Inilah Kritik Ki Hadjar Dewantara yang Buat Ia Diasingkan Belanda!
Nasional

Inilah Kritik Ki Hadjar Dewantara yang Buat Ia Diasingkan Belanda!

Senin, 2 Mei 2016 | 15:33 | kontributor

WinNetNews.com - Lahir dari keturunan bangsawan, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat tak bisa menerima begitu saja kenyataan hidup di masa penjajahan kolonial Belanda. Meski secara lahir bisa menerima, jiwa yang ada dalam diri tokoh yang dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara itu, berontak.

Pemberontakan yang dilakukan tidak secara langsung dengan angkat senjata, tapi dengan cara halus nan lembut melalui jalur pendidikan. Memberi pembelajaran pada masyarakat umum (kecuali bangsawan) sesuatu yang sulit karena dilarang oleh penjajah kala itu.

"Ki Hadjar Dewantara lahir pada masa penjajahan Belanda, kemudian memperoleh pendidikan dari Belanda, untuk melawan Belanda, merebut kemerdekaan dari Belanda, dan mengisi kemerdekaan Indonesia, kira-kira seperti itu," kata Ketua Harian Majelis Luhur Tamansiswa Yogyakarta, Ki R Suharto.

Jalan kehidupan Ki Hadjar Dewantara tak mulus seperti jalan tol tanpa ada lubang. Cobaan datang datang silih berganti karena keinginannya yang kuat untuk keluar dari penindasaan kolonial belanda.

"Keluar masuk penjara, diasingkan pemerintah Belanda, tak membuat Ki Hadjar kapok. Tekadnya bulat, keinginannya kuat agar kaum pribumi terbebas dari kolonial penjajahan," jelasnya.

 

Dalam catatan sejarah, tulisan kritis Ki Hadjar sebagai wartawan yang dimuat media kala itu membuat berang pemerintah Belanda. Berikut kutipan tulisan berjudul "Als ik eens Nederlander was" atau "Andaikan Saya Orang Belanda" tersebut;

"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya.

Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu.

Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya.

Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu!

Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya."

Secuil catatan itu menjadikan Ki Hadjar Dewantara berurusan dengan pemerintah. Hukuman pengasingan di Pulau Bangka dijalani atas keinginannya sendiri.

Protes karena hukuman itu, Douwes Dekker dan Dr. Tjipto Mangunkusumo yang merupakan rekan organisasi Ki Hadjar Dewantara turut diadili. Ketiga tokoh yang kini lebih dikenal tiga serangkai tersebut turut diasingkan karena dianggap menghina pemerintahan kala itu.

Baca juga: Pakai Belangkon, Menteri Anies Pimpin Upacara Hardiknas

Ki Hadjar juga sempat disingkan ke Negeri Belanda selama enam tahun. Selama pengasingan, dia belajar banyak hal di negeri Kincir Angin itu. Pada 1919, dia kembali ke Tanah Air untuk mengajarkan ilmu yang diperoleh dari Belanda pada kaum pribumi yang kini bernama Tamansiswa. Tamansiswa sendiri secara resmi berdiri pada 3 Juli 1922.

"Di tempat ini Ki Hadjar Dewantara meresmikan Tamansiswa. Saat ini, Tamansiswa sendiri sudah berkembang pesat, ada sekira 200 lembaga pendidikan dari TK hingga Perguruan Tinggi," katanya. (bersambung)

Sumber: Okezone

TAGS:
pendidikansejarahKi Hadjar DewantaraTaman Siswatiga serangkaisuwardu suryaningratkritik Belandatokoh pendidikanpahlawan pendidikanRepublik Indonesiazaman penjajahan Belanda

RELATED STORIES

Loading interface...