Jadi-Enggak Jadi Waduk Ciawi
Nasional

Jadi-Enggak Jadi Waduk Ciawi

Jumat, 15 Jan 2016 | 15:50 | Yudha Raditya

winNetNews.com - Muhammad Syukur, 53 tahun, warga Desa Sukakarya, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, tak pernah menyangka desanya bakal terkena pembangunan Waduk Ciawi dan Sukamahi. Setidaknya proyek dua bendungan itu akan memakan lahan seluas 30,5 hektare di Desa Sukakarya.

Di lahan itu terdapat dua perkampungan, yaitu Kampung Cijulang dan Pasir Kalong, yang kemungkinan besar tergusur oleh proyek bendungan. Selebihnya tanah tegalan, yang berada di dataran lebih rendah dekat Kali Cibogo.

Menurut Syukur, kabar Sukakarya masuk area untuk pembangunan Waduk Ciawi dan Sukamahi itu diketahui warga sejak Juli 2015. Waktu itu ada sosialisasi yang dilakukan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung dan Cisadane (BBWSCC) di kantor Kecamatan Megamendung.

Aparat desa-desa yang terkena dampak berikut perwakilan warga diundang. Selain Sukakarya, Waduk Ciawi dan Sukamahi yang bersebelahan itu "menyerempet" Desa Cipayung, Gadog, Sukamahi, Sukamaju, serta Kopo, yang masuk wilayah administratif Kecamatan Cisarua.

Rencananya, Waduk Ciawi akan mempunyai total luas 89,42 hektare, sedangkan Waduk Sukamahi luasnya 49,82 hektare. Waduk yang pembangunannya atas inisiatif Joko Widodo saat menjadi Gubernur DKI Jakarta itu diharapkan dapat mencegah banjir di Ibu Kota.

Pascapertemuan di Kecamatan Megamendung, masing-masing kepala desa di area yang terkena dampak pembangunan waduk membentuk satgas. Satgas itu kemudian mendata tanah dan lahan warga yang bakal digenangi air atau menjadi lokasi penghijauan.

"Sekarang jumlah pasti keluarga yang terdampak juga belum selesai semua pendataannya," ujar Syukur, yang didapuk menjadi anggota satgas Desa Sukakarya.

 

Selain melakukan pendataan, beberapa waktu lalu petugas mulai mengukur lahan-lahan yang bakal diubah menjadi dam itu. Mereka memasang beberapa patok dari beton di sejumlah lokasi. "Pengukuran sudah, namun petugas belum membawa surat izin resmi," kata Kepala Desa Sukamahi, Encep Subandi.

Kendati sudah ada aktivitas di lapangan terkait pembangunan waduk, masyarakat Bogor masih bertanya-tanya kapan dua bendungan itu direalisasi. Sebab, mereka dibuat cemas oleh rencana penggusuran serta besarnya ganti rugi yang akan mereka terima.

Menurut Kepala BBWSCC Teuku Iskandar, sampai saat ini pembangunan Waduk Ciawi dan Sukamahi belum bisa dilakukan karena belum ada penetapan resmi tentang lokasi kedua waduk. Dengan belum adanya penetapan lokasi tersebut, pembebasan lahan pun masih tertahan.

Dijelaskan Iskandar, penetapan lokasi membutuhkan perubahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor. Revisi itu harus dilakukan karena Waduk Sukamahi belum tercantum dalam RTRW Kabupaten Bogor maupun Provinsi Jawa Barat. RTRW itu hanya memuat rencana pembangunan Waduk Ciawi.

Dalam RTRW itu juga, Waduk Ciawi disebutkan berada di Kecamatan Ciawi dekat Gadog. Padahal BBWSCC sekarang memilih lokasi baru di beberapa desa yang berada di Kecamatan Megamendung. Penggeseran lokasi waduk lebih ke hulu itu tentu bukan tanpa alasan empiris.

Berdasarkan studi pada 2006, lokasi yang lama tak lulus dari segi teknis. Secara geologi, lokasi itu merupakan tempat aktivitas vulkanik Gunung Pangrango. Artinya, ada sesar atau patahan di perut bumi. Hal itu tentu akan sangat berbahaya bila dibangun bendungan.

"Kalau bendungan jebol dan air tumpah ke hilir, bisa ribuan nyawa melayang," tutur Anggia Satrini, Kepala Bidang Program dan Perencanaan Umum BBWSCC.

Dampak lainnya, dari segi sosial, ada lebih banyak penduduk yang harus dipindahkan. Selain itu, proses pembangunan akan sangat mengganggu jalur Puncak, Bogor, karena dump truck akan sering mondar-mandir di wilayah itu.

Perihal material yang dibutuhkan, kalau waduk dibuat di Ciawi, volumenya mencapai 40 juta meter kubik, di Cipayung hanya 6,45 juta meter kubik, dan di Sukamahi hanya 1,6 juta meter kubik. "Karena kebutuhan material ada di sekitar waduk (Cipayung dan Sukamahi)," ujar Satrini.

Namun, ditunggu sekian lama, perubahan RTRW Kabupaten Bogor dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak kunjung kelar. Padahal pemerintah menginginkan pembangunan waduk itu dipercepat. Februari 2015, Presiden Jokowi mengumpulkan pimpinan Pemprov DKI, Jawa Barat, dan kementerian terkait. Ia memerintahkan, pembebasan lahan untuk dua dam itu beres tahun ini juga.

"Memang perencanaannya dari pusat sudah selesai, tapi proses tata ruangnya masih dikonsultasikan ke provinsi," ucap Bupati Bogor Nurhayati beberapa waktu lalu.

Lambatnya pembahasan revisi tata ruang Kabupaten Bogor mengundang reaksi Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Pada 19 Juni 2015, Ahok mengirim surat kepada Presiden dan meminta agar Jokowi menerbitkan instruksi presiden tentang penentuan lokasi waduk.

Menanggapi Ahok, Menteri-Sekretaris Negara Pratikno meminta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melakukan kajian. Kementerian Pekerjaan Umum mengusulkan alternatif agar pembangunan waduk bisa segera dimulai, yakni merevisi Perpres Nomor 54 Tahun 2008 tentang Penataan Ruang Kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur.

Dalam draf yang diperoleh detikcom, revisi itu antara lain mencantumkan pembangunan Waduk Ciawi dan Sukamahi dalam perpres perubahan nanti. Pratikno kemudian meminta Kementerian Koordinator Perekonomian menindaklanjutinya. Sayang, hingga kini draf perpres itu juga belum dirampungkan oleh kantor Kemenko Perekonomian.

Seharusnya perpres hasil perubahan itu selesai pada 25 November 2015. Dengan perpres itu, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dapat segera menyerahkan lampiran gambaran detail tanah di lokasi calon bendungan.

Gambar itu akan menjadi bekal bagi BBWSCC untuk menetapkan lokasi waduk berikut batas-batasnya. Bila sesuai dengan jadwal, BBWSCC memperkirakan pembebasan lahan bisa dilakukan mulai tahun depan.

Berbarengan dengan itu, sertifikasi desain dua dam tersebut bisa diselesaikan pada Maret. Dan sebulan berikutnya, konstruksi bangunan Waduk Ciawi dan Sukamahi bisa dikerjakan. Namun harapan memang tinggal harapan. Iskandar memastikan, seluruh rencana kerja itu meleset.

"Kalau perpresnya mundur, ini akan geser semua (jadwal) jadinya," Iskandar mengeluh.

TAGS:
Waduk Ciawi

RELATED STORIES

Loading interface...