COVID-19 Makin Ganas, Hati-hati Penularan Lewat Rongga Mulut
Tenaga kesehatan menjemur pelindung wajah
Kesehatan

COVID-19 Makin Ganas, Hati-hati Penularan Lewat Rongga Mulut

Sabtu, 21 Nov 2020 | 06:28 | Rusmanto

Winnetnews.com -  Total kasus positif COVID-19 di Indonesia telah melebihi angka 470 ribu, dengan kematian lebih dari 15.000 orang, sebuah angka tertinggi di Asia Tenggara. Di level global, COVID-19 telah menembus 55 juta kasus, dengan kematian 1,3 juta.

Belum ada tanda virus ini akan segera terkendali.

Secara umum WHO menyatakan 44% total kasus COVID-19 dapat disebabkan oleh penularan orang-orang tidak bergejala (silent spreader).

Dalam survei Nielsen dan UNICEF terbaru, 71% dari 2000 responden di enam kota besar di Indonesia, mengira bahwa virus corona dapat tertular hanya melalui batuk atau bersin karena virus dapat bersarang di saluran pernafasan.

Padahal, berbicara atau bernafas melalui mulut tanpa menggunakan masker juga berpotensi menularkan virus corona.

Penularan via mulut

Selain di saluran pernafasan, beberapa riset menunjukkan virus corona ada di mulut orang terinfeksi.

Beberapa lokasi di rongga mulut memiliki reseptor (ACE-2, CD 147), dan enzim TMPRSS2 tempat menempelnya virus tersebut.

Reseptor adalah struktur protein khusus yang berada dalam membran sel dan dapat menempel pada molekul khusus. Protein ini bertindak seperti pintu masuk ke dalam sel manusia.

Orang yang terinfeksi dapat menyebarkan virus melalui udara yaitu melalui aerosol (droplet mikro) di ruangan tertutup. Virus dapat bertahan tiga jam di udara.

Karena virus ini dapat mencapai jarak yang lebih jauh (radius 6 meter) dibandingkan dengan droplet biasa, maka kita perlu lebih memperhatikan potensi penyebaran virus tersebut antarorang, salah satunya melalui rongga mulut.

Untuk bisa mencegah penularan virus, kita perlu memahami proses penularan virus melalui rongga mulut.

Virus masuk melalui kelenjar liur. Virus corona dapat masuk ke dalam sel inang dengan menggunakan reseptor ACE-2 sebagai pintu masuk dengan mengikat protein spike ke reseptor tersebut, serta enzim TMPRSS2 untuk menggabungkan membrannya dengan membran sel inang dan menyelinap ke dalam.

Virus corona ditemukan dalam jumlah banyak, bahkan reseptor ACE-2 lebih banyak ditemukan di kelenjar liur dibandingkan di paru-paru.

Dalam air liur, terdapat virus 1,6 x103 kopi per mililiter dan dapat terdeteksi melalui sampel air liur pada awal gejala infeksi virus. Bahkan sebelum hasil tes swab tenggorokan dinyatakan positif. Hal ini menunjukkan tingginya potensi penularan virus corona melalui air liur.

Virus juga ada pada mukosa lidah dan pipi. Permukaan lidah bagian atas berpotensi menjadi tempat penyimpanan (reservoir) virus corona. Beberapa laporan menunjukkan pada seseorang yang terinfeksi COVID-19 ditemukan adanya lapisan plak putih pada permukaan lidahnya.

Virus juga ada pada gusi. Penyakit radang gusi (gingivitis) disebabkan oleh plak yang menempel di permukaan leher gigi. Jika berlanjut akan menjadi penyakit radang gusi lanjut (periodontitis) yang membentuk kantung gusi. Ini merupakan reservoir virus corona.

Jumlah reseptor CD 147 pada sel gusi meningkat pada orang yang menderita periodontitis. Semakin dalam kantung gusi dan semakin berat kondisi periodontitis seseorang, maka semakin banyak jumlah virus di rongga mulut yang dapat ditularkan seseorang.

Selain itu kondisi radang gusi juga memperburuk kondisi orang itu sendiri. Karena semakin parah penyakit periodontitis, maka gejala COVID-19 juga semakin parah pada diri orang tersebut.

TAGS:
kesehatanCOVID-19coronavirusrongga mulut

RELATED STORIES

Loading interface...