Hukuman Mati, Dalam Sudut Pandang Agama
via inquirer.com
Kolom

Hukuman Mati, Dalam Sudut Pandang Agama

Kamis, 26 Des 2019 | 17:10 | Nisrina Salsabila Nur’aini

Winnetnews.com - Hukuman mati merupakan salah satu hukum yang diberlakukan di Indonesia. Hukuman ini pertama kali diberlakukan pada tahun 1987. Kasus pembunuhan berencana, terorisme, dan perdagangan obat-obatan terlarang adalah beberapa penyebab kita mendapatkan hukuman mati. Hukuman ini akan dilaksanakan setelah permohonan grasi ditolak oleh Presiden dan pengadilan.

Berdasarkan keberagaman kepercayaan di Indonesia, berikut adalah pendapat hukuman mati menurut ajaran masing-masing agama yang diakui di Indonesia:

1. Agama Islam

Di dalam dunia Islam, hukuman mati ini sudah diberlakukan sejak lama dan memang diperbolehkan apabila terkait dengan hukum hudud yang terdiri dari tiga komponen yakni qishash, hudud, dan ta’zir. Selain ketiga hal tersebut, maka tidak ada landasan hukum apa pun dan tidak dibenarkan di dalam Islam. 

Sementara jika berhubungan dengan beberapa kasus yang baru seperti bandar narkoba yang mendapat hukuman mati, maka hal tersebut masuk ke dalam ta’zir yang hukumannya sudah ditetapkan hakim atas dasar kemuslihatan dalam konteks Al-Maslahah Mursalah.

Ada beberapa kejahatan lain yang dapat diancam dengan hukuman mati dalam Islam. Kejahatan tersebut dikategorikan sebagai fasad fil ardh atau melakukan kerusakan di muka bumi. Meskipun dalam ajaran Islam memang memberlakukan hukuman mati, namun masih ada ketentuan mendetail untuk orang yang akan mendapatkan hukuman mati tersebut sehingga seseorang tidak dihukum secara sembarang dengan hukuman mati menurut agama islam.

Dalil-dalil yang menjelaskan Hukuman Mati dalam Islam:

QS. Al-Baqarah ayat 178

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudatanya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat perih.”

QS. Al-Maidah ayat 45

“Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi. Dan luka-luka (pun) ada qishashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishash)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.”

QS. Al-Israk ayat 33

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barang siapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.”

Adapun jenis-jenis orang yang berhak dihukum mati menurut Agama Islam, yaitu manusia pembunuh, manusia pezina muhshan dan manusia murtad. Ketiga jenis tersebut sejalan dengan hadits Rasulullah SAW yakni:

“Tidak halal darah seorang muslim yang telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan saya adalah Rasul-Nya, kecuali disebabkan oleh salah satu dari tiga hal, yaitu orang yang telah kawin kemudian berzina (pezina muhshan), orang yang dihukum mati karena membunuh, dan orang yang meninggalkan agamanya dan memisahkan diri dari jamaah (murtad).” (HR Bukhari dan Muslim)

Vonis yang nantinya akan dikeluarkan oleh mahkamah Islam lewat hakim akan didasari dengan beberapa ayat Al-Quran, hadist serta hukum Islam yang sesuai dengan dua sumber hukum utama.

2. Agama Kristen

Hukum Perjanjian Lama memerintahkan hukuman mati untuk berbagai perbuatan:

  • Pembunuhan (Keluaran 21:12)
  • Penculikan ( Keluaran 21:16)
  • Hubungan seks dengan binatang (Keluaran 22:19)
  • Perzinahan (Imamat 20:10)
  • Homoseksualitas (Imamat 20:13)
  • Menjadi nabi palsu (Ulangan 22:4)

Namun, Allah seringkali menyatakan kemurahan ketika harus menjatuhkan hukuman mati.

Pada akhirnya, semua dosa yang kita perbuat sepantasnyalah diganjar dengan hukuman mati (Roma 6:23). Syukur kepada Allah, Allah menyatakan kasihNya kepada kita dengan tidak menghukum kita (Roma 5:8). Allah sendiri yang menetapkan hukuman mati: “Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.” (Kejadian 9:6).

Yesus akan mendukung hukuman mati dalam kasus-kasus lain. Yesus juga menunjukkan anugerah ketika hukuman mati seharusnya dijatuhkan (Yohanes 8:1-11). Rasul Paulus juga mengakui kuasa dari pemerintah untuk menjatuhkan hukuman mati, ketika dibutuhkan (Roma 13:1-5).

Pandangan seharusnya orang Kristen terhadap hukuman mati:

  1. Mengingat bahwa Allah sendiri yang telah menetapkan hukuman mati melalui FirmanNya, karena itu, menjadi kesombongan jika menganggap kita mampu menetapkan standar yang lebih tinggi dariNya atau bisa lebih bermurah hati dariNya. 

    Allah memiliki standar yang paling tinggi dan suci dari semua makhluk karena Dia sempurna adanya.
  2. Mengenali bahwa Allah telah memberi pemerintah otoritas untuk menentukan kapan hukuman mati pantas dijatuhkan  (Kejadian 9:6, Roma 13:1-7). Justru tidak alkitabiah mengklaim bahwa Allah menentang hukuman mati dalam segala hal.

    Orang Kristen tidak boleh bergembira ketika hukuman mati dilaksanakan, namun pada saat bersamaan, orang Kristen juga tidak sepantasnya melawan hak pemerintah untuk mengeksekusi pelaku-pelaku kejahatan yang paling kejam.

3. Agama Hindu

Hukuman mati tidak disebutkan secara tegas/pasti dalam kitab-kitab hukum Hindu. Dalam agama Hindu dikenal apa yang dinamakan ahimsa. Ahimsa merupakan suatu ajaran yang menentang tindak kekerasan dan dalam ajaran Hindu  juga terdapat pemahaman bahwa jika seseorang tidak dapat dibunuh dan kematian hanya dibatasi pada kematian fisik. Jiwa seseorang akan terlahir kembali ke dalam tubuh yang berbeda. Tinjauan dari ajaran Hindu yang menyerukan untuk tidak menggunakan hukuman mati tersebut salah satunya tecantum dalam Kitab Santiparva dalam bab 257.

Ada yang berlogika, bahwa jika seseorang dihukum mati maka akan yang menghukum mati akan dibunuh pada penjelmaan berikutnya karena telah melakukan perbuatan membunuh. Itu adalah logika yang sangat fatal. Menurut ajaran Hindu, jika seseorang melakukan perbuatan atas nama, misalnya atas nama negara, seseorang tidak berdosa, inilah perbuatan yang dikatakan “Berbuat sebagai tidak berbuat dan dalam hukum modern pun dikenal asas seperti itu.”

4. Agama Buddha

Ajaran Buddha awal hanya bertujuan pada pelenyapan penderitaan (dukkha) sepenuhnya dan tidak memiliki ajaran khusus yang berhubungan dengan hal-hal duniawi dan sekuler seperti aturan pernikahan, sistem pemerintahan dan hukum, namun dapat ditemukan beberapa petunjuk tentang bagaimana pandangan ajaran Buddha terhadap hukuman dalam pemerintahan dalam sutta-sutta awal. 

Secara umum ajaran Buddha memandang penerapan hukuman dalam pemerintahan tidak akan menyelesaikan masalah, namun justru menyebabkan tingkat kejahatan akan semakin meningkat, seperti yang dikemukakan dalam Kutadanta Sutta (Digha Nikaya 5) dimana seorang brahmana kerajaan (yang tak lain adalah Bodhisatta Gotama  pada kehidupan lampau) memberikan nasehat kepada seorang raja masa lampau yang akan mengadakan upacara pengorbanan besar.

Dengan demikian ajaran Buddha menolak penerapan hukuman mati karena hal tersebut dinilai bukan solusi yang tepat atas masalah kejahatan yang muncul dalam masyarakat dan justru dapat meningkatkan terjadinya kejahatan yang lebih sadis. Selain itu, hukuman dalam bentuk apapun tidak dianjurkan karena semua orang tanpa terkecuali takut akan hukuman dan kematian serta mencintai kehidupannya masing-masing.

Demikian garis besar pendapat dari berbagai agama yang berkembang di Indonesia. Dapat disimpulkan juga bahwa sebagian agama menyetujui hukuman mati jika kasus yang ada dinilai sesuai dengan  apa yang ada di dalam kitabnya. Sebagian lagi tidak menyetujui adanya hukuman mati karena dinilai merebut hak dan kebebasan masyarakat untuk hidup.


----------------
Nisrina Salsabila Nur'aini adalah mahasiswi London School of Public Relations Jakarta.
*) Opini penulis dalam artikel ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Winnetnews.com.

TAGS:
hukuman matiagama

RELATED STORIES

Loading interface...