Minimalisme Digital, Solusi di Tengah Semakin Toxic-nya Media Sosial
Ilustrasi (sumber: unsplash)
Lifestyle

Minimalisme Digital, Solusi di Tengah Semakin Toxic-nya Media Sosial

Rabu, 4 Sep 2019 | 19:25 | Nurul Faradila

Winnetnews.com -  Perkembangan teknologi yang terjadi saat ini membuat media sosial menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari kita. Bahkan, aktivitas yang kita lakukan setiap harinya selalu bersinggungan dengan media sosial.

Biasanya, kita habiskan waktu berjam-jam hanya untuk men-scroll timeline media sosial. Ketika bangun tidur, orang-orang cenderung akan mengambil ponsel mereka dan membuka media sosial, mengamati apa saja yang telah dilewatkan selama tidur.

Sebagian besar orang menggunakan media sosial dengan alasan untuk berinteraksi, mencari hiburan, mencari informasi, namun tak jarang juga terdapat orang yang memang menggunakan media sosial untuk mencari popularitas. Selain bermanfaat untuk hiburan dan informasi, media sosial bisa menjadi bumerang bagi penggunanya, jika digunakan terlalu berlebihan.

Banyak tulisan yang telah memperingatkan bahaya penggunaan media sosial secara berlebihan. Salah satunya, dapat menganggu kesehatan mental. Sebab, media sosial menjadi tempat bagi orang-orang untuk menunjukkan sisi terbaik mereka.

Ada yang membagikan momen bahagianya, seperti saat sedang liburan ataupun ketika meraih suatu prestasi. Tak jarang, para pengguna media sosial juga mengunggah foto-foto mereka saat terlihat menawan. Postingan seperti itulah yang paling banyak disukai.

Sehingga banyak orang yang berlomba-lomba untuk mendapatkan like terbanyak. Hal-hal tersebut lah yang dapat mengganggu kesehatan mental kita. Ketika foto yang diupload, ternyata tidak mendapatkan like banyak seperti foto orang lain, maka akan timbul rasa rendah diri dan iri.

Dilansir dari New York Post, sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of South Wales, Inggris mengungkapkan mereka yang menghabiskan waktu satu jam di Facebook, Instagram, dan Pinterest setiap harinya kebanyakan tidak merasa senang dengan diri sendiri, dibandingkan dengan orang-orang yang jarang menggunakan media sosial.

Martin Graff, peneliti dari University of South Wales, mengatakan kalau orang-orang cenderung berpikir mereka terlihat lebih menarik di media sosial. Sangat natural memang, jika kita membandingkan diri kita dengan orang lain. Namun, jika hal itu malah membuat kita tidak percaya diri dan merasa kalau diri kita lebih rendah dibandingkan dengan orang lain, maka saatnya kita berhenti menggunakan media sosial untuk sementara waktu.

Seorang praktisi Emotional Healing, Adjie Santosoputro menuliskan sebuah utas terkait digital minimalism pada April lalu. Dikutip dari Kumparan, digital minimalisme yang merupakan sebuah pikiran dari Carl Newport, di mana ia mempertanyakan alat komunikasi digital apa yang menambah nilai paling besar dalam kehidupan. Pada intinya, digital minimalisme adalah gaya hidup untuk menggunakan teknologi yang hanya sesuai dengan kebutuhan dan seefisien mungkin.

Dalam utas itu, Adjie mengatakan kalau penggunaan sosial media yang berlebihan dapat mempengaruhi kondisi batin, membuat lebih cepat cemas, dan tidak tenang. Ia pun membagikan empat cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi penggunaan sosial media.

Dimulai dengan meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan diri sendiri. Dalam hal ini, seseorang tidak diharuskan berdiam diri di tempat yang sepi. Di tempat yang ramai sekali pun, seseorang tetap bisa berinteraksi dengan dirinya sendiri, yakni dengan tidak membawa ponsel atau meninggalkannya di tas, dan tidak menggunakannya untuk beberapa waktu.

Langkah kedua yang bisa dilakukan yaitu dengan mengurangi berinteraksi di media sosial. Cara kedua ini, lumayan terasa berat, karena kita hanya boleh membuka media sosial dan melakukan interaksi menggunakan media sosial di waktu-waktu tertentu saja.

Ketiga, hiburan yang mandalam. Seperti yang telah dibahas di atas, beberapa orang menggunakan media sosial untuk mencari hiburan. Dengan tidak menggunakan media sosial untuk sementara waktu, seseorang bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk melakukan aktivitas yang produktif, seperti olahraga, main musik, dan lain-lain.

Serta cara yang terakhir adalah dengan menghemat energi perhatian. Cara ini dilakukan dengan hanya mencurahkan perhatian kita terhadap hal-hal yang memang dirasa penting. Sebab, jika perhatian kita dilimpahkan pada hal-hal yang kurang penting, maka sesuatu yang benar-benar penting dapat terabaikan.

Dikutip dari laman The Everygirl, menerapkan konsep digital minimalism, di mana ia tidak menggunakan media sosial selama satu hari dan dapat membuat tubuh menjadi lebih segar. Sebab, seseorang dapat menjadi produktif dan tidak terus menerus mengecek media sosial yang bisa membuat diri sendiri menjadi tidak nyaman.

TAGS:
LifestyleMedia Sosialtoxicdigital minimalisme

RELATED STORIES

Loading interface...