Mencintai Keunikan

Karen Adeline
Karen Adeline

Mencintai Keunikan https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjMk-nKqYPgAhUPXisKHTRtD0cQjRx6BAgBEAU&url=https%3A%2F%2Fwww.stdavidscenter.org%2Fadt%2F&psig=AOvVaw2zz2KIep24PzuAgqUXXow5&ust=1548312940279780

Pernahkah Anda merasakan betapa kejamnya dunia memperlakukan Anda? Mulai dari keluarga, keluarga besar, sekolah, kuliah, kerja, lingkungan, dan masyarakat. Mereka menolakmu, mengutukmu, bersumpah atas kegagalanmu, mengubur mental dan jiwamu. Ingin mati rasanya. Disudutkan dan ditinggal sendiri di dunia yang dingin dan kejam ini. Tidak ada lagi rasa manis dan lembutnya kasih sayang. Hanya Anda sendiri menghadapi dunia yang keji ini.

 

Sadar atau tidak sadar, kita semua tahu bahwa dunia ini menetapkan standar. Standar yang mendefinisikan apa yang “normal” dalam perspektif banyak orang. Malangnya, definisi tersebut terus bertumbuh semakin kuat setiap hari. Standar yang harus dipenuhi supaya diterima dalam kelompok tertentu, dengan tujuan mendapat kasih sayang, mendapat perhatian, dan diterima. Beberapa dari kita mungkin tidak menyadarinya, tetapi bagi mereka yang pernah ada diposisi tersebut, mereka tahu betapa menakutkannya berada dalam keadaan itu.

 


Sama halnya dengan kehidupan anak berkebutuhan khusus atau anak penyandang autisme');">autisme. Saya percaya hampir setiap orang dari kita tahu bagaimana menyakitkannya ditolak. Saya telah mendengar banyak cerita tentang masalah ini. Terutama kasus dengan orang tua, saudara kandung, dan bahkan keluarga besar seperti bibi dan paman yang membuang dan merasa malu memiliki anggota keluarga yang berkeadaan autistik seperti mereka. Hal ini kemudian mengarah kepada betapa buruknya mereka diperlakukan, dari pelecehan verbal hingga pelecehan fisik.

 


Melihat sebagian besar dari mereka dilecehkan sebegitu rupa, saya tidak bisa menggambarkan betapa berat dan susahnya keadaan mereka. Membayangkan dengan perasaan seberat dan sesusah itu,dan tidak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata, dengan menulis, atau setidaknya dalam bentuk apa pun, rasanya hati begitu penuh.Tidak dapat mengungkapkan apa yang kita rasakan. Terasa sesak di dada. Perasaan yang tidak seorang pun di dunia inginkan yang tentu saja menyakitkan.

 


Dengan kedisabilitasan anak berkebutuhan khusus dan perlakuan kasar dan buruk dari orang-orang di sekitar mereka tidak menghasilkan hal yang baik. Apalagi keadaan temperamen mereka yang biasanya tinggi. Mereka akan mengamuk dan akhirnya membuat kekacauan jika tidak ditangani dengan benar. Yang pada akhirnya, merekalah yang disalahkan atas kekacauan yang terjadi. Padahal dibalik semua itu, ada alasan mengapa mereka tantrum.

 


Gangguan autisme mengacu pada kerusakan dalam perkembangan perilaku sosial, komunikasi dan bahasa. Anak-anak yang menderita autisme ini memiliki cara berbeda dalam melakukan segala sesuatu. Memiliki perilaku yang berbeda, dan otak mereka yang tidak bekerja seperti yang seharusnya. Karena perbedaan itu, banyak dari mereka yang diabaikan, ditinggalkan, diremehkan, diintimidasi, dipermainkan dan ditolak.

 


Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2013 oleh WHO (World Health Organization), prevalensi autisme di Indonesia telah meningkat pesat. Pada awal tahun 2000, prevalensinya adalah 1 per 1000 populasi. Meningkat hingga 8 per 1000 populasi pada tahun 2017 dan melebihi rata-rata dunia yaitu 6 per 1000 populasi. Ini menjadi tanda untuk pemerintah dan profesional lainnya untuk memberikan perhatian lebih untuk pendidikan dan informasi tentang masalah autisme ini. Terutama untuk para orang tua.

 


Dalam hidup saya, saya telah melihat banyak orang dengan gangguan autisme, dan jujur, pada awalnya, saya pun melihat mereka “berbeda” dari apa yang biasanya. Atau kata lainnya, apa yang “normal” di mata saya. Saya sendiri merasa bersalah karena dulu saya melihat mereka seperti itu. Tetapi ketika saya bertumbuh, saya belajar untuk melihat mereka melalui perspektif yang berbeda. Dan yang lebih mengejutkan, setiap dari mereka mempunyai keunikan dan hal spesial dalam dirinya yang sama uniknya dengan anak-anak pada umumnya.

 


Dari apa yang saya amati, jika seseorang berbeda dari apa yang “biasa” kita lihat, tidak berarti bahwa kita harus mengisolasi atau menjauhi mereka. Mungkin pada awalnya kita merasa tidak nyaman karena perbedaan mereka yang tidak biasa kita jumpai, seperti saya. Itu tidak masalah. Pada waktunya, kita akan dapat belajar melihat mereka apa adanya dan menerima mereka. Setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Bagi anak berkebutuhan khusus, mereka memiliki masalah dalam kondisi mental dan fisik mereka, tetapi begitu pula anak-anak pada umumnya.

 


Mereka mungkin tidak memiliki masalah atau “disabilitas” yang sama. Tetapi pasti setiap anak memilikinya. Masalah dalam belajar, masalah pendengaran, atau bahkan masalah mental juga, seperti kegelisahan, depresi, mungkin bipolar. Hanya efek yang berbeda dari setiap masalah yang membedakan mereka dari anak-anak pada umumnya. Ini hanya masalah persepsi dan pola pikir dalam melihat hal-hal yang tidak biasa.

 


Bagi saya, perbedaan yang masing-masing kita miliki itu saling melengkapi. Anak berkebutuhan khusus dengan anak pada umumnya mungkin berbeda, tetapi perbedaan itu menyatukan. Masing-masing dari kita memiliki peran. Peran yang tidak bisa digantikan oleh siapapun. Kita unik dengan cara kita sendiri. Masing-masing dari kita tidak dapat dibandingkan dengan siapa pun. Setiap orang memiliki ukuran sendiri yang di mana ukuran tersebut hanya bisa digunakan untuk mereka dan tidak untuk orang lain.

 


Dengan itu, tidak ada hal yang lebih baik untuk dilakukan selain bersyukur dan menerima sebagaimana adanya. Masa depan mereka ada di tangan Anda. Kita yang menentukan masa depannya. Pilihan ada di tangan Anda. Entah menghancurkan masa depan mereka atau membangun masa depan yang cerah untuk mereka. Cobalah bayangkan jika kita ada di posisi mereka. Jika kita ada di posisinya, bagaimana kita ingin orang lain memperlakukan kita? Pasti dengan kasih sayang.

 


Kasih. Kasih mengatasi segala hal. Kasih melampaui segala batas. Melihat apa yang di dalam hati bukan apa yang terlihat secara fisik. Saya percaya dalam melakukan segala hal, kita membutuhkan kasih. Kasih menghidupkan api cinta, menjauhkan kita dari kebencian dan ketidakterimaan. Membuat kita memahami, berempati, merasakan apa yang orang lain rasakan, membuat kita melakukan yang terbaik untuk mereka. Cinta juga adalah hal yang semua orang butuhkan.

 


Jika keluarganya tidak mencintainya, lalu siapa yang bisa diharapkan untuk mencintainya? Jika Anda yang menghancurkan mimpinya maka siapa yang akan membangunnya lagi? Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa keluarga memainkan peran besar dalam kehidupan anak berkebutuhan khusus.

 


Jadi, mulai saat ini, marilah kita mencintai dan mengasihi buah hati kita. Tidak memandang seperti apa penampilan mereka, bagaimana mereka bertindak, apa yang mereka katakan. Apapun itu, mereka tetap milik kita. Mereka adalah bagian dari hidup kita. Tidak peduli bagaimana buruknya mereka, kasih kita terhadapnya harus mengalahkan semua kekurangannya. Mengasihi dengan menerima mereka, mengasihi dengan mengerti mereka, mengasihi dengan memperhatikan mereka. Kasihi buah hati kita.