Diam-Diam 4 Hal Ini Bisa Menyebabkan Kamu Depresi

Sofia Citradewi
Sofia Citradewi

Diam-Diam 4 Hal Ini Bisa Menyebabkan Kamu Depresi Source: lifegoalsmag.com

Winnetnews.com - Depresi adalah salah satu gangguan mental yang sering terjadi di seluruh dunia. Ia juga merupakan penyebab utama kasus bunuh diri yang telah menewaskan ratusan hingga ribuan jiwa tiap tahunnya. Rilisan terbaru dari situs resmi WHO (22/03/2018) menyatakan lebih dari 300 juta orang di dunia dari segala usia menderita depresi. Bahkan Tempo (21/05/2017) melansir bahwa WHO menempatkan depresi di urutan keempat penyakit yang sering terjadi secara global.

Ketika seseorang merasa tertekan, cukup banyak yang tidak menyadari apa penyebabnya. Bahkan dalam beberapa kasus, seseorang bisa sulit mengidentifikasi apa yang membuat mereka merasa sangat murung dan kelelahan. Karena kehidupan mereka yang selalu sibuk, atau karena sudah terbiasa dengan rutinitas itu di mana segalanya terasa berjalan cepat. Hingga akhirnya tidak sadar atau tidak bisa melihat bahwa ternyata yang mereka lakukan itulah justru penyebab depresi dan membuat mereka tidak bahagia.

Kalau kamu juga merasakan hal yang sama seperti di atas; bingung apa sesungguhnya yang membuat kamu tertekan. Mungkin ini salah satu penyebabnya menurut situs Lifehack (18/10/2018).

  1. Kurangnya koneksi sosial


    Photo by Issam Hammoudi on Unsplash

    Pengisolasian diri menyebabkan kurangnya koneksi sosial yang sesungguhnya kamu butuhkan. Walaupun bagi seseorang dengan kepribadian tertentu memang butuh waktu menyendiri demi mendapatkan kembali energinya yang telah mengering akibat terlalu banyak berhubungan dengan dunia luar.

    Namun jika kamu keseringan menarik diri dari lingkungan sosial, hal ini dapat membawa kamu pada penyakit depresi.

    Pengasingan diri di sini bukan hanya dalam bentuk menyepi, memutus kontak dengan lingkungan sosial. Kamu bisa saja merasa sangat sendiri di tengah-tengah suatu perkumpulan sosial. Merasa kesepian dan tertekan di tengah riuh pesta makan malam dengan rekan sekantor dsb.

    Jika kamu sudah sampai pada tahap seperti ini. Sudah saatnya kamu merenungkan bagaimana koneksi sosialmu. Perhatikan seberapa banyak orang yang benar-benar ada di sisi kamu. Kalau kamu mengangkat telepon sekarang dan akan menelepon untuk meminta bantuan atau hanya sekadar melakukan percakapan jujur yang normal - berapa banyak yang bisa kamu hubungi?

    Tidak ada kata terlambat untuk mengubah sesuatu. Kalau kamu baru sadar bahwa selama ini telah mengisolasi diri dari teman atau keluarga dekat, cobalah untuk menjangkau dan melihat apakah semuanya dapat dibangun kembali. Cobalah melibatkan diri dalam aktivitas baru di mana kamu dapat bertemu beberapa orang baru.

  2. Ketidakmampuan menemukan makna dan tujuan hidup


    Photo by rawpixel on Unsplash

    Semakin bertambah usia, apalagi memasuki usia 20an, manusia mulai memikirkan sesuatu tentang hidupnya. Hidup ini mau dibawa kemana. Orang banyak merasa tersesat di sekitaran usia 25. Yang ini dikenal dengan ‘Quarter Life Crisis’. Suatu keadaan di mana seseorang menganggap dirinya tidak cukup punya pencapaian di usia yang seharusnya dia mencapai sesuatu.

    Kegamangan ini semakin membuat mereka tidak yakin akan masa depan, kehilangan makna, kehilangan arah, dan merasa terlalu terlambat memulai sesuatu. Sehingga semua seolah-olah tidak bisa diperbaiki. Dan mereka akhirnya menyimpulkan bahwa hidup mereka tak lebih dari sampah. Ini bisa berakhir menjadi depresi.

    Perasaan kehilangan makna hidup ini juga bisa dialami oleh orang dengan usia 30an maupun yang lebih tua dari itu. Tetapi penyebabnya biasanya karena usia mapan ini adalah usia di mana terlalu sibuk dengan kehidupan sehingga lupa menyediakan waktu barang sebentar untuk merenungkan hidup mereka. Lupa merangkul pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidup mereka, karena mereka cenderung lebih pragmatis.

    Mereka terjebak dalam rutinitas yang menyiksa mereka tapi mereka harus melakukannya karena tidak ada pilihan lain. Mereka tidak tahu apa sebenarnya yang mereka kejar. Jauh ke dalam, mereka merasa kehilangan koneksi terhadap tujuan asli mereka dan apa yang benar-benar mereka inginkan.

    Jika sekarang kamu sedang mengalami hal yang sama, berhentilah sejenak dan bangun koneksi ke dalam diri dan kehidupan kamu. Apa yang membuat kamu bahagia? Apa kamu bisa mengenal perasaan murni tentang tujuan hidup kamu? Dan apakah kamu menjalani kehidupan ini masih sesuai dengan tujuan itu?

  3. Emosi yang tak tersalurkan


    Photo by Nik Shuliahin on Unsplash

    Manusia diciptakan mempunyai ‘Perasaan Primer dan Sekunder’. Perasaan primer yaitu kondisi emotional yang muncul pertama kali saat sesuatu terjadi dalam hidup kamu. Seperti kesedihan, kemarahan atau kecemasan. Perasaan sekunder adalah reaksi yang kamu pilih sendiri terhadap perasaan primer tadi atau self-reflecting. Yang terakhir ini berkaitan erat dengan value yang tertanam dalam hidup kamu.

    Value tersebut yang kadang memaksa kamu menyembunyikan emosi yang sesungguhnya (perasaan primer). Misalnya, kita mungkin merasa sedih tapi kemudian perasaan sekunder kita akan bereaksi terhadap kesedihan itu dengan sebuah respon. Respon itu bisa berupa: “Kamu seharusnya tidak boleh sedih, karena itu bukan masalah besar.” Atau mungkin kamu terpaksa harus membuang emosi tertentu karena emosi tersebut tidak sesuai untuk situasi yang sedang terjadi.

    Dalam intensitas tertentu membiarkan perasaan sekunder ini bekerja, memang diperlukan. Namun tidak berlaku untuk segala situsi. Jadi jika merasa perlu untuk menyalurkan emosi primer itu, lakukanlah. It’s ok not to be ok. Berilah izin kepada diri sendiri untuk merangkul perasaan yang sebenarnya.

  4. Penghakiman kritis terhadap diri sendiri


    Photo by Annie Spratt on Unsplash

    Perundungan dan kritik tidak hanya berasal dari pengaruh luar. Kritik bisa berasal dari dalam diri dan ini terus menerus terjadi setiap hari. Dan banyak yang tidak sadar kalau mereka sedang dihakimi oleh diri mereka sendiri. Mungkin karena melakukan beberapa kesalahan atau kegagalan, atau mungkin kamu terlalu menekan diri sendiri dengan standar tinggi.

    Jika kamu terlalu kritis sepanjang waktu terhadap diri kamu sendiri karena tidak mencapai standar yang kamu buat, dapat dipastikan kamu akan berakhir depresi. Karena suara hati yang kritis dapat dengan mudah menyebabkan depresi.

    Cara mengatasinya adalah dengan mulai memperhatikan pikiran kamu dan bagaimana kamu memandang diri sendiri dari dekat. Apakah kamu terlalu memberi tekanan pada diri sendiri dan merasa benar-benar buruk jika kamu tidak memenuhi ekspektasi? Apakah kamu terlalu kritis sepanjang waktu tetapi sudah terbiasa sehingga tidak menyadarinya?

    Jika jawabannya iya, coba deh kamu mulai menuliskan semua yang ada di kepala dalam satu hari itu, dan kemudian cermati apa yang kamu tulis. Apakah kamu akan berbicara seperti itu dengan orang lain?

    Jika depresi kamu terus berlanjut dan usaha ini tidak berhasil, kamu harus pertimbangkan untuk konsultasi dengan seorang terapis.