COVID-19 Varian Omicron Meningkat, Jangan Gunakan Masker Seperti Ini

Rusmanto

Dipublikasikan 4 bulan yang lalu • Bacaan 3 Menit

COVID-19 Varian Omicron Meningkat, Jangan Gunakan Masker Seperti Ini
detikcom
Winnetnews.com -  Kasus Omicron di Indonesia terus meningkat, kini jumlahnya mencapai 414 orang. Kementerian Kesehatan RI mengumumkan penambahan kasus COVID-19 ini mencakup 31 kasus transmisi lokal.

Kasus Omicron di Indonesia sejauh ini masih didominasi imported cases, terutama dari Turki dan Arab Saudi. Seluruh kasus varian Omicron yang ditemukan umumnya sudah divaksinasi lengkap.

Untuk mencegah terpapar dari varian baru COVID-19, masyarakat harus tetap waspada dan mematuhi protokol kesehatan. Berikut ini jenis masker yang tak dianjurkan sebagai upaya pencegahan terinfeksi varian Omicron.

Masker katup

Ahli pernapasan dari RS Paru Persahabatan dr Agus Dwi Susanto, Sp P(K) mengatakan masker katup berbahaya jika digunakan oleh masyarakat.

"Masker katup itu hembusan napas dari pemakai keluar, sehingga kalau memakai masker katup itu sakit COVID-19, maka udara yang keluar dari masker membahayakan sekitarnya, jadi tidak disarankan," ujar dr Agus Dwi Susanto, Sp P(K), kepada detikcom, Sabtu (27/11/2021).

Masker kain tak berjenis katun

Masker kain dengan jenis bahan di luar katun tak disarankan oleh dokter. Masker kain yang aman untuk dipakai sehari-hari setidaknya memiliki tiga lapis berbahan katun, sebab mempunyai pori-pori yang rapat.

Masker kain yang menggunakan bahan lain umumnya tidak memiliki pori-pori serapat kain katun. Ini akan berbahaya bagi pengguna.

"Karena setiap lekukan itu kan bisa menampung kuman dari luar, makanya kebersihannya harus dijaga," dokter spesialis paru RS Persahabatan, dr Diah Handayani, SpP.

Masker buff

Ternyata masker buff juga tak disarankan lho. University of Duke melakukan analisis terkait seberapa efektif jenis masker melindungi diri dari paparan COVID-19.

Hasil dari studi tersebut mereka menunjukkan bahwa masker buff yang sering dipakai oleh pengendara motor adalah jenis masker yang paling tak efektif, lantaran tak bisa menahan droplet ketika berbicara.

"Kami menghubungkan ini dengan...tekstil memecah partikel-partikel besar menjadi banyak partikel kecil," jelas dr Martin Fischer, ahli kimia, fisikawan dan penulis studi, dikutip dari laman CNBC.

Para ahli pun menyebut memakai masker buff dapat lebih berisiko tinggi menularkan COVID-19 karena lebih banyak droplet yang tak tersaring. Bahkan, bahan masker buff pun disebut dapat memecah droplet menjadi partikel lebih kecil.

Masker yang disarankan

Saat ini tak sulit untuk menemukan berbagai jenis masker yang dapat digunakan. Tetapi perlu diingat terdapat beberapa jenis masker yang disarankan. Ini beberapa jenis masker yang disarankan ahli untuk menangkal penyebaran Covid-19 termasuk dalam menangkal Omicron:

1. Masker kain

Selama masker kain memiliki ukuran yang pas dan terbuat dari bahan yang menyaring partikel kecil, masker tersebut akan memberikan perlindungan.

Menurut CDPH, masker kain yang efektif memiliki dua lapisan kapas yang ditenun rapat dan lapisan ketiga kain non-anyaman. Lapisan ketiga tersebut bisa berupa sisipan filter masker atau kain sintetis seperti polipropilen.

Menurut Centers for Disease Control (CDC) menggunakan masker biasa atau masker kain tetap bisa melindungi diri dari virus Covid-19 asalkan memenuhi standarisasi berikut:

  • Memiliki dua lapisan atau lebih bahan
  • Dapat mencakup hidung dan mulut
  • Pas di wajah tanpa ada celah
  • Memiliki kawat hidung untuk mencegah udara yang masuk dari bagian atas masker.

2. Masker bedah

Masker bedah adalah masker wajah sekali pakai dan longgar yang menutupi hidung, mulut, dan dagu yang biasanya digunakan untuk:

  • Melindungi pemakainya dari semprotan, percikan, dan tetesan partikel besar
  • Mencegah transmisi sekresi pernapasan yang berpotensi menular dari pemakainya ke orang lain

Masker bedah dapat bervariasi dalam desain, tetapi masker ini biasanya berbentuk datar dan persegi panjang dengan lipatan. Bagian atas masker berisi strip logam yang dapat dibentuk ke hidung.

3. Masker N95

Menurut National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) individu dapat memilih untuk menggunakan masker N95 sekali pakai. Tetapi N95 yang berlabel khusus "bedah" harus diprioritaskan untuk petugas kesehatan.

Adapun yang perlu diketahui dalam penggunaan masker N95:

  • Dapat menyaring hingga 95% partikel di udara
  • Segel erat ke wajah saat dipasang dengan benar
  • Karena respirator atau masker N95 membentuk segel pada wajah, mungkin akan merasa lebih sulit untuk bernapas daripada masker kain.
  • Masker N95 tidak dapat dicuci harus dibuang jika kotor, rusak, atau sulit bernapas
  • Masker N95 cenderung lebih mahal daripada masker

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Sudah Ada 31 Transmisi Lokal Omicron RI, Please Stop Pakai Masker Seperti Ini!"


 

TAGS:

Share This Story

RELATED STORIES

Loading interface...