Fanatisme Berujung Anarkisme: Ketika Kemenangan Lebih Penting Dari Nyawa

Oky
Oky

Fanatisme Berujung Anarkisme: Ketika Kemenangan Lebih Penting Dari Nyawa

Winnetnews.com - Siapa yang tidak kenal olahraga yang satu ini? Tentu semua orang pasti mengetahuinya. Bagaimana tidak, Sepakbola merupakan olahraga favorit di Indonesia, bahkan bisa dibilang primadona nya Indonesia. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Nielsen Sport, penggemar sepakbola di Indonesia pun jumlahnya sangat banyak hingga mencapai angka 77% dan membuat Indonesia menempati posisi kedua di dunia dengan penggemar sepakbola terbanyak.

Minat dalam olahraga ini tidak hanya dalam memainkannya, namun juga menonton pertandingannya yang tentu saja memberikan kesenangan tersendiri untuk para pecinta bola. Munculnya kompetisi-kompetisi sepakbola yang kemudian melahirkan klub-klub bola ini, memicu terbentuknya suporter untuk masing-masing klub. Suporter sendiri adalah salah satu elemen penting dalam sebuah pertandingan, bersama dengan elemen penting lainnya seperti wasit, ofisial, komentator, dll. Suporter pun dipercaya dapat menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga bisa meningkatkan daya juang klub yang didukung, maupun dalam melemahkan mental klub lawan.

Ketika sebuah klub sepakbola memenangkan ajang pertandingan yang dimainkannya, tentunya hal itu membawa kebahagiaan tersendiri terhadap klub tersebut yang kemudian akan meningkatkan derajat dan citra baik klub tersebut. Akan tetapi, tentunya tidak hanya klub yang merasa senang, melainkan para suporter klub yang membela nya pun juga akan merasakan kebanggaan tersendiri, dan setiap individu pun akan merasa bahwa dirinya juga menang meskipun tidak ikut bertanding.

Namun, sangat disayangkan bahwa perasaan bahagia dan euforia suporter klub yang memenangkan pertandingan justru sering kali membuat suporter klub lawan yang kalah merasa kesal dan terpojok. Kemudian muncullah dalam diri suporter yang timnya kalah, perasaan-perasaan kesal pada suporter tim yang menang. Perasaan tersebut seringkali pada akhirnya tidak dapat dikontrol oleh para suporter yang kemudian menimbulkan pertikaian dan memicu pada aksi anarkis lainnya. Aksi anarkisnya pun bermacam-macam, ada yang berupa vandalisme, ada pula dalam bentuk merusak suatu objek atau barang.

image0

Sumber: kompasiana.com

Di Indonesia sendiri, bentrokan antara suporter klub sepak bola bukanlah hal yang jarang terjadi. Dalam bentrokan antar supoter sendiri, seringkali ada “musuh abadi” dimana salah satu klub selalu bentrok dengan klub yang lainnya tersebut. Suporter Indonesia bisa dikatakan merupakan suporter yang sangat fanatik. Dilansir dari beritaunik.net, bahwa suporter Indonesia merupakan salah satu suporter paling fanatik di dunia. Indonesia berada diurutan ke tiga setelah Inggris dan juga Argentina.

Mengapa seorang suporter bisa menjadi sangat fanatik?

Dari survey yang diambil dari sejumlah penggemar sepakbola, ternyata masih terdapat beberapa dari mereka yang menganut pemikiran bahwa prinsip utama dalam permainan sepakbola haruslah selalu menang. Tidak heran mengapa ketika tim kesayangan suporter fanatis ini kalah, mereka akan dengan mudah terpancing emosi yang pada akhirnya memicu aksi-aksi buruk dikarenakan prinsip dalam permainan yang dari awal sudah tidak terarah dan tidak dapat menerima kekalahan.

Menurut seorang guru besar psikolog di Murray State University, Daniel Wann, terdapat ikatan yang kuat antara suporter dan tim kesayangannya yang kemudian membuat ketergantungan. Suporter dari tim yang menang akan cenderung menjadi lebih percaya diri dalam melakukan kegiatan atau aktivitas se hari-hari. Sementara itu, suporter tim yang kalah akan cenderung mengalami penurunan kepercayaan diri dalam beraktivitas. Bahkan, kekalahan dan kemenangan ini mampu mempengaruhi cara berpikir suporter terhadap diri mereka sendiri. Tidak jarang suporter tim yang kalah menjadi merasa jelek dan tidak percaya diri dengan penampilannya. Ternyata, dampaknya tidak hanya memengaruhi psikologis, tetapi juga fisik. Hal itu dikarenakan kadar testosteron suporter yang juga akan meningkat ketika tim favorit mereka menang, dan akan menurun jika timnya mengalami kekalahan.

image1

Sumber: junedoyisam.wordpress.com

Apa kata orang yang pernah menjadi korban aksi anarkis suporter?

Lelaki berinisial ‘K’ yang mengaku pernah menjadi korban aksi anarkis seusai menonton pertandingan salah satu klub ternama di Indonesia, mengaku tidak menyangka dirinya harus menjadi korban kekerasan hanya karena mengenakan atribut tim favoritnya tersebut.

“Saya sangat tertekan saat aksi itu terjadi, saya hanya sedang berjalan keluar dari stadion disaat segerombolan suporter tim lawan mendatangi kearah saya dan memulai aksi itu selama beberapa menit.” K pun menambahkan bahwa trauma juga sempat dirasakan lelaki bernasib malang itu selama beberapa hari kemudian. Saat kejadian seperti ini terjadi, fisik bukanlah satu-satu nya hal yang menjadi korban, melainkan kesehatan psikis/ mental seseorang pun ikut menjadi taruhan.

Hal itulah yang sebenarnya lebih berbahaya, dikarenakan luka fisik seseorang dapat sembuh setelah diberi pertolongan medis, akan tetapi apabila sudah kesehatan psikis yang terganggu, hal tersebut dapat merubah pola pikir seseorang dan mengganggu kesehatan jiwa yang lebih sulit dan cenderung butuh waktu yang lebih lama untuk menyembuhkannya, terutama trauma yang cenderung bisa berlangsung lama, bahkan ber tahun-tahun.

image2

Pemakaman Haringga Sirla. Sumber: Viva

Di Indonesia, korban kekerasan akibat aksi anarkisme sudah mencapai lebih dari 40 nyawa. Seperti kasus yang belum lama terjadi, tepatnya pada tanggal 23 September 2018 pada laga pertandingan antara Persib vs Persija, Haringga Sirla yang berumur 23 tahun menjadi korban aksi brutal dan dianiaya sampai tewas. Tentu saja hal itu kembali membuat dunia sepakbola tanah air kembali berduka.

Maka dari itu, jika memang semua berkomitmen tak ada lagi korban setelah Haringga, kepergian Haringga harus menjadi titik balik. Karena sportivitas adalah hal yang harus dijunjung tinggi dalam setiap olahraga, termasuk sepakbola. Ada baiknya apabila pengetahuan akan bahaya dari aksi anarkis ini dapat disampaikan sejak dini di sekolah-sekolah maupun lembaga masyarakat lainnya, agar dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan untuk mencegah terjadinya tindakan anarkis yang akan terjadi di masa depan. Sekaligus menanamkan nilai dan moral pada anak-anak remaja akan pentingnya menjunjung tinggi sportivitas dan juga bahwa menang ataupun kalah dalam suatu pertandingan adalah merupakan hal yang wajar. Diharapkan supaya dapat menciptakan suasana yang damai dan kondusif tanpa pertikaian maupun konflik.

Hal inilah yang harus dimiliki dalam diri setiap supporter di Indonesia. Dengan sportivitas, supporter timnas sepakbola Indonesia bisa meningkatkan citra persepakbolaan nasional dan menunjukkan kesatuan dalam perbedaan.

Alangkah baiknya jika para suporter fanatis bisa lebih terbuka pikirannya dan belajar untuk tidak mengandalkan emosi-emosi semata dalam menghadapi sesuatu. Alangkah baiknya pula apabila rasa kemanusiaan dapat muncul dalam diri masing-masing suporter dengan memiliki kesadaran bahwa pada akhirnya segala hal di dunia ini tidaklah lebih penting daripada nyawa, dan sebuah pertandingan sangatlah tidak sepadan nilainya dengan nyawa manusia yang hilang. Sehingga sudah saatnya bagi masyarakat terutama suporter fanatis sadar akan pentingnya nilai-nilai moral kemanusiaan dan sudah saatnya pula mencukupkan segala aksi dan tindakan anarkis dalam dunia sepakbola Indonesia.

Ingat lah selalu, bahwa sepak bola itu seharusnya membahagiakan. Kekerasan, juga kebencian, hanya akan menjauhkan kita dari kenikmatan-kenikmatan sepak bola dan arti dari sepakbola yang sesungguhnya. Ayo bersama kita junjung sportivitas dan stop aksi anarkisme!