JK Beri Solusi Soal Sengketa Laut China Selatan

Rusmanto
Rusmanto

JK Beri Solusi Soal Sengketa Laut China Selatan
WinNetNews.com - Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menyinggung sengketa Laut China Selatan dalam pidato sambutannya di Boao Forum for Asia (BFA). JK menekankan pentingnya stabilitas hubungan antar negara untuk mendorong keberhasilan perekonomian.

"Sejarah mengatakan tidak akan ada keberhasilan ekonomi tanpa stabilitas dan tidak ada stabilitas tanpa perdamaian," ujar JK dalam pidato sambutan pada Opening Plenary BFA bertemakan "Asia's New Future: New Dynamics, New Vision" di BFA Main Hall, Hainan, China, Kamis (24/3/2016).

JK mengatakan, mempertahankan perdamaian di kawasan Laut China Selatan menjadi hal penting yang harus dilakukan. Sebab kawasan tersebut menjadi jalur perekonomian penting di dunia termasuk ASEAN, Jepang, China dan Korsel.

"Hal itu memungkinkan adanya aliran terhadap lebih dari separuh perdagangan internasional dunia, yang mencapai lebih dari USD 5 triliun setiap tahunnya," sebut dia.

Sengketa wilayah teritorial ini sambung JK berdampak buruk karena mengganggu hubungan antar negara di kawasan Asia. Ketegangan di Laut China Selatan akan berdampak negatif terhadap ekonomi.

 

Karenanya, pemerintah Indonesia menyarankan agar negara yang terlibat dalam sengketa di Laut China Selatan mengedepankan proses diplomasi dan politik.

"Kami memahami bahwa menyelesaikan sengketa wilayah tidaklah mudah. Oleh karena itu, akan menjadi lebih produktif jika negara yang bersengketa melakukan usaha secara bersama-sama untuk menyelesaikan persoalan ini demi keuntungan bagi kawasan. Kita harus mengubah potensi konflik menjadi peluang untuk kerja sama konkret," tutur JK.

Asia menurutnya harus menjadikan isu Laut China Selatan sebagai isu prioritas. "Jika kita dapat mengelolanya dengan baik, maka itu akan menjadi awal bagi 'Keajaiban Ekonomi Asia'. Namun jika sebaliknya, maka itu dapat berubah menjadi rintangan serius untuk mewujudkan kesejahteraan umum di kawasan," kata JK.

JK merupakan pemimpin negara urutan keenam saat menyampaikan pidato setelah PM Kamboja Hun Sen, PM Republik Demokratik Rakyat Laos Thongsing Thammavong, PM Lithuania Algirdas Butkevicius, PM Nepal Khadga Prasad Sharma Oli serta PM Thailand Prayuth Chan-ocha.

disadur dari situs detik-news