Indikasi Adu Domba Islam dengan Kristen

Khalied Malvino
Khalied Malvino

Indikasi Adu Domba Islam dengan Kristen Ustadz Abdul Somad (UAS). (Foto: Republika)

Winnetnews.com - Ulama kondang, Ustadz Abdul Somad (UAS) semakin ramai diperbincangkan khalayak, khususnya peselancar dunia maya. Pasalnya, usai ceramah UAS tentang patung dan salib viral di media sosial, kini UAS menjadi bulan-bulanan warganet yang pada berujung pelaporan UAS ke pihak kepolisian oleh kaum Kristiani.

Cendikiawan dan Guru Besar Universitas Paramadina, Prof. Dr. Abdul Hadi WM seperti dikutip Republika.co.id menilai bahwa muncul indikasi adu domba di balik pelaporan UAS. Ia menuturkan keriuhan yang sekarang terjadi pada soal viralnya ceramah UAS ini mengingatkannya pada suasana yang terjadi di tahun 1960-an. Kala itu terjadi perang ideologi yang dahsyat.

Umat Islam kala itu terus berusaha dipancing dan disudutkan dengan berbagai isu. Kala itu hujatan-hujatan kepada agama Islam bermunculan. Ada ketoprak (teater rakyat), ludruk atau kesenian apa saja dimunculkan dengan tujuan mengganggu keharmonisan hubungan antarumat beragama.

"Dahulu ungkapan Nietzsche tentang ‘Tuhan telah mati’ ramai-ramai diomongkan. Ada ketoprak dan ludruk di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Tmur dengan lakon ‘Patine Gusti Allah’, 'Gusti Allah Mantu', dan lainnya. Jadi sengaja ada yang buat panas. Nah, karena saya mengalaminya maka harus bersikap sabar. Sekali lagi umat Islam sabar dan jangan terpancing," kata Abdul Hadi.

Lalu siapa pelaku yang ingin mengadu domba? Secara tak terduga, Abdul Hadi mengatakan, Prof Abdul Hadi mengaku bersyukur UAS tetap tenang dengan pelaporan dirinya ke polisi.

"Saya bersyukur Ustaz Abdul Somad tenang. Dia menanggapi soal viral cemarah videonya dengan sikap biasa saja,’’ kata Prof Abdul Hadi.

Budayawan yang intes sekali mengamati dunia tarekat sufi ini berulangkali mengucapkan syukurnya.

“Terus terang, kalau saya malah omongkan lagi saja ceramah itu sebab ini adalah jalan pikiran atau pendapatnya ketika ditanya seorang jamaah. Diucapkannya pun di tempat tertutup. Dia punya hak seperti ucapan pengkhotbah agama lain yang juga kini viral di media sosial. Maka umat Islam santai saja, ini bagian dari perang proxy,’’ lanjut Abdul Hadi.

Abdul Hadi menegaskan, khususnya kepada umat Islam, untuk menahan diri. Ia menghimbau kepada umat agama lainnya untuk bersikap sama. Sebab soal-soal yang kini viral itu merupakan hal yang biasa dan sudah menjadi pengetahuan umum.

“Kalau mau menengok secara jernih misalnya kasus novel Ayat-Ayat Setan-nya Salman Rushdi yang jelas-jelas menghina Islam dan Nabi Muhammad di tahun 1980-an dahulu. Dia ternyata tak pernah dipresekusi, bahkan dilindungi oleh Inggris dan dunia internasional atas nama HAM dan kebebasan berbicara. Kalau soal Ahok itu berbeda konteks karena dia adalah pejabat publik dan diomongkan di ruang publik terbuka. Dia bukan ustaz atau pendeta. Dia gubernur,’’ ujarnya.

Kabar UAS dilaporkan datang dari Polda Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (17/8/2019). Sekelompok orang atas nama Brigade Meo Nusa Tenggara Timur (NTT) melaporkan UAS karena diduga telah menghina lambang-lambang agama Kristen dan Katolik, seperti salib dan patung, sebagaimana terekam dalam video yang tersebar via media sosial.