Donald Trump Jadi Presiden AS Pertama yang Dimakzulkan Dua Kali
Foto: ABC
Nasional

Donald Trump Jadi Presiden AS Pertama yang Dimakzulkan Dua Kali

Kamis, 14 Jan 2021 | 10:13 | Anggara Putera Utama

Winnetnews.com -   Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menghadapi pemakzulan. Trump tercatat menjadi presiden pertama dalam sejarah Amerika Serikat yang dimakzulkan dua kali. 

Setelah sebelumnya upaya pemakzulan sempat dilakukan pada 2019 lalu, kini Trump kembali dimakzulkan setelah sejumlah Senator Republik menyatakan dukungan terhadap Demokrat di DPR yang menudingnya menghasut massa hingga memicu kericuhan di Capitol Hill pekan lalu.

Berdasarkan hasil pemungutan suara di parlemen, terdapat  232 anggota yang setuju pemakzulan Trump. Sementara 197 suara menyatakan menolak. 

Lebih rinci, seluruh perwakilan Partai Demokrat di parlemen menyatakan setuju dengan pemakzulan Trump dan 197 anggota Partai Republik memutuskan menolak. Namun, terdapat 10 anggota Partai Republik yang setuju, hal tersebut membuat pemakzulan memenuhi syarat. 

Sejumlah seorang anggota Partai Republik yang menyetujui pemakzulan Trump antara lain Dan Newhouse dari Washington, John Katko dari New York, Jaime Herrera Beutler dari Washington, Adam Kinzinger dari Illinois.

Selain itu ada juga Fred Upton dari Michigan, Liz Cheney dari Wyoming, Peter Meijer dari Michigan, Anthony Gonzalez dari Ohio, Tom Rice dari South Carolina serta David Valadao dari California.

Setelah pemakzulan disepakati, langkah berikutnya adalah membawa ke senat. Nantinya senat akan kembali menggelar sidar untuk melihat lebih lanjut terkait dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh Trump.

Upaya pemakzulan Trump ini tak lepas dari kerusuhan yang terjadi di Gedung Capitol beberapa waktu lalu.

Senator Demokrat Chuck Schumer menilai Donald Trump layak untuk menjadi presiden pertama dalam sejarah Amerika Serikat yang dimakzulkan dua kali.

"Senat harus bertindak dan akan melanjutkan persidangan [pemakzulan Trump]," ujar Schumer yang akan memimpin sidang Senat pekan dalam sepekan ke depan seperti mengutip AFP.

TAGS:
Donald Trump

RELATED STORIES

Loading interface...