinya lebih terasah.

Tidak heran, kemampuan orang sarkastik cenderung membuat orang di sekelilingnya ikut berpikir lebih keras. Kerja otak dalam memproses sarkasme bisa membuat orak kita lebih tajam. Ada studi yang mempelajari hal ini. Sejumlah mahasiswa di Israel diminta untuk mendengarkan complain pada saluran customer service di sebuah perusahaan seluler. Hasilnya, mahasiswa ternyata mampu menyelesaikan masalah secara lebih kreatif ketika komplain diberikan melalui sarkasme. Di sini sarkasme berguna untuk menstimulasi cara berpikir komples dan meredakan dampak buruk kemarahan.

Richard Chin menulis dalam bukunya yang berjudul ‘Sarcasm, Yeah Right’ mengenai banyaknya ilmuan dari berbagai bidang, mulai dari ahli linguistik, psikologi, hingga neurologis yang mendedikasikan waktu selama 20 tahun untuk melakukan studi memgenai bagaimana otak manusia dapat memahami sindiran dan mendapat ilmu dan pengetahuan baru.

Hasil studi tersebut membuktikan bahwa orang yang sering mendengar sarkasme dapat menyelesaikan masalah dengan lebih cepat. Anak sudah bisa memahami sarkasme saat mereka duduk di bangku taman kanak-kanak. Ketidakmampuan seseorang dalam memahami sarkasme bisa menjadi indikasi adanya kerusakan pada otak.

Gagal paham sarkasme dan ASD

image1
Foto: Saying Images

Neuropsikologis di University of California menyatakan bahwa masyarakat Amerika Serikat sudah sangat mafhum dengan sarkasme. Mereka bahkan menggunakan teknik sindiran ini untuk perbincangan sehari-hari. Contohnya saja melontarkan kara “Yeah, right” dengan intonasi dan mimik wajah tertentu. Ini bisa mengungkapkan rasa ketidakpercayaan datau ketidaksetujuan orang yang bersangkutan.

Karena sudah menjadi kebiasaan, orang yang tidak memahami sarkasme cenderung dinilai sebagai pribadi yang tidak bisa beradaptasi secaara sosial. Jika terus ‘gagal paham’ dengan sarkasme, maka orang itu dianggap memiliki gangguan serius di dalam otak.

Beberapa orang yang sering gagal paham dengan sarkasme adalah mereka yang menderita sindrom Asperger atau Autism Spectrum Disorder (ASD). Dosen Psikologi dari University of South Wales mengatakan orang-orang dengan sindrom Asperger umunya merasa kesulitan untuk mengekspresikan diri secara social dan emosional.

TAGS:
budayabahasacara berbicaragaya bahasaorag sarkastiksarkasme

RELATED STORIES

Loading interface...