Hujan Tak Halangi Demo Hong Kong Berlangsung Damai

Sofia Citradewi
Sofia Citradewi

Hujan Tak Halangi Demo Hong Kong Berlangsung Damai Reuters

Winnetnews.com - Demo masih terus bergulir di Hong Kong. Meski dalam keadaan diguyur hujan, para pengunjuk rasa masih berjuang di ruas-ruas jalan Hong Kong pada Minggu (18/8).

Mereka menggelar aksi dengan cukup damai di bawah lindungan payung, walau polisi menghalangi aksi mereka. Aksi kali ini diikuti oleh 1,7 juta orang pada malam hari, berbeda dengan aksi-aksi sebelumnya yang berlangsung ricuh, aksi kali ini berjalan damai dan terlihat tetap bersemangat.

Kepolisian menyatakan bahwa izin unjuk rasa sebenarnya hanya diberikan untuk unjuk rasa di taman. Di lokasi tersebut, demonstran mencapai 128 ribu, tak termasuk yang berhamburan ke jalan. Hingga aksi berakhir pada Senin (19/8) pagi, tak terlalu banyak konfrontasi langsung antara kepolisian dan massa.

"Hari sudah sangat panjang dan melelahkan, tapi melihat banyak orang datang di tengah hujan, berarak demi Hong Kong, memberi kekuatan buat semuanya," ujar seorang demonstran, Danny Tam, seperti dilansir AFP.

Menurut Danny, demo kali ini mengharukan sebab pengunjuk rasa tetap beraksi dengan damai dan tanpa provokasi hingga kepolisian harus bertindak seperti pada demonstrasi sebelumnya.

Memang mereka kerap ditembaki gas air mata oleh kepolisian. Dilaporkan pula, polisi melemparkan granat, hingga lakukan pemukulan terhadap demonstran agar massa bubar. Tak pelak, rangkaian demonstrasi di Hongkong menimbulkan kericuhan karena demonstran juga terus melawan.

Seperti yang kita ketahui, demo Hong Kong ini sudah berlangsung sejak dua bulan lalu. Awalnya, para demonstran menuntut pemerintah membatalkan pembahasan rancangan undang-undang ekstradisi yang memungkinkan tersangka satu kasus diadili di negara lain, termasuk China.

Para demonstran tak terima karena menganggap sistem peradilan di China kerap kali bias, terutama jika berkaitan dengan Hong Kong sebagai wilayah otonom yang masih dianggap bagian dari daerah kedaulatan Beijing.

Berawal dari penolakan RUU ekstradisi, demonstrasi itu pun berkembang dengan tuntutan untuk membebaskan diri dari China.