From Zero to Hero Plastic
via centerforecotechnology.org
Kolom

From Zero to Hero Plastic

Senin, 20 Jan 2020 | 15:35 | Rita Amelia Pramudwiyana

Winnetnews.com - Saat ini, perkembangan ekonomi sangatlah pesat dan mencapai suatu klimaks dengan terjalinnya perdagangan antar negara yang bebas dan saling menguntungkan. Namun, dalam sirkulasi ekonomi tersebut, banyak pelaku ekonomi yang tidak memperhatikan hasil dari proses tersebut, yakni sampah plastik

Sejak awal revolusi industri sampai sekarang, setiap pelaku ekonomi hanya memperhatikan proses produksi, distribusi dan konsumsi, sehingga lambat laun masalah sampah plastik mengancam lingkungan dan keseimbangan bumi. Saat ini musibah semakin sering terjadi mulai dari banjir, pencemaran laut dan bahkan muncul foto-foto hewan yang mati dan terjerat sampah plastik di laut. Masalah tersebut menjadi perbincangan utama setiap negara untuk dapat dicarikan solusi bersama.

Negara-negara, termasuk Indonesia bergerak aktif dalam menanggulangi masalah sampah plastik bersama dengan NGO seperti Greenpeace atau World Wide Fund for Nature (WWF). Mengingat Indonesia, dikutip dari media online Mongabay, merupakan penyumbang sampah plastik terbesar nomor dua di dunia setelah Tiongkok dan diperparah dengan pengelolaan sampah plastik masih rendah, serta tanggung jawab perusahaan terhadap sampah-sampah mereka pun minim. 

Sumber lain, yakni Data Sustainable Waste Indonesia (SWI) menyatakan kurang dari 10% sampah plastik terdaur ulang dan lebih 50% tetap berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Hal tersebut mengejutkan memang, mengingat waktu yang dibutuhkan plastik untuk dapat terurai cukup lama. Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), tas plastik membutuhkan waktu 10 - 20 tahun untuk terurai, belum sebuah botol plastik yang membutuhkan waktu 450 tahun untuk terurai. Oleh karena itu, langkah nyata dibutuhkan untuk dapat meminimalisir jumlah sampah plastik.  

Plastik merupakan senyawa organik yang sangat mudah dibentuk dan sangat kuat, ringan dan tahan terhadap panas dibandingkan banyak materi lain. Banyak perusahaan menggunakan plastik sebagai bahan dasar untuk membuat berbagai macam materi, termasuk perabot, komputer dan mainan. Konsumsi berlebih terhadap plastik, pun mengakibatkan jumlah sampah plastik yang besar. Karena bukan berasal dari senyawa biologis, plastik memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable). Perusahaan yang menggunakan kemasan plastik dan bahan plastik harus dituntut bertanggungjawab terhadap sampah yang mereka hasilkan. Melakukan pencampuran bahan plastik dengan bahan organik, atau menjadikan plastik sebagai aspal untuk jalan dan langkah lain yang selama ini memiliki nilai guna bagi masyarakat adalah melalui kerajinan tangan dari sampah plastik.

Plastik merupakan bahan yang fleksibel dan mudah dibentuk serta mudah ditemukan. Kebanyakan plastik dijadikan sebagai kemasan, tempat/ wadah dan botol. Dengan bentuk dan warna yang tersedia, setiap orang dapat berkreasi dengan membentuk tas, pot tanaman, karpet atau bahkan tempat duduk/ meja. Selain itu alat yang dibutuhkan pun tidaklah sulit dan pengerjaannya tidak memakan waktu lama. Yang terpenting adalah sampah-sampah tersebut harus layak dan bersih untuk digunakan kembali. Berikut adalah contoh dan ide yang dapat menjadi referensi untuk berinovasi:

Tas plastik & Dompet plastik

image0

Kebanyakan sampah plastik dijadikan sebagai bahan untuk membuat tas dengan teknik pengayaman. Biasanya sampah kemasan kopi dipilih sebagai bahan dasar dengan warna dan ragam produk kopi, sehingga dapat menjadi tantangan sendiri untuk mendapatkan perpaduan warna yang sinkron. Hal terpenting yakni lipat bungkus kopi tersebut dengan melipat 1 cm kebagian dalam pada ujung atas dan bawahnya, sehingga lebar lipatan menjadi 2 cm. Dan untuk variasi, baliklah kemasan terlebih dahulu agar nantinya tas yang kamu buat berwarna perak.

Pot Tanaman

image1

Terkadang dalam pembibitan kita perlu wadah yang cukup untuk dapat memberikan nutrisi dan air yang cukup. Oleh karena itu, banyak orang menggunakan wadah kemasan air minum atau botol sebagai pot tanaman. Mudah dan fleksibel karena hanya membutuhkan alat yang tidak banyak dan dapat dikreasikan. Botol dan gelas yang akan dijadikan pot tanaman hanya perlu dilubangi dan diberikan tanah secukupnya dan siap digunakan. Siapkan ide gambar yang dapat menambah keindahan pada botol plastik. seperti pola gambar beruang, kelinci atau hewan-hewan lainnya.

Tempat duduk & meja

image2

Bahan utama untuk membuat tempat duduk adalah botol-botol bekas dengan ukuran yang sama. Selain itu, dibutuhkan perekat untuk dapat menyatukan botol-botol bekas menjadi tempat duduk. Guna menambah keindahan, cat dapat digunakan untuk menambah menarik tempat duduk tersebut

Sekarang, dibutuhkan aksi nyata terhadap setiap elemen masyarakat untuk dapat ikut andil dan berbuat untuk lingkungan. Sampah plastik merupakan ancaman terhadap setiap individu. Data Indonesian Plastics Recyclers (IPR), total konsumsi plastik mencapai 5.66 metrik ton, didaur ulang hanya 1.80 metrik ton. Memang sulit untuk menghapuskan penggunaan kantong plastik 100%, tetapi yang paling memungkinkan adalah dengan memakai ulang plastik (reuse), mengurangi pemakaian plastik (reduce), dan mendaur ulang (recycle). (*)

 

--------------------
Rita Amelia Pramudwiyana adalah mahasiswi London School of Public Relations Jakarta.
*) Opini penulis dalam artikel ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Winnetnews.com.

 

TAGS:
sampahplastik

RELATED STORIES

Loading interface...