Diberi 4 Nama Untuk Jadi Capres, Ini Pilihan Soeharto

Aldina
Aldina

Diberi 4 Nama Untuk Jadi Capres, Ini Pilihan Soeharto Sumber foto: instagram.com/tututsoeharto
Winnetnews.com - Mantan presiden  Indonesia Soeharto yang pernah menjabat selama 32 tahun di era 60-an ini dengan terpaksa tumbang dari jabatannya ketika munculnya reformasi pada tahun 1998.

Pada saat itu mahasiswa dan beberapa tokoh lah yang menjadi motor reformasi dengan memberi tuntutan kepada Soeharto agar segera lengser dari posisinya.

Walaupun begitu tetap tak dipungkiri sosok Soeharto masih mejadi pengaruh di dunia politik. Hal tersebut dibenarkan dengan masih diperlukannya pertimbangan dirinya untuk keputusan politik.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Tenaga kerja dan Transmigrasi, Fahmi Idris. Dalam buku yang berjudul “Pak Harto The Untold Stories”, Fahmi menyampaikan cerita mengenai Soeharto tersebut. Ia ungkapkan ketika Partai Golkar mengadakan Konvensi untuk calon presiden di pemilu 2004 yang terdiri dari empat orang.

Di antaranya Wiranto, Surya Paloh, Akbar Tanjung, dan Prabowo Subianto.

“Jusuf kalla yang semula ikut kemudian mundur dan memilih menjadi calo wapres untuk mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono yang maju sebagai calon presiden,” kata Fahmi Idris.

Karena hal itu, Fahmi Idris memberikan pertanyaan kepada Soeharto mengenai sosok mana yang pantas maju sebagai calon presiden. Pertanyaan itu ternyata membuat Soeharto terdiam cukup lama.

“Kepalanya menengadah, membuat saya khawatir kalau-kalau terjadi apa-apa ketika hanya ada saya bersama Pak Harto di saat itu,” ungkap Fahmi Idris.

Tak lama kemudian Soeharto pun menjawab dengan pendek yang meliputi satu kata saja.

“Wallahualambisawab,” sebut Fahmi Idris menirukan jawaban Soeharto.

“Itu menunjukkan beliau tidak mau lagi mencampuri urusan internal Golkar,” ujar Fahmi Idris.