Betulkah Merusak Hubungan Orang Dapat Merugikan Diri Sendiri?

Oky
Oky

Betulkah Merusak Hubungan Orang Dapat Merugikan Diri Sendiri? sumber foto : istimewa

Winnetnews.com - Perusak Hubungan Orang atau yang biasa disebut atau disingkat PHO adalah orang ketiga yang masuk dalam suatu hubungan bermaksud menghancurkan atau menggoda salah satu pasangan. Pelaku PHO ini bisa wanita maupun pria dan juga korban bisa keduanya. Pelaku PHO biasanya ada di lingkungan kita sendiri.

Saat ini banyak terjadi pada wanita yang berpelaku ingin merebut seorang pria milik orang. Sebenarnya kita tidak bisa menyalahkan penuh kepada PHO ini karena disisi lain bisa jadi memang pasangan kita yang melenceng ke wanita atau pria lain yang seakan-akan kita menyalahkan orang baru yang masuk kedalam hubungan dan menyebutnya dengan sebutan PHO.

Beberapa alasan PHO yang masuk kedalam hubungan seseorang bisa jadi dia suka kepada pasangan kita lalu ingin merebutnya atau memang ada kebiasaan merusak hubungan orang karena sudah menjadi hobby. Alasan lain mengapa didalam hubungan bisa saja selingkuh dengan orang lain karena dia jarang bertemu atau merasa jenuh, bosan, dan sering berantem sehingga berniat untuk melenceng ke orang lain dan tidak memikirkan perasaan pasangannya sendiri.

Biasanya seorang PHO tidak merasa malu atau bersalah karena banyak yang bilang ‘tamu tidak akan masuk kalau tidak di bukain pintu’ jadi kalau memang yang berhubungan tidak mau hubungannya rusak tidak akan membukakan pintu si tamu tersebut.

Saya membuat pilihan dan pertanyaan di Instagram pribadi saya, dengan pertanyaan “mengapa seseorang merusak suatu hubungan?” dapat di simpulkan hasil jawaban dari pertanyaan yang saya buat bahwa yang salah lebih banyak yang berpendapat yaitu salah pasangan kita karena alasan pasangan kita yang gatel ke orang lain, pasangan kita membukakan pintu kepada orang ke-3 tersebut, jenuh atau iseng, ada yang tidak bisa didapat dari pasangan. Kalau yang berpendapat bahwa PHO yang salah karena memang niat untuk merebut dan menghancurkan, kesepian ingin mendapat perhatian dari orang lain dan memang suatu kebiasaan atau kegemaran.

 

Mungkin banyak yang menganggap kehadirannya orang ketiga adalah petaka dalam suatu hubungan yang saling mencintai. Pokoknya, apapun yang merusak hubungan itu semuanya adalah kesalahan orang ketiga. Terkadang, kita tidak mau berkaca kepada situasi. Karena pada dasarnya otak kita sudah menghakimi berbagai hal negatif kepada orang ketiga. Apapun itu, tanpa melihat dari berbagai sisi dan tidak mau menerima alasan yang dilontarkan.

Memang tidak bisa dipungkiri kalau ada orang-orang yang senang menjadi pihak ketiga tanpa tujuan yang jelas. Dengan alasan, hanya untuk kesenangan, menikmati hidup, mencari tantangan, atau hanya untuk main-main. Dengan alasan itu, kita sah-sah saja untuk menghakimi kalau perilaku dan sikap mereka negatif. Maksudnya, benar-benar hanya ingin merusak hubungan orang. Atau ada tujuan khusus, bisa saja pihak ketiga ini adalah pihak yang jadi korban karena hubungan kita. Tanpa sengaja dan kita sadar, Semua itu mungkin saja terjadi. Apapun bisa dilakukan orang yang sakit hati.

Tapi, terkadang kita harus meliat dari sudut pandang lain. Misalnya, si orang ketiga adalah orang dari masa lalu pasangan kamu. Yang belakangan baru kamu tau kalo si orang ketiga ini sebelumnya adalah pacar pasangan kamu. Berhubung, misalnya; kamu dan pasangan kamu adalah hasil perjodohan para orang tua yang kalian tidak bisa tolak bagaimanapun alasannya. Jadilah si orang ketiga ini yang mundur. Apa pernah terpikir sama kamu kalau sebenarnya yang menjadi korban dalam hubungan tersebut adalah si pacar pasangan kamu sekarang yang hitungannya sekarang adalah orang ketiga? Apa pernah terpikir kalo posisi dia sangat sulit? Dan saat pasangan kamu ini nggak siap untuk meninggalkan si pacarnya ini, jadilah mereka berhubungan di belakang kamu. Bisakah kamu menyalahkan orang ketiga sementara kita tidak tahu perasaan dia yang sebenarnya? Perubahan hidupnya setelah hubungannya dengan pasangan kamu sekarang beralih konteks dari pacar resmi jadi "selingkuhan"?

Di kasus lain, misalnya pasangan kamu ini pernah nolong seseorang dan orang yang ditolong ini merasa punya hutang budi atau bahkan hutang nyawa dengan pasangan kamu. Yang pada akhirnya, orang itu rela ngasih apapun untuk membalas budi. Tapi, lama kelamaan orang ini merasa tergantung sama pasangan kamu atau bahkan bisa jadi, jatuh cinta. Sedangkan orang ini tau kalo pasangan kamu udah punya pacar; yaitu kamu, dan bahkan kenal juga. Lalu pasangan kamu juga merasakan hal yang sama. Apakah orang ini salah sebagai orang ketiga? Bisa dibilang salah ya iya. Karena posisinya si orang ketiga ini udah tau kalo pasangan kamu ini udah punya pacar. Untuk sekedar balas budi, seharusnya si orang ketiga ini bisa mengatur perasaannya dan memposisikan dirinya sebagai kamu sebagai bentuk pengendalian perasaannya. Tapi tidak sepenuhnya salah. Karena mungkin dia nggak bermaksud seperti itu. Semua bisa karena terbiasa kan? Perasaan itu ada tanpa bisa dicegah. Tapi, selalu ada pilihan untuk setiap permasalahan.

Kita selalu tidak pernah tahu apa yang ada di pikiran seseorang, apa yang ada di hati orang lain. Yang kita bisa adalah menebak. Mengira-ngira apa yang mungkin di pikirkan orang lain terhadap suatu hal, terhadap orang lain, atau bahkan terhadap sikap dan kepribadian yang melekat di diri kita. Perasaan datang tanpa bisa dicegah. Kita tidah tahu kapan datangnya atau bakalan dateng untuk orang yang tepat. Kalo kata temen saya, kadang perasaan itu hadir di saat yang tepat pada orang yang salah. Bisa juga, hadir di saat yang salah untuk orang yang tepat. Tapi, kita bisa memilih mana yang baik dan mana yang benar. Begitu juga dengan apa yang terjadi sama orang ketiga. Jadi, kita nggak bisa seenaknya aja menghakimi kalo semua orang yang menjadi orang ketiga dalam suatu hubungan itu selalu salah. Karena kita nggak ada dalam situasi yang mereka hadapi.

Yang menjadi orang ketiga pun belum tentu bersenang-senang di atas penderitaan kamu. Karena pada dasarnya mereka juga bingung berada dalam ketidakpastian. Berada dalam tekanan karena capek menanggung penilaian negatif orang lain tentang mereka. Padahal mereka nggak mengharapkan untuk tiba-tiba menjadi orang ketiga.Belum tentu dia akan merebut pasangan kamu. Karena memutuskan itu butuh keyakinan hati dan kejernihan pikiran yang bergantung pada waktu. Jadi, yang kamu perlu lakukan adalah mawas diri. Menempatkan diri kamu pada situasi orang lain bisa membantu untuk menerima sikap dan pilihan hidup orang tersebut.

Jadi, apakah menjadi orang ketiga selalu salah?

Balik lagi ke kalian masing-masing. Karena tiap orang punya sikap masing-masing dalam memutuskan suatu perkara. Dengan lebih baik kita semua harus saling memahami perasaan satu sama lain agar tidak adanya kesalahpahaman.

Faktor yang membuat orang ketiga ingin merusak hubungan seseorang:

  1. Sakit hati karena diputusin atau dikhianatin
    Sakit hati bisa menjadi faktor yang paling mendasar seseorang untuk ngelakuin hal yang nekat, termasuk buat ngerusak hubungan orang lain. Biasanya sih lebih sering untuk mereka yang pernah dikhianatin sama pacarnya, entah diselingkuhin atau yang sampe detik ini belum bisa terima kalo diputusin sama pacarnya yang ujung-ujungnya nyimpen dendam gitu sampai tidak mau melihat mantannya itu bahagia sama orang lain.
  2. Ditolak
    Tidak selamanya apa yang kita perjuangkan bisa kita dapatkan dan tidak selamanya yang namanya jatuh cinta itu indah, ada masanya akan merasakan sakit hati ketika jatuh cinta dan itu bisa dirasakan ketika cinta ditolak. Lalu dia mencari cara untuk memiliki teman curhat yang bisa jadi itu adalah pacar kita. Karena terlalu nyaman curhat terjadilah prasangka buruk terhadap orang yang datang disuatu hubungan kita.
  3. Menyukai tantangan
    Hidup di dunia ini banyak tantangan.Tidak jauh dari hal percintaan, hal ini khusus mereka yang suka bermain dengan hati dan perasaan. Orang yang menyukai tantangan biasanya hanya suka prosesnya bukan tujuan dari prosesnya (menemukan cinta sejati) dan orang seperti ini harus diwaspadai karena mereka benar-benar tidak takut untuk ngambil resiko. Tidak heran banyak cewek yang gampang suka dengan tipe cowok ini karena perjuangannya yang luar biasa, tapi banyak juga yang berakhir dengan sakit hati karena ditinggal pergi sama cowok tipe ini begitu dia sudah menemukan ‘tantangan’ baru lagi.
  4. Friend zone
    Friend zone atau area pertemanan adalah tembok pembatas yang susah untuk dihancurinnya. Karena memang biasanya orang yang sudahberteman lama akan lebih enak menganggap kita ini tetap sebagai seorang teman dibandingkan untuk jadi seorang pacar sebesar apapun cinta kita itu. Friend zone itu emang paling rumit ya kalo disandingkan dengan masalah percintaan.
  5. Tidak punya malu
    Untuk yang satu ini sebenernya buat mereka yang udah berusaha ngerusak hubungan orang lain dan tidak pernah berhasil tapi masih terus berusaha pantang menyerah biar dibilang pejuang cinta. Padahal sih emang nggak punya malu.
  6. Cinta yang sudah mentok
    Sebenernya sih kalo yang ini lebih cocok buat mereka yang udah putus sama mantannya lebih dari setahun tapi tetep ngejar-ngejar terus sampe-sampe berusaha buat ngerusak hubungan mantannya itu dengan pacar barunya.
  7. Terlalu terobsesi
    Orang yang sudah terlalu terobsesi adalah orang yang malah membahayakan karena dia akan memperjuangkan terus apa yang dia inginkan. Maka hati-hatilah terhadap orang yang seperti ini karena secara tidak langsung dia sama seperti psikopat. Apalagi jika dia terlalu terobsesi mengejar. Biasanya jika terlalu terobsesi tapi malah gagal diraih maka yang ada hanya rasa napsu yang bersifat negative yang muncul, seperti napsu secara 'seksual' misalnya.

Mengapa kita tidak usah menjadi perusak hubungan orang atau orang ketiga?

Dalam kehidupan percintaan, terkadang kita dihadapkan pada berbagai pilihan. Setiap liku perjalanan asmara punya tantangannya sendiri. Namun ada satu dilema yang selalu menjadi inceran bagi semua pasangan di dunia yaitu: orang ketiga.

Menjadi orang ketiga bukanlah hal yang patut dibanggakan. Dan sangat mudah bagi kita untuk menghakimi orang lain, sampai ketika kita sendiri yang berada dalam posisi mereka.

Namun, berhentilah ganggu hubungan orang, jangan mau menjadi orang ketiga.

Kita semua tahu bahwa berhenti menaruh rasa kepada seseorang yang sudah jadi milik orang lain memang tak mudah. Tidak seperti membalik telapak tangan. Lebih lagi jika orang itu juga menghampirimu dengan sadar, dengan penuh kesengajaan yang bisa melukai kalian semua. Tetapi apabila kamu pikir, terlalu banyak pil pahit yang harus kamu telan saat memutuskan untuk menjadi orang ketiga.

Sadarlah, semua impian dan janji manis itu semu. Segala yang dia tawarkan padamu juga pernah diberikan kepada pasangannya.

Seberapa yakin kamu akan keberhasilan sebuah hubungan hasil merusak hati orang lain ini? Bayangan dan impian seperti apa yang bisa membuatmu tega mengoyak-koyak impian orang lain sampai seperti ini. Tak pernah kah terbayang kalau hal itu terjadi pada dirimu juga?

Kalau pun akhirnya kamu berhasil merebut dia dari pasangannya, lambat laun rasa takut dan curiga akan menjadi momok bagi dirimu sendiri. Tak mustahil bagimu untuk mulai membayangkan berbagai skenario buruk yang dapat merusak hubunganmu dengannya.

Semua karena kamu tahu benar bahwa itu bisa terjadi. Dan kamu tahu benar karena kamu pernah melakukannya demi merebut dia dari tambatan hatinya.

Orang-orang tidak akan peduli dengan cerita sebenarnya, cap perebut pasangan orang akan selalu menghantuimu.

Apapun cerita sebenarnya, bagaimana pun kondisi maupun perasaanmu, jangan terlalu berharap akan ada yang bersimpati padamu. Bersikukuh merebut seseorang dari pasangannya hanya akan dicap kotor, perebut pasangan orang, dan berbagai julukan mengerikan lainnya.

Kemana pun kamu pergi, bagaimana pun jalan nasibmu nanti, julukan buruk itu akan terus melekat bagai bekas luka. Semua gunjingan itu tak akan cepat berlalu, dan rasanya pedih ketika kamu tahu bahwa sebenarnya itu semua bukan semata-mata salahmu.

Yang lebih pilu, tanpa sadar kamu akan memandang rendah harga dirimu sendiri hingga sudi jadi roda ketiga.

Mungkin pendapat orang lain tidak seberapa penting bagimu. Mungkin kamu pikir bisa bersamanya setara dengan mendapatkannya. Tetapi sadarkah bahwa secara tidak langsung kamu telah gagal menghormati dirimu sendiri? Ini yang memilukan, kamu sendiri menganggap dirimu begitu tak berarti sampai harus mengambil hak milik orang lain.

Kamu merasa tidak bisa mencapai cinta tanpa menjadi perusak hubungan orang lain, betapa menyedihkannya hal itu? Padahal kamu begitu berharga. Kamu punya harkat dan martabat yang patut dihormati, dan menjadi orang ketiga hanya akan mensabotase penghargaanmu terhadap diri sendiri.

Dunia tidak sesempit itu, Masih banyak orang lain yang lebih berhak mendapatkanmu.

Mengapa harus dia? Mengapa harus seseorang yang telah menjadi milik pihak lain. Mengapa harus mencurinya dari sisi orang yang telah memperjuangkannya selama ini? Kamu tidak perlu seputus asa itu. Kamu punya banyak potensi yang menjadikanmu bisa mendapatkan orang-orang lain yang lebih baik tanpa perlu menghancurkan hati siapa pun.

Masih banyak hati tak bertuan yang bisa kamu pikat. Kamu pun bisa menjalin cinta indah tanpa membuat hati orang lain patah. Ada banyak kesempatan manis menantimu jika kamu mau. Dan kamu bisa, kamu harus yakini itu.

Kuatkan dirimu, yakin kamu bisa lepas dari jerat cintanya.

Tentu, pasti ada pikiran-pikiran tak logis yang merubungimu. Seolah-olah menjadi orang ketiga adalah harapan terakhir bagimu. Bayangan bahwa kamu tak akan bisa hidup jika tidak dengannya mungkin menghampiri. Tetapi ini semua hanya soal pilihan dan tekad.

Hidup ini salah satu jalan manusia untuk belajar mengikhlaskan, dan orang-orang yang sabar akan mendapatkan imbalannya. Jodoh yang baik, cinta yang suci, hati yang bersih. Jika kamu percaya dan berusaha, maka jalan yang terang akan ditunjukkan kepadamu. Kamu bisa melewati ini.

 

 

Ditulis oleh Suaibatul Aslamiyyah

Mahasiswa London School of Public Relation.