Berawal dari Iklan di Majalah, Pertemuan dan Mulai Sepemikiran, Kartini Temukan Sahabat Penanya
Foto: istimewa
Nasional

Berawal dari Iklan di Majalah, Pertemuan dan Mulai Sepemikiran, Kartini Temukan Sahabat Penanya

Jumat, 21 Apr 2017 | 09:12 | Fellyanda Suci Agiesta

WinNetNews.com - Sahabat memang menjadi seorang pendukung baik suka maupun duka. Raden Ajeng Kartini juga memiliki sahabat yang selalu mendukungnya, saat Kartini ingin sekali sekolah di Eropa. Berawal dari iklan, berakhir dengan sebuah sahabat pena.

Peran Kartini saat itu tidak lepas dari keluarga dan sahabat-sahabatnya di sekolah, di Belanda dan Eropa. Pertemuan dengan sahabat-sahabat penanya juga melalui iklan yang disiarkan melalui majalah. Mengapa majalah? Karena saat itu, Kartini memiliki hobi membaca, dan tercetuslah membuat iklan di majalah.

Saat itu Kartini getol membaca koran Semarang, De Locomotief. Ia juga menerima paket majalah yang diedarkan toko buku kepada para pelanggan. Di antaranya majalah wanita Belanda, De Hollandsche Lelie.

De Hollandsche Lelie pula yang memuat iklan yang dipasangnya. Iklan kecil itu, dimuat pada edisi 15 Maret 1899, bertuliskan: "Raden Ajeng Kartini, putri Bupati Jepara, umur sekian dan seterusnya, ingin berkenalan dengan seorang 'teman pena wanita' untuk saling surat-menyurat. Yang dicari ialah seorang gadis dari Belanda yang umurnya sebaya dengan dia dan mempunyai banyak perhatian terhadap zaman modern serta perubahan-perubahan demokrasi yang sedang berkembang di seluruh Eropa.”

Jawabanpun datang, Estelle Zeehandellar merespons. Wanita ini terlahir dari keluarga Yahudi di Amsterdam, 5 tahun lebih tua dari Kartini, dan seorang aktivis feminis. Kartini memanggilnya Stella.

Kartini langsung merasa 'klop' dengan sosok Stella, karena sifat idealisnya. Mereka pun segera saling berkirim surat. Pertemanan pena ini membuka jalan Kartini untuk "berkenalan" dengan sejumlah tokoh lain di Belanda.

Kartini mulai berkirim surat dengan Stella. Ia mulai menceritakan kondisinya saat itu, berakhirnya masa pingitannya. Ia menulis,"Aku mau maju, maju terus! Bukan pesta-pesta atau memburu kesenangan yang kuinginkan, tetapi tujuanku adalah adalah kemerdekaan. Aku mau merdeka, mau berdiri sendiri, agar tidak perlu tergantung pada orang lain, agar tidak terpaksa harus kawin..."

Seperti dikutip dari beberapa sumber, inilah beberapa sahabat pena Kartini yang berada di Belanda dan Eropa:

1. Mr. J.H. Abendanon dan Nyonya. R.M. Abendanon-Mandri

Mr. Abendanon merupakan orang yang pertaman kali yang berhasil menghimpun surat-surat Kartini yang pernah diterimanya serta dari sahabat lainnya. Bagi Kartini, Abendanon merupakan salah satu orang terdekat yang berinteraksi langsung dengan keluarga di Jepara. Baik dengan Kartini sendiri maupun dengan Ayahandanya Sosroningrat. Dengan cita-cita Kartini yang ingin pergi ke tanah Belanda dan Eropa, Beliaulah orang yang telah memberikan motivasi dan kesempatan pada waktu itu, walaupun pada akhirnya, Kartini berubah pikiran untuk mengurungkan niat tersebut.

2. Letcy

Letcy adalah sahabat Kartini pada waktu duduk di sekolahan pribumi pada saat Kartini berusia 12-14 tahun. Dia adalah sahabat yang mengerti ketika perilaku deskriminasi perbedaan suku dan ras dilontarkan kapada Kartini. Letcy lah yang memberikan motivasi dan membuka jalan pikiran untuk memikirkan cita-cita yang akan dicapai kemudian hari.

3. Ir. H.H van Kol dan Nyonya. J.M.P van Kol-Porey

Tuan van Kol merupakan sahabat Kartini dari Belanda. Beliau menamatkan pendidikannya di Delft tahun 1876, hingga pada akhirnya dia pergi ke Hindia-Belanda. Istrinya bernama Ny. Nellie van Kol adalah seorang pengarang di majalah Hollandse Lelie tempat Kartini memberikan sumbangan karangan juga. Dari situlah mereka mulai bertemu dan berkenalan dalam bertukar pikiran dan menanggapi dari segala hal yang terjadi di tanah Jawa khususnya.

4. Nyonya M.C.E Ovink-Soer

Nyonya Ovink adalah istri asisten residen Ovink yang ditempatkan di Jepara pada tahun 1894. Nyonya Ovink juga sering melukis untuk buku anak-anak. Kedekatannya, membuat Kartini telah dianggap sebagai anaknya sendiri lantaran juga Beliau tidak mempunyai sang buah hati. Mereka saling bertukar pena dan pikiran, dan itu sangat memberikan tempat tersendiri buat Kartini.

5. Dr. N. Adriani

Nicolaus Adrian adalah seorang ahli bahasa yang tinggal bersama dengan istrinya di Poso. Pada tahun 1894 dia dikirim ke tanah Toraja Sulawesi Tengah untuk mempelajari bahasa-bahasa Toraja. Keberadaannya sebagai ahli bahasa mendapat responden yang cukup banyak dari rakyat pribumi, salah satunya adalah Kartini.

6. Nyonya H.G. de Booy-Boissevain

Hilda Gerarda de Booy dilahirkan pada tanggal 12 Juli 1877 di Amsterdam. Kartini mulai mengenalnya saat Bupati Jepara Sosroningrat beserta anak perempuannya; Kartini, Roekmini, dan Kardinah berkunjung ke Bogor atas undangan Beliau. Pertemuan itu bergerak dalam bidang seni dan bidang kemanusiaan terhadap rakyat pribumi. Dan Kartini merasa sejalan dengan itu.

7. Prof. Dr. G.K. Anton

Profesor Anton adalah seorang guru besar ilmu kenegaraan di Yena Jerman. Bersama istrinya seorang wanita dari Belanda mereka pernah mengadakan study-tour ke tanah Jawa dan sekaligus berkunjung ke Kadipaten Jepara yang dilanjutkan dengan melalui surat menyurat.

TAGS:
Hari Kartinisahabat KartiniRaden Ajeng Kartini

RELATED STORIES

Loading interface...