Kematian Baghdadi Versi Trump dan Pentagon Tak Sinkron, Trump Membual?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih. (Foto: AFP/Brendan Smialowski)
Internasional

Kematian Baghdadi Versi Trump dan Pentagon Tak Sinkron, Trump Membual?

Rabu, 30 Okt 2019 | 15:30 | Sofia Citradewi

Winnetnews.com - Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat Jenderal Mark memberikan keterangan yang mengindikasikan tidak mengetahui dari mana sumber yang dipakai Donald Trump ketika merinci serangan pasukan khusus AS terhadap pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi hingga detik-detik kematiannya.

Seperti diketahui, dalam pidato di Gedung Putih pada hari Minggu (27/10) lalu, Trump mengungkapkan Baghdadi tewas setelah berlari di bawah terowongan membawa dua anak-anak sambil berteriak dan merengek hingga terjebak di salah satu terowongan. Bahkan sebagaimana dicatat  CNN Indonesia, Baghdadi mengembuskan napas terakhir dalam ketakutan, merintih, menangis, dan menejerit sepanjang jalan.

“Saya tahu presiden telah merencanakan untuk berbicara dengan unit dan anggota unit, tapi saya tidak tahu apa sumbernya. Saya menganggap itu sedang berbicara langsung dengan anggota unit dan unit,” kata perwira militer paling senior itu kepada wartawan, seperti dilansir The Hill, Rabu (30/10).

Selama ini pernyataan Trump memang banyak menimbulkan pertanyaan dari sejumlah pihak. Mereka menyangsikan keakuratan data yang disampaikan Trump.

Milley pun menambahkan, dia pribadi belum mendengar laporan yang sama. Ia menjadi pejabat Pentagon kedua yang meragukan kebenaran pernyataan Trump tentang kondisi pentolan ISIS itu hanya dalam dua hari setelah Sekretaris Menteri Pertahanan Mark Esper mengatakan tidak memiliki detail yang sama tentang kematian Baghdadi seperti yang digambarkan Trump.

“Saya tidak memiliki perincian itu,” kata dia ketika ditanya tentang karakterisasi ‘merintih’.

Sementara itu, beberapa pejabat yang bertugas saat pidato mengatakan versi yang disampaikan Trump berbeda dengan yang mereka kumpulkan. Mengutip CNN, sumber yang mengetahui situasi itu menyebut Trump mengatakan kepada para pembantunya bahwa dia menginginkan pidato “keras”.

Gedung Putih belum segera menjawab permintaan komentar dari The Hill tentang bagaimana Trump mengetahui keadaan emosi Baghdadi selama serangan pasukan khusus AS. Namun terlepas dari keraguan atas detail tersebut, juru bicara Gedung Putih Hogan Gidley meyakini Baghdadi layak disebutkan meninggal seperti yang digambarkan Trump, menangis dan merintih sambil berlari di akhir hayat.

Mengutip Sindonews.com (30/10), kematian Baghdadi menandai kemunduran besar bagi ISIS, yang para ahli peringatkan bisa memicu balas dendam di daerah-daerah yang sekarang diperebutkan oleh pasukan Turki dan pasukan pimpinan Kurdi di Suriah timur laut, tempat ribuan pejuang ISIS ditahan.

Keputusan presiden untuk menarik pasukan AS dari wilayah itu awal bulan ini sebelum aksi militer Turki dikritik secara luas di Capitol Hill, baik atas efeknya pada kampanye melawan ISIS maupun untuk keputusan AS tidak melindungi pasukan Kurdi yang sebelumnya membantu koalisi AS melawan kelompok pemberontak.

 

TAGS:
ISISBaghdadiDonald Trumppentagon

RELATED STORIES

Loading interface...