Dampak Overuse Sosial Media Terhadap Generasi Z

Oky
Oky

Dampak Overuse Sosial Media Terhadap Generasi Z sumber foto : istimewa

Winnetnews.com - Di era digital ini semua menjadi serba mudah, karena hadirnya internet pun masyarakat sangat mengandalkan internet untuk mengakses segala macam kebutuhan nya, dari segi pendidikan, bisnis maupun interaksi sosial. Kalau zaman dulu sebelum era digital kita sangat kesusahan untuk berinteraksi antar individu, misalkan kita ingin bertemu dan bermain bersama teman, kita harus langsung mendatangi rumahnya, atau mencoba mengkontak lewat wartel atau warung telepon.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang masalah atau dampak kesehatan mental karena kecanduan bermain sosial media, kita ketahui dulu apa itu Generasi Z. Generasi Z adalah mereka yang lahir di kisaran tahun 1995 sampai dengan tahun ini yaitu 2017. Mereka adalah generasi yang tumbuh di lingkungan dengan perkembangan teknologi, aplikasi canggih dan sosial media yang bisa menjadi tempat bagi mereka berbagi informasi dengan dunia luar.

Connor blackley, pemuda 17 tahun dari Amerika Serikat, mendapuk dirinya sebagai konsultan khusus Generasi Z, yang secara profesional siap membantu perusahaan-perusahaan untuk mengenali para konsumen terbesarnya ini.

“Generasi Z adalah generasi paling berpengaruh, unik, dan beragam dari yang pernah ada,” kata Blakley dalam wawancaranya dengan forbes.

“Kami jenis jenama konsumen yang belum pernah ditemui (produsen) sebelumnya. Aku sadar, sebagai salah satu dari generasi ini, aku bisa memanfaatkanmu dan pengalamanku untuk membantu perusahaan-perusahaan melihat bagaimana konsumen muda mereka tak sekadar dari data yang ada.”

Lalu, apa yang harus dilihat perusahaan-perusahaan yang dijalankan oleh milenial itu?

“Pertama adalah intuitif digital,” ungkap Blakley.

“Kami adalah generasi pertama yang Facetime dengan kawan kami, menelepon ibu kami dan memesan pizza di saat bersamaan,” tambahnya.

Menurut Blakley, kebanyakan perusahaan kini masih sering menyamakan Generasi Z dan Generasi milenial. Ini kemudian menjebak para produsen gagal menangguk untung lebih banyak dari generasi masa depan tersebut. Bagi Blakley, generasinya sudah jauh lebih beragam daripada milenial, bahkan di saat bersamaan lebih tidak peduli pada perbedaan tersebut. Sehingga promosi-promosi standar khas milenial dan cenderung seragam menjadi tidak laku untuk mereka.

“Mereka (perusahaan-perusahaan) harus meloncat keluar dari ‘normal’,” kata Blakley.

Blakley bisa jadi benar bahwa kita tak bisa terus menyamakan Generasi milenial dengan Generasi Z. Kebanyakan dari generasi milenial adalah orang-orang yang setengah-setengah: setengah menikmati era sebelum internet, dan era sesudahnya. Bagi mereka,wallstreet, bioskop, yahoo, Vinyl, dan barang lain yang khas generasi 90-an masih menarik.

Sementara bagi Generasi Z, Netflix, Virtual Reality, dan Video Games jauh lebih menarik. Dunia, mau tak mau, memang harus bersiap memasuki masa baru: saat milenial menua dan generasi Z mulai dewasa. Karena sudah ketergantungan nya terhadap internet, generasi z ini kerap dibincangi bahwa banyak generasi z yang mengalami depresi karena tekanan di sosial media, seperti tekanan karena kecanduan bermain Instagram.

Instagram adalah media sosial terburuk yang mempengaruhi kesehatan mental, Walau media sosial ini banyak disukai karena bisa menjadi platform untuk menampilkan ekspresi diri, namun Instagram juga berkaitan dengan tingkat kecemasan yang tinggi, depresi, bullying, dan FOMO (fobia ketinggalan berita di jejaring sosial). Walaupun sosial media banyak manfaatnya dalam memberi informasi berita terkini namun Semakin sering orang muda membuka media sosial, makin besar pula mereka merasa depresi dan cemas.

Contohnya, sebut saja narasumber kita ini mawar dia mengakui saat mawar membuka Instagram lalu sering melihat teman atau orang yang selalu bepergian atau bersenang-senang, bisa membuat mawar merasa ketinggalan karena orang lain seperti sedang menikmati hidup. Perasaan ini akan membuat mereka selalu membandingkan dan merana. Lalu, saat mawar membuka Instagram dan melihat foto influencer atau selebgram di Instagram yang foto nya sangat bagus lalu kita mencoba meniru tetapi hasi tidak sebagus atau sebaik selebgram tersebut. Mawar menjadi depresi atau cemas dan bukan hanya mawar sebagian besar generasi Gen Z banyak yang mengalami hal tersebut.

Lantas apa saja dampak terburuk nya dalam kesehatan mental? Berikut pejelasannya

Kriteria dari kecanduan sosial media ini biasanya mengabaikan kehidupan pribadi, mental preokupasi, lari dari kenyataan, hingga suasana hati yang mudah terpengaruh. Kondisi ini sering ditemukan oleh mereka para pengguna media sosial. Lalu lebih sering sedih daripada senang.

Semakin lama kita menggunakan media sosial, semakin sering kita merasa kurang bahagia. Fakta tersebut diungkap dalam sebuah studi yang dilakukan Universitas Michigan pada Agustus 2013 lalu. Dalam laporannya ditemukan orang yang memakai Facebook seharian penuh hanya menerima kebahagiaan sesaat dan sedikit rasa puas dalam hidup.

Periset memperkirakan jika hal ini berkaitan dengan fakta yang menyebutkan Facebook memunculkan persepsi tentang isolasi sosial. Selalu Membandingkan Hidupnya dengan Orang Lain.

Salah satu alasan kenapa media sosial membuat orang merasa terisolasi adalah karena faktor kompetisi. Ketika seseorang menelusuri media sosial, melihat kehidupan orang-orang lain di luar sana, maka dia memiliki kecenderungan untuk memberikan penilaian dan membandingkan diri sendiri terhadap orang-orang tersebut.

Sebuah riset, yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Houston dan Universitas Palo Alto asal AS pada Oktober 2014 lalu, memperlihatkan bagaimana kita membuat perbandingan tentang perasaan kita lebih baik atau lebih buruk terhadap postingan orang lain. Hasilnya, banyak pengguna merasa tidak puas dan percaya orang lain lebih baik dibandingkan dirinya. Peneliti percaya mereka yang sering membandingkan dirinya dengan orang lain di media sosial cenderung dapat memicu gejala gangguan mental. Berikut ini adalah beberapa jenis gangguan akibat sosial media

7 Gangguan Mental Akibat Sosial Media

  1. Narcissistic personality disorder (NPD)

    Penderita gangguan ini sangat mengagumi dirinya sendiri, nggak heran kalau penderita narsistik ini hobinya menyebarkan foto selfie dan mengumbar kebahagiaan pribadinya. Di dunia nyata, penderita NPD ini biasanya bersikap egois, kurang empati dan nggak mau mendengarkan orang lain karena ingin semua perhatian hanya terpusat padanya. Dampaknya? Susah menjalin hubungan dengan orang yang terlalu cinta dan kagum terhadap dirinya sendiri.
  2. Body Dysmorphic Disorder (BDD)

    Gangguan ini terjadi di antara mereka yang terlalu sering melihat foto-foto public figure atau influencer dengan tubuh atau penampilan yang mereka inginkan. Akibatnya, mereka merasa insecure dan nggak pede terhadap tubuhnya sendiri.

    Berbeda dengan penderita NPD yang hobi ngaca untuk kembali lagi mengagumi dirinya sendiri, penderita BDD ini justru hobi melihat kaca untuk mengingatkan kembali bagian tubuh mana yang ia benci. Makanya, nggak heran, karena terlalu sering melihat foto-foto yang sudah dikonstruksikan, penderita NPD ini rela melakukan operasi, perawatan wajah dan berbagai perombakan lain untuk penampilannya. Dampaknya? Akan selalu merasa tak puas. Jadi, untuk kamu yang hobi melihat foto-foto artis, yakinkan dirimu bahwa kamu sudah cukup sempurna.
  3. Social Media Anxiety Disorder

    Social Media Anxiety Disorder atau SMAD adalah salah satu gangguan di mana para pengguna sosial media merasa ketergantungan dan tidak bisa lepas dari sosial media. Kapan pun dan di mana pun, penderita SMAD ini akan selalu mengecek sosial medianya, saat lagi kerja, lagi makan, atau bahkan hangout dengan teman-temannya. Update status dan foto-foto adalah hal wajib bagi para penderita SMAD ini. penderita SMAD ini juga akan mengecek feedback dari pengguna lain dengan mengecek secara berkala mengenai berapa likesatau komentar yang ia dapatkan dari postingannya. Kalau nggak mendapatkan likes atau feedback yang diinginkan, atau bahkan saaat followers-nya berkurang, penderita SMAD ini bakalan ngerasa terganggu.
  4. Borderline Personality Disorder (BPD)

    Gangguan Borderline Personality Disorder, yaitu ketakutan, kekhawatiran dan juga gangguan pikiran yang lainnya karena baru saja melihat update-an acara teman yang nggak mengundangnya. 
  5. Munchausen Syndrome

    Munchausen Syndrome ini mengumbar-umbar cerita sedih atau bahkan mengarang cerita dan bersikap seolah-olah ia mengidap sebuah penyakit agar mendapatkan perhatian dari orang lain.
  6. Compulsive Shopping

    Demi mengikuti tren yang sedang berkembang dan menyandang status “trendi”, dalam dunia sosial media, banyak orang yang bahkan merasa nggak keberatan untuk melakukan pembelian secara impuslif untuk berbagai barang yang bahkan nggak dibutuhkan atau bahkan nggak dimampu. Hal ini terjadi karena dorongan kebutuhan eksistensi dalam sosial media, mulai dari untuk update status dan juga untuk mendapatkan pujian dan kekaguman dari dunia maya. Mengikuti tren itu memang baik, tapi pertimbangkan juga dengan kemampuan dan kebutuhanmu.
  7. Obsessive Compulsive Disorder (OCD)

    Penderita OCD sosial media ini rela menghabiskan banyak waktu hanya untuk mendapatkan foto terbaik untuk diunggah ke akunnya dan bakalan terus meng-scrolllayarnya, bahkan hingga paling bawah.

Dari semua efek negatif yang disebutkan tadi, bukan berarti media sosial tidak memiliki manfaat. Tentu, hanya dengan media sosial manusia bisa terhubung dengan siapa saja dan kapan saja, serta membantu menemukan hal-hal yang telah lama tidak dapat kita temukan.

Namun, menggunakan media sosial secara berlebihan adalah hal yang buruk. Sebuah studi mengemukakan bahwa berhenti menggunakan media sosial untuk sementara waktu dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis. Jika kamu berani, cobalah istirahat menggunakan media sosial, dan lihat apa efeknya.

 

Ditulis oleh Kirana Dewi 

Mahasiswi London School of Public Relations