Cuaca Ekstrem dan Kemarau yang Datang Terlambat Karena Aktivitas MJO, Bahayakah?
Foto: CNN
News

Cuaca Ekstrem dan Kemarau yang Datang Terlambat Karena Aktivitas MJO, Bahayakah?

Selasa, 30 Apr 2019 | 11:35 | Sofia Citradewi

Winnetnews.com - Pola cuaca di Indonesia akhir-akhir ini tak mudah ditebak. Sepanjang 2019, warga sudah merasa aman karena tidak terlalu banyak kasus cuaca ekstrem, bahkan warga mengira kalo sebenarnya musim hujan sudah berlalu. Apalagi, berdasarkan rilisan teranyar Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) beberapa waktu lalu, sebagian wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau pada awal April 2019.

Namun, realita ternyata tidak demikian. Tanda-tanda musim kemarau belum kunjung menampakkan diri. Di Jakarta saja, sepanjang pekan lalu hujan turun hampir setiap hari dengan pola yang hampir sama. Matahari memperlihatkan diri di pagi hari, siang sampai malam giliran hujan yang mengguyur.

image0

"Jadi, kurang lebih sampai seminggu ke depan, kita memang perlu waspada dengan pola di mana pagi bisa cukup terik, tapi bisa mengakibatkan perubahan cuaca di sore hari. Ancaman lain adalah genangan dan juga banjir bandang," jelas Kepala Bidang Humas BMKG Taufan Maulana dikutip dari Liputan6.com, Selasa (30/4/2019).

Cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini memang selaras dengan prediksi BMKG, bahwa potensi hujan lebat untuk periode 29 April-2 Mei 2019 dapat terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua.

Prediksi BMKG untuk hari ini, Selasa (30/4/2019), hujan lebat berpeluang terjadi di Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, dan Papua.

Untuk wilayah Indonesia lain yang juga berpeluang terjadi hujan dengan intensitas lebat disertai angin kencang dan kilat/petir sepanjang Senin di antaranya Aceh, Jawa Barat, Jabodetabek, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Maluku.

Sementara untuk Selasa ini, wilayah yang berpotensi hujan lebat disertai kilat serta petir dan angin kencang meluas ke beberapa wilayah seperti Aceh, Jawa Barat, Jabodetabek, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Maluku.

BMKG menjelaskan, penyebab cuaca ekstrem yang menerpa tanah air belakangan ini disebabkan aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO). MJO merupakan gelombang atmosfer yang membawa massa udara basah.

"MJO yang tumbuh dan berkembang di Samudera Hindia sejak beberapa hari lalu memberikan dampak berupa peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat," ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono R Prabowo, dalam keterangan tertulisnya.

Kendati demikian, BMKG memastikan bahwa fenomena ini adalah sesuatu yang normal atau siklus yang alami, meski cuaca yang dihasilkan tergolong ekstrem. Sehingga, tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan fenomena MJO.

"Dilihat dari aspek iklim, saat ini misalnya wilayah Jabodetabek masih dalam periode akhir musim hujan. Dan dari aspek dinamika atmosfer saat ini di atas wilayah Indonesia sedang ada gelombang atmosfer MJO, gelombang atmosfer dari Samudera Hindia yang membawa banyak uap air, sehingga pertumbuhan awan hujan di Indonesia semakin intens," jelas Taufan.

 

 

TAGS:
cuacaBMKGhujan

RELATED STORIES

Loading interface...