IMF Prediksi Resesi Ekonomi Global 2020
Foto: Thestatesman.com
Ekonomi dan Bisnis

IMF Prediksi Resesi Ekonomi Global 2020

Rabu, 25 Mar 2020 | 14:30 | Khalied Malvino
Winnetnews.com - Para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral sejumlah negara anggota G20 menggelar konferensi darurat melalui telepon, Senin (23/3) malam, dalam rangka mengkoordinasikan kebijakan ekonomi di tengah pandemi Covid-19.

Menyusul panggilan konferensi darurat tersebut, Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva membuat pernyataan mengenai kondisi perekonomian global yang terdampak oleh wabah Covid-19 saat ini.

“Biaya kemanusiaan dari pandemi virus corona ini sudah tak terhitung dan semua semua negara perlu bekerja sama untuk melindungi orang dan membatasi kerusakan ekonomi. Ini adalah momen solidaritas — yang merupakan tema utama pertemuan para Menteri Keuangan G20 dan Gubernur Bank Sentral,” tutur Kristalina dalam pernyataannya yang dikutip dari Kontan.co.id, Selasa (24/3).

Ada tiga poin penting yang ditekankan IMF dalam pernyataan tersebut. Pertama, prospek pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2020 adalah negatif alias turun daripada tahun lalu. Artinya, dunia akan mengalami resesi yang diperkirakan setidaknya sama dengan kondisi krisis keuangan global 2008 atau bahkan lebih buruk dari itu.

Namun, IMF mengharapkan pemulihan ekonomi akan terjadi di 2021. Untuk mencapai itu, sangat penting bagi negara-negara di mana pun itu agar memprioritaskan penanggulangan dan memperkuat sistem kesehatan.

IMF mendukung langkah-langkah kebijakan fiskal yang telah ditempuh banyak negara untuk meningkatkan sistem kesehatan, melindungi pekerja, dan perusahaan yang terdampak. IMF juga menyambut baik respon kebijakan bank-bank sentral utama yaitu melonggarkan moneter.

Seluruh upaya ini, menurut IMF, tak hanya baik bagi kepentingan masing-masing negara tetapi juga untuk ekonomi global secara keseluruhan. "Dampak ekonomi akan parah, tetapi semakin cepat virus berhenti, semakin cepat dan kuat pemulihannya,” tutur Kristalina.

Kedua, IMF menilai negara dengan ekonomi maju pada umumnya berada dalam posisi yang lebih baik untuk merespons krisis. Sebaliknya, banyak negara emerging markets dan negara berpenghasilan rendah yang akan menghadapi tantangan signifikan.

Tantangan tersebut utamanya berasal dari aliran modal yang keluar serta aktivitas perekonomian domestik yang sangat terdampak oleh pandemi. IMF menghitung, investor telah menarik dananya sebesar US$ 83 miliar dari emerging markets sejak awal krisis pandemi — aliran modal keluar terbesar yang pernah tercatat.

"Kami khususnya prihatin dengan negara-negara berpenghasilan rendah dalam kesulitan utang. Ini suatu masalah yang kami kerjakan erat dengan Bank Dunia,” sambung Kristalina.

Ketiga, IMF menyatakan akan memusatkan pengawasan bilateral dan multilateral pada krisis ini serta melakukan tindakan kebijakan untuk meredam dampaknya. IMF akan secara besar-besaran meningkatkan keuangan darurat, terutama untuk hampir 80 negara yang meminta bantuan, dengan bekerja sama dengan lembaga keuangan internasional lainnya untuk memberikan tanggapan terkoordinasi yang kuat.

IMF juga menyiapkan Catastrophe Containment and Relief Trust, bantuan untuk negara-negara termiskin. Kristalina mengatakan, beberapa negara berpenghasilan rendah dan menengah telah meminta IMF untuk membuat alokasi SDR, seperti yang dilakukan selama Krisis Keuangan Global.

IMF pun sedang menjajaki opsi ini dengan keanggotaannya. "Kami siap untuk mengerahkan semua kapasitas pinjaman US$ 1 triliun kami,” tandasnya.

IMF juga menyatakan tengah menjajaki kemungkinan untuk membantu memfasilitasi jaringan swap (pertukaran) yang lebih luas untuk mendukung kebijakan bank-bank sentral, termasuk melalui fasilitas tipe swap-IMF.

“Ini adalah keadaan luar biasa. Banyak negara sudah mengambil tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kami di IMF, bekerja dengan semua negara anggota kami, akan melakukan hal yang sama. Mari kita berdiri bersama melalui keadaan darurat ini untuk mendukung semua orang di seluruh dunia,” tutup Kristalina.

TAGS:
IMFbank sentralKEBIJAKAN EKONOMIpandemiCOVID-19

RELATED STORIES

Loading interface...