Epidemiolog Heran soal Aturan Dine In 20 Menit: Siapa yang Awasi?

Anggara Putera Utama

Dipublikasikan setahun yang lalu • Bacaan 2 Menit

Epidemiolog Heran soal Aturan Dine In 20 Menit: Siapa yang Awasi?
Ilustrasi (Foto: ANTARA)

Winnetnews.com -  Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengaku heran dengan aturan terbaru PPKM yang memperbolehkan makan di tempat namun dibatasi waktu 20 menit.  Ia menyebut Indonesia memang baik dalam membuat aturan, namun lemah dalam pengawasan di lapangan.

“Menurut saya, hal seperti itu (dine in 20 menit) di lapangan, tak akan ada yang mengawasi. Di atas kertas kita selalu bagus. Itu di atas kertas. Saya khawatir yang bikin aturan ini (dine in 20 menit) dulu enggak pernah di lapangan. Pemerintah kan menyebut saya selalu dianggap epidemiolog hanya omong doang, tapi asal tahu ya saya itu lama di lapangan. Saya pengalaman dari mulai Dinkes sampai global saya tangani selama 23 tahun. Ketika ada kasus global dalam konteks indonesia maka sulit yang begitu itu (dine in 20 menit),” kata dia, dikutipp dari JawaPos, Senin (26/7).

“Siapa yang memantau (dine in 20 menit)? Siapa yang memonitor? Kalau enggak ada monitoring, balik lagi dong seperti sebelumnya. Kita mah di Indonesia, lampu merah saja diterabas! Maka kalau bicara monitoring, bicara aparat, wah ribet enggak akan memadai,” tuturnya.

Terkait aturan PPKM terbaru, Dicky menilai tenant mal yang bersifat esensial seperti restoran, supermarket, apotek sudah dapat dibuka secara bertahap. Namun, untuk restoran ia menegaskan hanya untuk take away dan tidak diperbolehkan dine in.

“Mal ada manajemennya, dan manajemen itu pintu masuk keluarnya jelas. Tapi mal itu diberi tahapan dulu, yang pelonggaran pertama sifatnya esensial. Restoran jangan dine in dulu, take away saja dulu. Dan pastikan customer datang dengan maskernya, dengan jumlah orang di dalam mal yang memenuhi standar.

Dicky juga mendorong vaksinasi kepada para pedagang di pasar. Ia mengusulkan, jika pedagang belum divaksin maka untuk sementara waktu dapat digantikan dengan anak buah yang lebih muda dan sudah divaksin.

“Di pasar misalnya jamnya dibatasi, dan seharusnya semua pedagang sudah divaksin. Kalau belum, ya tunggu dulu. Tugaskan anak buah yang sudah divaksin, enggak boleh risiko tinggi dengan komorbid,” tuturnya.

TAGS:

Share This Story

RELATED STORIES

Loading interface...