Inilah Gejala yang Ditimbulkan Setelah Terinfeksi HIV
Kesehatan

Inilah Gejala yang Ditimbulkan Setelah Terinfeksi HIV

Sabtu, 9 Mar 2019 | 21:02 | Oky

Winnetnews.com - Gejala awal infeksi HIV terbilang ringan dan mudah diabaikan. Tetapi, meski terkadang tak menampakkan gejala yang nyata, orang yang terinfeksi HIV memiliki potensi menularkannya kepada orang lain. Itulah satu dari banyak faktor mengapa penting untuk mengenali gejala awal infeksi HIV.

Selain itu, deteksi dini pada HIV sangat diperlukan agar pihak yang terinfeksi bisa segera mendapatkan pengobatan. Pengobatan di awal terjadinya infeksi bisa mengendalikan hingga memperlambat perkembangan virus.

HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis virus yang menyerang sel darah putih yang menyebabkan turunnya kekebalan tubuh manusia. HIV sering kali disamakandengan AIDS. Padahal keduanya ini jelas berbeda walaupun saling berkaitan.

AIDS merupakan kepanjangan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome, yakni sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya sistem kekebalan tubuh akibat terinfeksi HIV. Jadi, secara singkat, AIDS merupakan akibat dari HIV yang terus berkembang.

Gejala awal HIV

Biasanya gejala awal HIV mirip dengan gejala flu. Berikut ada beberapa ciri HIV yang secara umum menandai infeksi virus di tahap awal:

  • Sakit kepala
  • Demam
  • Kelelahan terus menerus
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Sakit tenggorokan
  • Ruam pada kulit
  • Nyeri pada otot dan sendi
  • Luka pada mulut
  • Luka pada organ intim
  • Sering berkeringat di malam hari
  • Diare

Gejala awal HIV umumnya timbul dalam waktu 1 sampai 2 bulan setelah terinfeksi. Bahkan menurut US Department of Health and Human Services, pada sebagian orang dapat terlihat pada dua minggu awal setelah terpapar. Namun, gejala awal ini tidak ditunjukkan pada semua orang. Ada beberapa orang yang justru tidak menunjukkan tanda-tanda ini, tetapi ternyata terinfeksi HIV. Itu sebabnya pengujian terhadap virus HIV sangat penting dilakukan.

Fase infeksi HIV

Fase pertama HIV

Diikenal juga sebagai infeksi HIV primer atau disebut juga sindrom retroviral akut. Pada tahap ini, kebanyakan orang mengalami gejala mirip flu. Gejalanya juga sering kali mirip dengan infeksi saluran cerna atau saluran pernapasan.

Fase kedua
Ini adalah tahap laten klinis. Virus menjadi kurang aktif, meski masih dalam tubuh Anda. Anda tidak mengalami gejala apapun saat virus berkembang. Periode latensi ini bisa bertahan satu dekade atau lebih. Dalam periode laten yang bisa berlangsung hingga sepuluh tahun ini banyak orang tidak menunjukkan gejala apapun. Tahap inilah yang patut diwaspadai karena virus akan terus berkembang tanpa disadari.

Fase terakhir HIV

Fase terakhir HIV adalah AIDS. Di fase akhir ini, sistem kekebalan tubuh mengalami kerusakan parah dan rentan terhadap infeksi oportunistik. Infeksi oportunistik ialah infeksi yang menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh yang buruk.

Ketika HIV sudah berkembang menjadi AIDS, gejala seperti mual, muntah, kelelahan, dan demam baru bisa terlihat. Selain itu, penurunan berat badan, infeksi kuku, sakit kepala serta sering berkeringat di malah hari juga menandai AIDS pada tahapan awal.

Seberapa penting melakukan tes HIV?

Mengajukan tes HIV sangat penting karena orang yang terinfeksi HIV tetapi tidak menunjukkan gejala apapun dan tidak menyadari bahwa dia terinfeksi akan dengan mudah menularkan virusnya pada orang lain. Misalnya melalui darah dan air liur.

Melakukan tes HIV merupakan satu-satunya cara untuk menentukan apakah Anda positif terinfeksi atau tidak. Jika Anda merasa aktif secara seksual, pernah menggunakan jarum suntik secara bersamaan, atau faktor lainnya yang membuat Anda terpikir bahwa Anda terinfeksi virus ini, maka lakukan tes HIV demi melindungi diri dan orang lain.

Didiagnosis HIV bukanlah “hukuman mati”

Penderita HIV memerlukan pengobatan dengan Antiretroviral (ARV) untuk menurunkan jumlah virus HIV dalam tubuh agar tidak masuk fase akhir, yakni AIDS. Pengobatan ini terbukti mempunyai peran dalam pencegahan penularan HIV karena mencegah replikasi virus yang secara bertahap menurunkan jumlah virus dalam darah.

Penting juga untuk disadari bahwa penurunan jumlah virus dengan terapi ARV harus disertai dengan perubahan perilaku berisiko misalnya pengendalian perilaku seks dan menghentikan penggunaan jarum suntik secara bersamaan serta penggunaan kondom.

Jika Anda atau orang terdekat terdeteksi HIV, segera konsultasikan ke dokter dan jangan panik karena dengan deteksi dini dan pengobatan ARV, virus HIV masih bisa dikendalikan.

Seks tanpa kondom, faktor pemicu penularan terbanyak

Dikutip dari dari VOA Indonesia, Menteri Kesehatan Nila Djuwita Farid Moeloek mengatakan faktor risiko penularan HIV terbanyak masih melalui hubungan seks tanpa pengaman. Karenanya, bagi Anda yang aktif secara seksual, gunakanlah kondom sebagai salah satu upaya pencegahan yang sangat bijak.

Penggunaan kondom akan mencegah penularan HIV lewat hubungan seksual, yang dapat menjadi pintu utama menularnya HIV dari pasangan yang terinfeksi pada pasangan yang sehat.  Dengan menggunakan kondom, seks tetap menyenangkan dan Anda pun terhindar dari risiko tertularnya HIV. Karena seperti kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati.

 

 

Penulis : Oky Alexander Weni
Editor : Baiq Fevy Shofya Wahyulana

TAGS:
hivHIV AIDSgejala hiv

RELATED STORIES

Loading interface...