Cara Mudah Melepas Stress Dengan Menulis

Oky
Oky

Cara Mudah Melepas Stress Dengan Menulis Julie O’Boyle (https://blog.freepeople.com/2015/01/just-write-its-time-to-start-a-journal)

Winnetnews.com - Semua orang pasti memiliki keluh kesah yang perlu dikeluarkan dan tanpa orang sadari bahwa dengan menulis eskpresif dapat membuat perasaan kita menjadi lebih baik dan tenang. Menulis ekspresif adalah salah satu cara yang mudah dan murah untuk mengurangi stress atau depresi.

Apa itu Menulis Ekspresif?

Menulis Ekspresif adalah kegiatan menuliskan isi pikiran dan perasaan kita yang paling dalam secara pribadi dan emosional tanpa memperhatikan bentuk penulisan seperti ejaan, tata bahasa dan aturan menulis lainnya.

Hubungan antara menulis ekspresif dan kesehatan ditemukan oleh Dr. James Pennebaker, guru besar psikologi University of Texas, Austin. Penelitian pertama kali dilakukan pada akhir 1980-an, Pennebaker telah melakukan penelitian tentang kegiatan menulis selama bertahun-tahun. Mengutip dari bukunya yang berjudul Writing To Heal, James Pennebaker mengatakan

“Orang yang terlibat dalam laporan menulis ekspresif merasa lebih bahagia dan berkurang dampak negatif daripada sebelum menulis.”
Selain itu, orang-orang yang memiliki gejala depresi, kecemasan, dan gangguan kesehatan mental lainnya juga berkurang dalam beberapa minggu dan bulan setelah menulis tentang gejolak emosi.

Menurut Karen Baikie, yaitu seorang psikolog klinis University New South Wales, menulis peristiwa traumatis, penuh stres dan peristiwa emosional dapat meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Dalam studinya, Baikie meminta peserta untuk menulis 3-5 peristiwa yang menegangkan selama 15-20 menit.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka yang menulisnya mengalami peningkatan kesehatan fisik dan mental secara signifikan dibandingkan dengan mereka yang menulis topik netral.

Cara Menulis Ekspresif

Menulis eskpresif sangatlah mudah dan tidak memerlukan modal banyak atau teknik yang sulit. Hal-hal yang dapat kamu lakukan saat menulis espresif adalah sebagai berikut:

  1. Mempersiapkan waktu dan tempat yang bebas dari gangguan
    Pastikan pada saat kamu ingin melakukan menulis ekspresif adalah waktu dan tempat dimana kamu merasa nyaman, tenang, dan tidak ada gangguan. Hal tersebut  dapat membuat pikiranmu lebih jernih dan fokus terhadap tulisan yang akan kamu tulis.
  2. Menulis dengan jujur dan lebih terbuka dari perasaan terdalam
    Tulislah semua keluh kesah dan beban yang kamu alami akhir-akhir ini yang menggagu pikiran dan beban hatimu.
  3. Menulis selama 20 menit sampai 4 hari berturut-turut
    Menurut John F Evans, tulislah minimal 20 menit perhari selama 4 hari berturut-turut.
  4. Tidak perlu mempedulikan ejaan, tata bahasa dan aturan tulisan.
    Tulislah semua apa ingin kamu tulis tanpa pedulikan ejaan, tata bahasa, dan aturan tulisan. Jika terjadi kesalahan tidak perlu dihapus tapi tetap lanjutkanlah menulis.
  5. Refleksikan apa yang sudah ditulis
    Setelah kamu puas menulis, lakukanlah refleksi diri. Seperti apa yang harus diperbaiki, diperhatikan, atau bagaimana perilaku yang seharusnya.

Jangan memaksakan untuk tetap menulis jika kamu merasa semakin tertekan karena mengingat kembali trauma atau kejadian yang kamu alami. Tulislah sesuatu yang masih bisa kamu tangani. Kamu juga bisa berbagi tulisanmu ke orang lain dan mungkin dapat menginspirasi mereka untuk melakukan hal yang lebih baik.

Apa Manfaat dari Menulis Ekspresif?

Banyak manfaat yang di dapat setelah menulis ekspresif. Seperti hal-hal berikut ini:

  1. Mengurangi stress
    Setelah meluapkan emosimu kedalam tulisan, perasaanmu akan lebih baik dan lega karena tidak ada lagi yang kamu pendam. Sehingga itu dapat meringankan beban pikiran dan hati.
  2. Menjadi lebih bersyukur dan lebih jujur terhadap diri sendiri.
    Kamu bisa melakukan refleksi diri setelah menulis ekspresif. Dengan begitu kamu akan tau mana yang harus diperbaiki untuk menjadi lebih baik. Menulis ekspresif juga kamu lakukan hanya untuk dirimu sendiri dan dengan begitu kamu akan lebih jujur terhadap dirimu sendiri.
  3. Menjernihkan pikiran dan perasaan
    Ketika kamu merasa terpuruk kamu, kamu bisa menuangkannya ke dalam tulisan. Dengan begitu kamu bisa mengeluarkan energi-energi negatif dan membuat beban yang kamu rasakan berkurang
  4. Dapat merubah diri menjadi lebih baik
    Jika kamu membaca ulang apa yang sudah kamu tulis, kamu akan tau apa yang harus kamu lakukan untuk menjadi lebih baik.
  5. Melatih skill menulis
    Dengan menulis ekspresif secara rutin, selain membuat pikiran dan perasaanmu menjadi jernih, skill menulismu juga akan bertambah bagus.
  6. Bisa lebih ikhlas dan memaafkan
    Menulis bisa menjadi salah satu cara untuk melepas kesedihan atau beban pikiran dan perasaan saat kamu kehilangan orang yang sangat berharga dalam hidup kamu. Dengan menulis kamu dapat lebih ikhlas, merelakan, dan memaafkan orang tersebut. Setelah itu kamu juga dapat melepas rindu dengan menulis ulang kenangan-kenangan yang pernah kamu alami bersama orang tersebut.

Itulah manfaat-manfaat yang didapat setelah menulis eskpresif, banyak sekali bukan?

Foto: Republika/Yogi Ardhi

 

Selain itu ternyata ada juga seorang tokoh besar di Indonesia yang pernah menulis eskpresif sebagai salah satu cara untuk mengurangi stress atau depresi. Beliau adalah bapak B.J. Habibie. Buku Habibie dan Ainun sebenarnya hanyalah tulisan ekspresif yang ditulis oleh bapak B.J. Habibie ketika beliau kehilangan istri tercintanya, ibu Hasri Ainun Besari.

“Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian tau... dua minggu setelah ditinggalkan ibu... suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu ‘Ainun... Ainun... Ainun...’ saya mencari ibu di semua sudut rumah.” kata Presiden ketiga Republik Indonesia, B.J. Habibie ketika mengunjungi kantor manajemen Garuda Indonesia di Jakarta pada awal Januari 2012 lalu.

Kemudian para dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul untuk membantu bapak Habibie pada waktu itu dan mengatakan bahwa jika bapak Habibie tidak segera ditolong ia bisa meninggal dalam waktu tiga bulan. Lalu para dokter memberi tiga opsi pilihan yaitu pertama bapak Habibie harus dirawat dan diberi obat khusus, kedua para dokter akan mengunjungi rumah bapak Habibie dan harus berkonsultasi terus-menerus, dan yang ketiga bapak Habibie disuruh menuliskan apa saja tentang ibu Ainun, anggap ibu Ainun masih hidup. Akhirnya beliau memilih opsi ketiga dan menulis sesuatu yang berisikan kebersamaan yang beliau alami selama 48 tahun hidupnya dengan ibu Ainun.

“Saya tulis itu dalam dua setengah bulan. Setelah dua setengah bulan lalu sudah selesai, kok saya normal. Tidak mendapati depresi setiap hari… yah hanya kadang-kadang masih.” kata bapak B.J. Habibie di dalam sebuah wawancara pada tahun 2014 dan sampai akhirnya, ia sembuh.

Menemukan bapak Habibie menghasilkan banyak cerita tentang perjalanan hidupnya bersama ibu Ainun, seseorang menyarankan agar catatan itu diterbitkan di untuk jadi sebuah buku. Lalu beliau setuju dengan persyaratan tidak boleh diganti-ganti, bahasanya pun juga. Kemudian jadilah buku, Habibie dan Ainun.

Dari hanya sebuah tulisan ekspresif yang di tulis secara pribadi oleh bapak B.J. Habibie ini ternyata bisa menginspirasi banyak orang. Dokter mengatakkan kepada bapak Habibie bahwa oang yang mengalami hal seperti ini bukan hanya bapak Habibie saja tapi dialami banyak orang bisa antara anak dan ibu, antara suami dan istri, atau bisa antara sahabat.

Menurut dari beberapa orang yang telah menulis ekspresif untuk mengurangi rasa stress mereka sangatlah berpengaruh. Beban pikiran dan perasaan mereka menjadi berkurang dan menambah aura positif dalam diri mereka. Berikut adalah alasan mereka mengapa lebih memilih menulis ekspresif untuk mengurangi rasa stress:

“Ada beberapa hal yang saya tidak bisa ceritakan atau belum sempat diceritakan ke orang yang saya percaya. Menulis adalah salah satu cara untuk melepaskan keluh kesah saya. Saya bisa menulis di buku atau simple-nya di handphone yang selalu saya bawa. Dan dengan menulis, saya pribadi merasakan ada sedikit beban terlepas, karena sudah dituangkan dalam tulisan saya.” –Stefania, seorang mahasiswi.

“Dengan menulis aku bisa paham perasaan aku sendiri, dengan mencurahkan isi hati berbentuk tulisan dan ketika aku membaca kembali tulisan itu, aku paham harus berbuat apa dan itu membuatku lebih baik.” –Dera, seorang photographer.

“Ga semua hal bisa gue ceritain ke orang lain, walaupun itu keluarga atau sahabat sendiri. Dengan menulis, gue lebih merasa lega dan beban gue sedikit hilang.” –Savera, seorang mahasiswi.

“Gue itu sangat overthinking dan takut kalau mau ceritain hal ke orang-orang walaupun udah deket sama gue. Entah takut mereka bosen dengernya atau itu sesuatu yang agak susah dijelasin. Biasanya kalau udah overthinking gara-gara masalah, bikin kepala penuh dan udah bikin mau nangis, gue tulis di notes handphone semuanya sampai lega. Biasanya tulisan ini buat dibaca lagi pas masalah lain dateng, untuk alat bantu motivasi biar bisa lebih sabar dan gak terlalu mikirin gitu. Ya sejauh ini menulis itu bener-bener buat gue gak nunjukkin sikap overthinking depan orang lain.” –Okvand, seorang tour leader.

“Gue tuh orang yang think too much, dan talk too much parah. Ada di satu sisi ketika gue berada di my lowest point, rasa overthinking dan insecure gue mulai muncul dan kalo udah begitu susah banget buat ceritain hal itu ke orang orang terdekat bahkan hal yang paling parah adalah gue takut banget ngebebanin mereka dan jadinya bosen untuk dengerin cerita gue. Kalo udah kayak gitu solusi nya ya cuma 2 yang pertama berdoa, dan yang kedua ya, nulis. Semua emosi, beban pikiran, beban masalah gue tuang kedalam tulisan itu dan langsung dibayar rasanya tuh lega banget. Mungkin sejauh ini, cara itu berhasil bahkan bisa jadi kilas balik, tolak ukur, motivasi, dan jadi makin bersyukur aja sih ketika gue ngalamin hal-hal lainnya. Karena gue sadar, kita ga akan pernah bisa selamanya bergantung sama orang lain.” –Galuh, seorang mahasiswi

Teman-teman yang sudah pernah menulis ekspresif merasa bebannya berkurang setelah melakukannya. Mereka merasa lega dan terlepas dari beban sehingga stress pun berkurang. Saya pribadi juga ikut menulis ekspresif. Saat saya kehilangan mendiang Oma saya, kesedihan yang saya rasa sangatlah besar karena beliau adalah salah satu orang terdekat saya. Lalu saya menulis apa saja yang saya ingat ketika saya bersama beliau untuk menghilangkan kesedihan dan rasa rindu kepada mendiang Oma saya. Akhirnya, saya bisa mengikhlaskan dan mengenang beliau di dalam tulisan yang saya tulis.

Selain itu Dr. Octaviani I. Ranakusuma, M.Si., Psi, seorang Dosen sekaligus Dekan Fakultas Psikologi di salah satu Universitas yang ada di Jakarta mengatakan “Menulis ekspresif adalah menulis yang bertujuan untuk mengekspresikan perasaan si penulis. Terkadang tulisan tersebut tidak dipublikasikan kepada orang banyak dan juga alurnya tidak menentu. Menulis ekspresif berpengaruh untuk mengurangi stress karena dengan menulis, seseorang dapat mengekspresikan perasaannya.”

Beliau juga berpendapat bahwa ia setuju dengan menulis ekspresif karena menulis ekspresif memiliki banyak manfaat.

“Banyak studi yang menyatakan menulis ekspresif sebagai terapetik. Tujuannya adalah untuk mengeluarkan dan menyalurkan perasaan atau emosi negatif dalam diri yang berbentuk tulisan yang akan menyebabkan individu tersebut menjadi lebih tenang. Ada seseorang yang tidak bisa mengendalikan emosi nya dan susah untuk diobati, namun dokter menyarankan seseorang tersebut untuk menyalurkan emosi nya melalui tulisan. Tulisan tersebut bisa berupa rasa amarahnya karena tidak semua tulisan tersebut dipublikasikan, mungkin hanya disimpan untuk dirinya sendiri.” ujar Ibu Octa tentang apa saja manfaat dari menulis ekspresif.

Dilain sisi menulis eskpresif ternyata juga menjadi hambatan bagi orang-orang tertentu. Ibu Octa mengatakan “Tapi tidak semua orang bisa menulis, suka menulis dan mengekspresikan perasaan mereka melalui tulisan. Untuk orang yang yang tidak suka menulis, mereka menganggap hal tersebut sebagai beban atau tugas yang berat.”

Foto: www.burrelleducation.com

Kesimpulannya, menulis ekspresif adalah menulis tentang perasaan atau emosi dari hati yang terdalam tanpa memperhatikan bentuk penulisan. Dengan adanya pembuktian dari orang-orang dan para ahli tentang menulis ekspresif, ternyata menulis ekspresif terbukti dapat mengurangi stress, depresi, beban pikiran atau perasaan, dan gangguan kesehatan mental lainnya.

Menulis ekspresif termasuk cara yang sangat mudah untuk dilakukan. Disaat kamu merasa dititik paling bawah dan tidak tahu ingin bercerita kepada siapa, kamu bisa mencoba untuk memulai menulis ekspresif karena mungkin setelah itu kamu baru sadar bahwa kamu sanggup melewati masa yang ada di titik itu dan dapat menemukan jawaban-jawaban yang selama ini kamu cari.

Tetapi pada dasarnya itu semua kembali dengan dirimu sendiri untuk memilih mencoba menulis ekspresif atau tidak. Intinya jangan mudah menyerah dalam hidup karena hidup itu memang penuh perjuangan dan kamu pasti bisa menjalaninya.

 

Ditulis oleh Fiorence Hadiwana

Mahasiswi London School of Public Relation Semester 3