Jurang Resesi Hantui Hong Kong
Demonstran Hong Kong melemparkan peluru gas air mata ke arah polisi. [Foto: Reuters]
Internasional

Jurang Resesi Hantui Hong Kong

Senin, 28 Okt 2019 | 15:03 | Khalied Malvino

Winnetnews.com - Jurang resesi kini tengah hantui Hong Kong pasca aksi demonstrasi berbulan-bulan sejak Juni 2019 belum juga usai. Hal itu dinyatakan Sekretaris Keuangan Hong Kong, Paul Chan dalam sebuah postingan blog.

Dalam postingan blog tersebut, Paul Chan menyebutkan Hong Kong telah mengalami kontraksi ekonomi semalam dua kartal berturut-turut. Melansir laman Detik.com, Paul merasa Hong Kong tidak mungkin mencapai target pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019.

“Sangat sulit bagi Hong Kong untuk mencapai perkiraan pemerintah (perhitungan sebelum aksi demo) terkait pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 0 hingga 1%,” tulisnya seperti dikutip Reuters, Senin (28/10).

Aksi protes di Hong Kong ini telah berlangsung selama kurang lebih 21 minggu. Pada hari Minggu (27/10), demonstran berpakaian hitam dan bertopeng membakar toko-toko dan melemparkan bom bensin ke polisi. Pihak polisi merespons dengan gas air mata, meriam air, dan peluru karet.

Para pengunjuk rasa secara rutin membakar halaman depan pertokoan dan bisnis termasuk bank, terutama yang dimiliki oleh perusahaan China daratan. Menyebabkan bisnis ritel dari mal perbelanjaan utama hingga bisnis keluarga, terpaksa tidak dapat beroperasi selama beberapa hari dalam beberapa bulan terakhir.

Demo yang berujung pada kerusuhan ini juga menyebabkan sektor pariwisata mengalami penurunan. Jumlah wisatawan yang mengunjungi Hong Kong terus mengalami penurunan hampir 50% pada Oktober ini.

Sementara itu pihak berwenang telah mengumumkan langkah-langkah untuk melindungi usaha kecil dan menengah lokal. Meski demikian, Paul Chan mengatakan kalau langkah-langkah itu hanya dapat mengurangi sedikit tekanan pada perekonomian Hong Kong. Paul mengharapkan agar aksi demo ini dapat segera mereda sehingga industri dan perdagangan dapat kembali beroperasi secara normal.

"Biarkan warga kembali ke kehidupan normal, biarkan industri dan perdagangan beroperasi secara normal, dan ciptakan lebih banyak ruang untuk dialog rasional," tulisnya dalam sebuah postingan blog.

TAGS:
Hong KongPaul Chanresesiperekonomianaksi demonstrasi

RELATED STORIES

Loading interface...