Indonesian Luxury Tampilkan 14 Seniwati Lewat Event Bertajuk "Reinventing Eve"

Oky
Oky

Indonesian Luxury Tampilkan 14 Seniwati Lewat Event Bertajuk "Reinventing Eve"

Winnetnews.com - Indonesian Luxury dengan bangga menghadirkan “Reinventing Eve,” sebuah group eksibisi yang menampilkan 14 seniwati terkenal yang diselenggarakan di Function Hall, 1Park Avenue pada tanggal 13-17 Maret 2019. Acara ini akan dibuka dengan sambutan dan perbincangan seni oleh Carla Bianpoen dan sebuah press preview. Pameran ini dihadirkan oleh PT.Intiland Development dan dikuratori oleh ISA Art Advisory, anggota dari Indonesian Luxury.

Indonesian Luxury dengan senang hati bekerja sama dengan 1Park Avenue, Apartemen mewah yang baru saja diluncurkan yang dirancang oleh pemenang penghargaan Tom Elliot dari PAI Architects, dan PT. Intiland Development sebagai kelanjutan dari misi kami untuk mendukung kesenian di tempat tertutup atau terbuka dan menciptakan jembatan yang menghubungkan seni dan desain.

“Reinventing Eve” dimaksudkan sebagai penghormatan kepada Raden Ajeng Kartini, seorang pahlawan wanita tersohor dari pulau Jawa, dikenal sebagai pendobrak dan pejuang hak-hak kaum wanita dan sebagai sosok yang sangat vokal menyuarakan kesetaraan gender dan memperjuangkan pendidikan untuk anak wanita. Hingga kini Kartini merupakan simbol dari gerakan feminisme dan kebebasan pada wanita modern dan kontemporer di Indonesia. “Reinventing Eve merupakan suatu pameran khusus yang menampilkan hasil karya seni oleh 14 seniwati berbakat dan inspiratif dalam rangka menyambut perayaan Hari Kartini” seperti dijelaskan oleh Debora C Iskandar, pendiri Indonesian Luxury.

Selama berabad-abad, wanita secara sistematis dipandang sebelah mata di bidang seni karena sejumlah faktor, seni berbentuk tekstil dan seni dekoratif lainnya sering dianggap sebagai kerajinan tangan saja dan tidak dianggap sebagai karya seni rupa. Banyak wanita yang dicegah untuk mengejar pendidikan umum, apalagi pelatihan seni. Terlebih lagi para pria yang mendominasi jalur seni tersebut sering beranggapan keliru bahwa wanita adalah pekerja seni yang lebih inferior. Komentar seniman dan instruktur Hans Hoffmann kepada pelukis ekspresionis abstrak Lee Krasner pada pertengahan abad-20 mengatakan itu semua, “Lukisan ini sangat baik anda tidak akan tahu itu dilakukan oleh seorang wanita.”

Dampak feminisme mulai muncul pada abad ke-19 dan ke-20, ketika perubahan sosial menghasilkan generasi seniman baru seperti Eileen Agar dan Louise Bourgeois yang ikonik, yang mulai mengeksplorasi tema-tema pikiran dan tubuh melalui aliran surealisme. Deborah juga menambahkan, “Misi kami adalah membuat karya seni agar dapat diakses oleh semua orang. Hal ini bisa dalam berbagai medium yang berbeda, termasuk fotografi, lukisan, patung dan berbagai pengalaman. Melalui acara seperti pameran ini, kami berharap dapat lebih memamerkan karya seni kami yang secara unik tersedia di Indonesia bagi peminat  dan kolektor seni yang berkembang di Indonesia.”

Pameran ‘Reinventing Eve’ ini merupakan kelanjutan dari gerakan feminisme yang ditampilkan melalui karya dari delapan seniwati Indonesia: Arahmaiani, Melati Suryodharmono, Sinta Tantra, Ines Katamso, Rega Ayundya, Natisa Jones, Ella Wijt dan Inge Kotjo. Enam pekerja seni wanita Internasional lainnya adalah: Marisa R Ng (Malaysia), Mary Lou Pavlovic (Australia), Lindy Lee (Australia), Sally Smart (Australia), Mella Jaarsma (Belanda) dan Melissa Tan (Singapura).

Pertanyaannya masih tetap, bagaimana memungkinkan lingkungan di mana perempuan dapat benar-benar mengekspresikan kreativitas mereka pada tingkat yang sama? Hanya karena jenis kelamin mereka, perempuan menghadapi tantangan ketika menjual karya mereka dan berusaha untuk mendapatkan pengakuan. Dengan berfokus pada seni yang diciptakan oleh perempuan, kami ingin mendukung gerakan feminisme dan membawa suara yang lebih beragam ke dunia seni.