Dana Asing 'Cabut', ini Berapa Hal Untuk Mendongkrak Pertumbuhan Ekonomi
Ekonomi

Dana Asing 'Cabut', ini Berapa Hal Untuk Mendongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Selasa, 10 Mei 2016 | 18:42 | Ahmad Mashudin

WinNetNews.com - Investor asing di pasar saham Indonesia gencar menjual kepemilikan mereka. Hal ini imbas dari kekecewaan investor akibat pelemahan ekonomi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu (4/5/2016) merilis, angka pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2016 tercatat 4,92%. Melambat dibandingkan kuartal IV-2015 yang mencapai 5,04%.

Pada perdagangan Rabu (4/5/2016), dana asing keluar senilai Rp 365,983 miliar di seluruh pasar. Kemarin, dana asing keluar dari bursa saham tercatat Rp 457,58 miliar. Hari ini, dana asing keluar tercatat Rp 101,668 miliar. Jika diakumulasi, dana asing yang 'cabut' dari pasar modal sejak pengumuman data pertumbuhan ekonomi hingga hari ini mencapai Rp 925,231 miliar.

Selain akibat perlambatan ekonomi, paket kebijakan ekonomi Jokowi juga dinilai belum ampuh menggebrak pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Adakah solusi untuk bisa menggairahkan ekonomi sehingga mendorong pergerakan pasar modal Indonesia?

"Ada persoalan nomenklatur, sehingga implementasi tertunda, misalkan infrastruktur sudah bagus kayak pembebasan lahan, tapi dananya kurang," ujar Ekonom BCA David Sumual kepada detikFinance, Selasa (10/5/2016).

David menyebutkan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pemerintah untuk bisa kembali mendongkrak pertumbuhan ekonomi sehingga para investor juga melirik untuk berinvestasi di Indonesia termasuk di bursa saham.

Apa saja?

Fokus di lembaga rating S&P. Mereka datang ke Indonesia untuk melakukan evaluasi berbagai macam regulasi dan kemudahan berbisnis. Hasilnya kemungkinan mereka masih akan menahan peringkat Indonesia. Namun, ada peluang investment grade, jika paket kebijakan ekonomi Jokowi diimplementasikan secara masif. Pemerintah Indonesia merasa cukup optimistis akan meraih rating investment grade dari S&P.

Banyak program Jokowi yang belum jalan, seperti penurunan harga gas, listrik, implementasi regulasi, dan juga soal daftar negatif investasi. Ini perlu implementasi.

Ketidakpastian jangka pendek, seperti inflasi dalam menghadapi lebaran, puasa, liburan sekolah. Bagaimana pemerintah mampu mengendalikan inflasi supaya tidak melonjak. Pelonjakan inflasi jelang moment tertentu ini tidak terjadi di negara lain, ini hanya terjadi di negara berkembang karena rantai pasokan pangan yang masih panjang. Ini perlu diperbaiki.

Ketidakpastian lain, bisnis dan politik seperti wacana reshuffle. Ketidakpastian politik, ini menjadi pikiran buat para investor, terlebih untuk investasi jangka panjang. Mereka khawatir jika aturan akan berubah-ubah akibat ketidakpastian politik ini.

"Prioritasnya itu dulu. Sampai sekarang, tidak ada evalusi jangka panjang. Predikat dari S&P itu pengaruh banget, tidak hanya di portofolio tapi juga yang lain. Karena kalau suatu negara belum dapat 3 investment grade dari 3 lembaga rating, mereka belum bisa investasi, mereka melihat itu," pungkasnya.

Sumber: detik.com

Foto: waspada

TAGS:
pasar modalekonomiBCAinvestorBPSDana Asingdavid sumual

RELATED STORIES

Loading interface...