Kebakaran Hutan di Indonesia Sering Dianggap Sepele, Namun Berbahaya

Oky
Oky

Kebakaran Hutan di Indonesia Sering Dianggap Sepele, Namun Berbahaya Sumber Foto : Istimewa

Winnetnews.com - Akhir-akhir ini kasus kebakaran hutan terutama di wilayah pegunungan menjadi topik perbincangan hangat, mengingat hal tersebut sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, hutan yang selama ini sangat berperan penting bagi kelangsungan hidup manusia dan juga ekosistem didalamnya dengan sengaja dibakar oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan sendiri. Mereka tidak berfikir bahwa apa yang dilakukannya untuk kepentingan pribadi ini sangat merugikan banyak pihak.

Terjadinya kebakaran hutan tidak hanya menimbulkan kepunahan bagi ekosistem didalamnya, tetapi juga berdampak terhadap kehidupan manusia di masa yang akan datang serta memberikan dampak buruk terhadap lingkungan dengan memicu terjadinya bencana-bencana yang lainnya seperti banjir dan tanah longsor. Sangat disayangkan sekali karena manusia yang seharusnya memiliki tanggung jawab untuk menjaga hutan, malah dengan sengaja merusaknya.

Seperti yang kita ketahui bahwa hutan merupakan paru-paru dunia yang sangat memberikan kontribusi bagi kelangsungan kehidupan di muka bumi ini. Hutan beperan sebagai pemasok oksigen terbesar yang ketersediaannya sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup semua makhluk hidup.

Tak hanya itu saja, hutan juga merupakan rumah bagi banyak spesies hewan maupun tumbuhan yang didalamnya membentuk suatu ekosistem kehidupan selain kehidupan manusia sebagai konsumen tingkat tinggi. Tak bisa dipungkiri bahwa hutan merupakan komponen penting dalam kelangsungan hidup makhluk di bumi.

Selain sebagai paru-paru dunia dan rumah bagi banyak ekosistem hewan maupun tumbuhan, hutan memiliki fungsi dan peran yang lainnya. Diantaranya hutan berfungsi sebagai tempat penyimpan air dalam jumlah yang besar mengingat di hutan hidup berbagai macam tumbuh-tumbuhan dan pepohonan yang akarnya dapat digunakan untuk menyimpan air. Kedua, hutan berperan besar dalam mengurangi tingkat polusi dan pencemaran udara yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor maupun pabrik industri. Pepohonan dalam hutan dapat menahan dan menyaring partikel-partikel padat di udara dan juga dapat menyerap gas-gas beracun seperti CFC, karbonmonoksida, karbondioksida dan gas-gas beracun lainnya yang berpotensi mengakibatkan efek rumah kaca yang akan berdampak pada terjadinya global warming atau pemanasan global. Ketiga, hutan juga berperan dalam mencegah terjadinya bencana lain seperti banjir, erosi tanah dan tanah longsor. Terjadinya tanah longsor dan banjir disebabkan karena ketidakmampuan tanah dalam mengendalikan air dalam jumlah yang besar.

Disinilah fungsi hutan diperlukan untuk dapat menyangga air dan tanah dan juga sebagai penghalang agar tidak terjadi banjir maupun tanah longsor. Keempat,  hutan berperan sebagai sumber plasma nutfah dimana hutan merupakan rumah bagi bermacam-macam flora dan fauna untuk tumbuh dan berkembang. Saat ini Indonesia menjadi negara dengan keanekaragaman hayati terlengkap setelah hutan Amazon di Brazil dengan jutaan bahkan miliyaran spesies flora dan fauna hidup di hutan Indonesia. Kelima, hutan juga berperan dalam meningkatkan sumber perekonomian negara. Hal ini disebabkan karena hutan di Indonesia menghasilkan banyak komoditas ekspor yang bernilai tinggi baik dalam bentuk bahan baku seperti kayu maupun dalam bentuk bahan jadi seperti kertas.

Lalu apa yang terjadi apabila hutan dengan berbagai macam fungsi dan peran yang penting tersebut terbakar hebat? Dan parahnya lagi sebagian besar penyebab kebakaran tersebut adalah manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab yang hanya mementingkan keuntungan diri sendiri.

Kebakaran hutan di wilayah pegunungan di Indonesia bukan merupakan kasus yang baru lagi. Meskpun di tahun 2018 ini, data menyebutkan bahwa kebakaran hutan mengalami penurunan persentase sebesar 85% jika dibandingkan dengan tahun 2017, namun tetap saja masih ditemui kasus-kasus kebakaran hutan di Indonesia terutama yang disebabkan karena pembukaan lahan oleh aktivitas masyarakat sekitar. Seperti kasus yang baru-baru ini terjadi yaitu kebakaran hutan di Gunung Sindoro-Sumbing yang meludeskan sekitar 1.122 hektare hutan. Alasan klise dari para pelaku pembakaran hutan ini adalah untuk membuka lahan baru tanpa ijin sehingga dapat dijadikan lahan untuk berkebun.

Awal mulanya, sang pelaku mengaku membakar hutan untuk membuka lahan baru dan untuk membersihkan ranting-ranting yang telah ia tebangi dengan cepat. Namun, ia tidak menyangka bahwa aksinya tersebut malah menimbulkan kebakaran besar yang melahap banyak hutan di Gunung Sindoro. Hal tersebut tentunya membahayakan bagi keberlangsungan ekosistem di dalam hutan. Tidak hanya itu saja, kebakaran yang terjadi di Gunung Sindoro ini mengakibatkan banyak pendaki yang merasa sangat terganggu dan terpaksa harus dievakuasi karena ditakutkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Di Indonesia, 99% tejadinya kebakaran hutan disebabkan oleh aktivitas manusia baik sengaja maupun tidak disengaja, dan hanya 1% diantaranya terjadi secara alamiah. Sejak tahun 1980-an, pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri diduga sebagai penyebab utama terjadinya kebakaran hutan secara besar-besaran.

Alasan utama masyarakat melakukan pembukaan lahan ini adalah karena lahan yang telah ditanami selama 2-3 tahun ini lama kelamaan akan menjadi miskin hara sehingga mengakibatkan tanaman yang mereka tanam menjadi kurang subur dan hasilnya kurang maksimal. Oleh karena itu, mereka melakukan pembukaan lahan baru yang masih kaya akan unsur hara untuk ditanami sehingga menghasilkan hasil tanaman yang maksimal dan layak untuk dijual.

Biasanya, pembakaran ini dilakukan pada lahan-lahan yang ditinggalkan untuk menghilangkan sisa-sisa panen, serta pada lahan-lahan calon perkebunan dalam kegiatan persiapan lahan tanam. Pembakaran biasanya dilakukan pada musim kemarau untuk mempercepat proses pembukaan lahan dan karena kurangnya pengawasan, pembakaran lahan di hutan yang niatnya hanya sebagian saja ini, malah merembet ke area sekitarnya sehingga mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan yang hebat dan menimbulkan kerugian besar.

Tidak hanya itu saja, ternyata adanya kegiatan penanaman hutan terutama dengan sistem tebang habis atau kegiatan reboisasi ini juga dapat memicu terjadinya kebakaran hutan. Hal ini disebabkan karena pada persiapan lahan tanam sering kali menggunakan api agar mempercepat proses persiapan lahan.

Pengawasan yang kurang ketat pada kegiatan tersebut dapat memicu terjadinya perambatan api ke wilayah lain sehingga dapat memicu terjadinya kebakaran hutan. Selain itu, aktivitas lain yang juga dapat memicu terjadinya kebakaran hutan terutama di gunung adalah aktivitas oleh para pendaki.

Para pendaki ini biasanya membutuhkan api untuk menghangatkan badan mengingat suhu di pegunungan yang sangat dingin, maupun untuk membuat makan agar mereka dapat bertahan selama beberapa hari. Api yang telah menyala ini sering kali dipadamkan, namun karena keteledoran maupun ketidaktelitian pengamatan, api yang dikira padam ini sebenarnya masih belum padam sempurna dan masih meninggalkan sisa percikan api. Oleh karena kondisi angin di pegunungan yang cenderung kering, adanya api sekecil apapun memungkinkan terjadinya  kebakaran yang dapat meluas ke beberapa area sehingga menimbulkan kebakaran hutan.

Sifat rakus dan keteledoran manusia untuk kepuasan diri sendiri mengakibatkan mereka seolah kalap untuk melakukan apa saja agar mereka dapat bertahan hidup. Seolah mereka tidak peduli akan dampak besar yang ditimbulkan dari aksi tidak bertanggung jawab mereka.

Bisa dibayangkan berapa banyaknya ekosistem yang mati akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab tersebut? Banyak satwa yang kehilangan rumah mereka yang selama ini memberikan kehidupan bagi mereka. Tentunya hal tersebut disebabkan karena hutan yang selama ini menjadi tempat tinggal mereka, tempat mereka mencari makan, tempat mereka berkembang biak telah musnah dilalap si jago merah yang disebabkan oleh manusia-manusia tidak bertanggung jawab.

Jika sudah begini, tentu saja binatang-binatang liar tersebut ingin mencari tempat baru untuk bertahan hidup dan mereka menyasar pemukiman penduduk sebagai tempat tinggal mereka. Akibatnya, penduduk sekitar geram dan beramai-ramai memusnahkan hewan-hewan liar tersebut.

jika sudah begini siapa yang disalahkan? Hewan-hewan liar tersebut tidak salah, mereka hanya ingin bertahan hidup seperti kita para manusia. Mereka marah karena rumah yang selama ini mereka tempati telah hancur. Logikanya begini, binatang-binatang liar itu tidak akan mengganggu kehidupan manusia jika manusia tidak mengusik kehidupan mereka. Dan para pelaku pembakaran hutanlah yang telah mengusik kehidupan mereka.

Jika kebakaran hutan ini terus dibiarkan, maka bukan tak mungkin ekosistem flora dan fauna didalamnya akan semakin terancam dan mengalami kepunahan. Apalagi, di dalam hutan terdapat banyak spesies-spesies langka yang hanya bisa ditemukan dibeberapa hutan saja. Tidak hanya itu saja, asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan, selain mengganggu sistem pernafasan dan mengakibatkan polusi udara di wilayah sekitar, tenyata juga dapat mempengaruhi iklim global dan memicu terjadinya global warming.

Ketika terjadi kebakaran hutan, maka akan dihasilkan gas karbon monoksida (CO) yang merupakan gas berbahaya yang dapat membentuk ozon. Tingkat ozon pada lapisan stratosfer yang merupakan bagian paling atas dari atmosfer memang berperan baik karena dapat melindungi makhluk bumi dari radiasi tinggi sinar matahari.

Namun, jika konsentrasi ozon dilapisan bagian bawah atmosfer lebih tinggi daripada bagian atas atmosfer, hal ini akan membahayakan kesehatan manusia. Sirkulasi angin juga dapat mempengaruhi tersebarnya ozon hingga mencapai bagian troposfer atas. Jika hal ini terjadi, maka akan membentuk gas rumah kaca yang sangat berbahaya karena dapat memicu terjadinya perubahan iklim atau pemanasan global.

Perubahan iklim yang lebih besar disebabkan karena aerosol yang terlepas ke udara akibat kebakaran biomassa. Hal ini memicu radiasi matahari akan sulit masuk ke bumi, penguapan air menjadi rendah sehingga mengakibatkan tidak tejadinya hujan. Bisa dibayangkan bagaimana kehidupan makhluk hidup tanpa hutan, tentunya akan sangat memprihatinkan.

Rusaknya hutan juga dapat mempengaruhi ketersediaan oksigen yang sangat dibutuhkan bagi semua makhluk hidup, mengingat selama ini fungsi hutan adalah seperti paru-paru dunia yang dapat menyerap gas-gas beracun yang membahayakan makhluk hidup dan memproduksi oksigen yang sangat dibutuhkan. Selain itu, kebakaran hutan juga memberikan dampak pada penurunan kualitas dan kuantitas sumber air.

Ketika hutan terbakar, banyak pohon yang mati dan tidak ada lagi yang dapat meyimpan cadangan air didalam tanah. Jika sudah demikian, maka kuantitas air akan berkurang drastis dan dapat menimbulkan bencana kekeringan pada saat musim kemarau. Juga jangan lupakan bencana-bencana lain yang ditimbulkan akibat hutan yang rusak akibat terjadinya kebakaran, seperti bencana banjir dan tanah longsor. Hal ini disebabkan karena akar pepohonan yang selama ini dapat memperkuat struktur tanah dan juga menyerap air dan menyimpan cadangan air hujan telah mati sehingga tidak mampu menahan banyaknya air hujan yang jatuh ke bumi.

Yang tidak kalah berbahayanya, dampak dari kebakaran hutan ini juga mengakibatkan tejadinya erosi tanah dimana tanah akan mengalami pengikisan sedikit demi sedikit sehingga tanah akan kehilangan kekuatannya. Hal ini disebabkan karena pepohonan yang selama ini melindungi tanah dari tenaga potensial yang dihasilkan oleh derasya air hujan telah hilang, sehingga mengakibatkan air dengan mudahnya mengikis tanah.

Makhluk hidup di dunia ini bukan hanya manusia saja, kita hidup berdampingan dengan populasi hewan dan tumbuhan yang lainnya. Sudah sewajarnya kita saling menjaga keberlangsungan hidup satu sama lain agar keseimbangan ekosistem di bumi ini tetap terjaga. Salah satunya adalah dengan menjaga kelestarian hutan sebagai paru-paru dunia dimana kelestariannya juga sangat mempengaruhi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Pemerintah dan masyarakat harus bersinergi satu sama lain untuk melindungi hutan terutama dari aksi pembakaran hutan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Sanksi tegas harus diberikan agar para pelaku yang melakukan tindakan pembakaran hutan baik sengaja maupun tidak sengaja ini mendapatkan ganjaran atas aksi tidak terpujinya. Sudah sepatutnya kita sebagai manusia yang bertanggung jawab atas kelesatarian hutan melakukan tindakan-tindakan preventif untuk tetap melindungi hutan dari kerusakan.

Pertama, menerapkan sistem tebang pilih untuk mengurangi dampak dari penebangan hutan secara liar yang dapat memicu tejadinya kebakaran hutan. Pada sistem ini penebangan dilakukan pada pohon-pohon yang sudah tidak produktif lagi, sehingga pohon-pohon muda yang masih bisa bereproduksi dibiarkan terus sampai tua dan sudah tidak dapat tumbuh lagi. Selain itu, sistem tebang pilih ini juga berguna agar masyarakat tidak sembarangan dalam melakukan penembangan hutan sehingga tidak menggunduli semua pohon di hutan untuk kepentingan ekonomi.

Kedua, menerapkan sistem tebang-tanam, dimana pada sistem ini hutan yang telah ditebang dilakukan penanaman kembali untuk mencegah terjadinya hutan gundul karena hutan banyak ditebang tanpa dilakukan penanaman kembali.

Ketiga, tidak membuang sampah sembarangan di hutan terutama bagi para pendaki yang biasanya membawa persediaan makanan. Apalagi putung rokok yang dibuang sembarangan di hutan ini akan sangat membahayakan bagi kelangsungan hutan karena hal ini dapat mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan. Sekecil apapun api yang ditimbulkan, dapat menjadi besar karena angin di pegunungan bersifat kering. Dan apabila hal ini terjadi tentunya dapat mengakibatkan kebakaran hutan yang hebat yang merugikan makhluk hidup lainnya.

Keempat, menjaga dan melindungi habitat yang ada di hutan. Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya kepunahan yang disebabkan oleh kebakaran hutan maupun penebangan hutan yang banyak dilakukan oleh manusia demi kepentingan pribadi.

Kelima, mengidentifikasi dan mencegah terjadinya kebakaran hutan. Hal ini sangat perlu dilakukan mengingat kebakaran hutan merupakan faktor utama yang mengakibatkan kerusakan hutan sehingga perlu adanya edukasi melalui seminar kepada masyarakat luas akan pentingnya hutan bagi kelangsungan hidup makhluk hidup.

Keenam, mengurangi penggunaan kertas juga merupakan salah satu langkah sederhana untuk mengurangi aktivitas penebangan pohon di hutan untuk kepentingan produksi. Sehingga, hal tersebut secara tidak langsung juga menyelamatkan hutan dari aksi penebangan liar oleh para manusia.

Dilihat dari krusialnya peran dan fungsi hutan dalam kehidupan makhluk hidup di muka bumi ini, sudah sepatutnya kita sebagai manusia sebagai makhluk yang memiliki akal dan pikiran sadar akan hal tersebut dan berlomba-lomba untuk melestarikan hutan dan semua ekosistem di dalamnya.

Manusia dan makhluk hidup lainnya yang hidup secara berdampingan dan merupakan satu kesatuan dalam ekosistem di bumi ini sudah sepatutnya saling menjaga satu sama lain demi mewujudkan ekosistem alam yang seimbang tanpa ada makhluk hidup lain yang dirugikan.