Kisruh Kesultanan Yogya Masih Berlangsung
Nasional

Kisruh Kesultanan Yogya Masih Berlangsung

Sabtu, 16 Jan 2016 | 19:50 | Muhammad Takdir
WinNetNews.com - Tetap tidak sepakat dengan perintah (Sabda) Raja Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X, lima belas putra dan putri mendiang Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengeluarkan pernyataan sikap melalui surat terbuka kepada Sri Sultan HB X.

Adik tiri Sultan HB X, GBPH Prabukusumo (dari ibu KRAy Hastungkoro) memaparkan, surat terbuka tertanggal 12 Januari 2016 itu ditandatangani empat anak tertua dari masing-masing istri Sultan HB IX, mewakili 15 putra-putri Sultan HB IX.

Mereka adalah GBRAy Murdokusumo (anak Sultan HB IX dari ibu KRAy Pintoko Purnomo), KGPH Hadiwinoto (adik kandung Sultan HB X, anak dari ibu KRAy Windyaningrum), GBPH Prabukusumo, serta GBPH Pakuningrat (dari ibu KRAy Ciptamurti).

 

Surat tersebut telah dikirim, ditujukan kepada Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Panitrapura Kraton Yogyakarta GKR Condrokirono yang tidak lain putri kedua Sri Sultan HB X.

Surat tersebut berisi tiga poin. Pertama, Keraton Yogyakarta adalah lembaga adat dan warisan budaya, sehingga seorang sultan bukanlah pemilik keraton, tetapi hanya sebagai pemimpin adat. Karena itu segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan keraton harus sesuai tata keprajan dan paugeran keraton sebagai institusi adat.

Kedua, Keraton Yogyakarta secara historis kultural adalah warisan budaya Kasultanan Trah Hamengku Buwono, sehingga segala sesuatu yang menyangkut suksesi, kalenggahan dan kalanggengan keluarga besar Hamengku Buwono harus sesuai paugeran keraton yang sudah berlangsung turun-temurun dan telah banyak dicontohkan oleh para leluhur.

Ketiga, yang bertahta di Keraton Yogyakarta saat ini adalah Sri Sultan Hamengku Buwono X, sehingga semua sabda selain dari nama tersebut tidak memiliki legitimasi.

GBPH Prabukusumo mengatakan, surat terbuka itu hasil kesepakatan 15 saudara Ngarsa Dalem setelah rapat tertutup pada 6 Januari lalu. Gusti Prabu menegaskan, ia dan saudara-saudaranya tidak mengakui sabda-sabda yang dikeluarkan Sultan yang menggunakan nama Hamengku Bawono X.

Sedang GBPH Yudhaningrat mengatakan, saat ini para Rayi Dalem (adik-adik Sultan HB X) termasuk dirinya, tinggal menunggu jawaban dan penjelasan dari Sultan HB X berkait Sabda Jejering Raja. Pihaknya berharap dalam waktu dekat, Sultan HB X bisa segera memberikan penjelasan kepada Rayi Dalem dan masyarakat luas.

"Kalau ditanya kapan penjelasan itu akan disampaikan, saya tidak tahu, jadi belum bisa berkomentar banyak. Karena saat ini kami juga masih menunggu kepastian dari Sri Sultan HB X," ungkap Yudhaningrat.

 

Menanggapi hal tersebut, menantu Sri Sultan Hamengku Buwono X, KPH Purbodiningrat menyatakan, Kraton Yogyakarta, tidak akan menjelaskan ke publik terkait isi dan makna dari Sabda Jejaring Raja, karena merupakan ranah internal Kraton.

“Karena ini internal, jadi kita memikirkan manfaat dan mudaratnya,” kata Purbodiningrat Sabtu (16/1).

Dia mengungkapkan, Keraton Yogyakarta telah memberikan kopi naskah Sabda Jejaring Raja kepada para saudara.

Sedang Penghageng Kawedanan Hageng Panitraputra Kraton Yogyakarta, GKR Condrokirono mengaku, belum menerima surat terbuka dari Sedherek Dalem atau putra-putri Sri Sultan Hamengku Buwono IX kepada Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan HB X.

(seperti dilansir dari Berita Satu)

TAGS:
Yogyakartasultan hamengkubuwono Xkeraton

RELATED STORIES

Loading interface...