Kaitan Antara Stres dan sindrom iritasi usus besar
ilustrasi
Kesehatan

Kaitan Antara Stres dan sindrom iritasi usus besar

Selasa, 9 Jun 2020 | 08:43 | Rusmanto
Winnetnews.com -  IBS (irritable bowel syndrome) atau sindrom iritasi usus besar menyebabkan kerja usus besar terganggu. Kondisi ini terjadi akibat kerusakan sistem kerja usus. Meski begitu, IBS tidak menunjukkan adanya kerusakan jaringan pada usus. Stres dan cemas diketahui sebagai salah satu pemicu munculnya gejala IBS. Namun, mengapa demikian?

Stres dan cemas bisa memperparah IBS

Stres dan rasa cemas merupakan bagian dari respons tubuh. Keduanya, muncul ketika Anda merasa tidak aman atau sedang dalam bahaya. Namun, ini tidak melulu berkaitan dengan situasi yang membahayakan jiwa karena berbagai tantangan yang Anda hadapi setiap hari, seperti ujian sekolah  atau penilaian karyawan juga bisa memicunya.

Pada sebagian orang, stres dan kecemasan tersebut bisa atasi tanpa masalah. Akan tetapi, ini berbeda dengan orang yang memiliki IBS.

IBS (irritable bowel syndrome) menandakan adanya kerusakan pada sistem kerja usus sehingga menimbulkan berbagai masalah pencernaan. Ternyata, stres dan cemas bisa jadi pemicu munculnya gejala IBS, bahkan memperparah kondisinya.

Sebuah studi yang diterbitkan pada World Journal of Gastroenterology menjelaskan keterkaitan antara IBS dengan stres dan cemas.

Otak dan saraf bersamaan mengendalikan tubuh dan ini disebut dengan sistem saraf pusat. Sistem ini terbagi menjadi dua, salah satunya sistem saraf simpatik. Sistem ini aktif ketika Anda merasakan stres atau cemas dan merangsang pelepasan hormon yang dapat meningkatkan denyut jantung dan memompa lebih banyak darah ke otot-otot tubuh.

Aktifnya sistem simpatik ini juga bisa memperlambat atau bahkan menghentikan proses pencernaan. Hasilnya, pasien IBS yang sedang cemas dan stres akan mengalami gangguan keseimbangan antara otak dengan usus.

Usus bisa menjadi sangat aktif sehingga menyebabkan diare. Bisa juga sebaliknya, menjadi lebih lambat sehingga menyebabkan susah buang air besar. Kedua masalah pencernaan inilah yang nantinya memicu dan memperparah gejala umum IBS, meliputi diare atau sembelit yang bergantian, perut kram serta kembung.

Stres dan cemas pada orang dengan IBS juga melepaskan banyak hormon corticotropin-releasing factor (CRF). Hormon ini dapat mengaktifkan respons kekebalan tubuh. Jika kadarnya berlebihan, respons sistem imun terhadap makanan jadi berlebihan sehingga sering kali menimbulkan reaksi alergi.

Pada orang tanpa IBS, stres kronis bisa menyebabkan jumlah bakteri di usus jadi tidak seimbang. Kondisi ini disebut juga dengan dysbiosis dan dapat meningkatkan risiko IBS di kemudian hari.

TAGS:
stresirritable bowel syndromesindrom iritasi usus besar

RELATED STORIES

Loading interface...