Nggak Nyangka, Tompi Punya Kisah Pahit Masa Kecil di Aceh

Zulkarnain Harahap
Zulkarnain Harahap

Nggak Nyangka, Tompi Punya Kisah Pahit Masa Kecil di Aceh Tompi/Foto: Instagram

WinNetNews.com – Setiap tanggal 17 di tiap bulannya, pemerintah melaksanakan Gerakan Literasi Nasional. Gerakan ini berbentuk penggalangan buku-buku dari masyarakat untuk dikirimkan ke seluruh pelosok Indonesia. Sekaligus juga usaha kolektif dalam meningkatkan minat baca serta sebagai usaha perlawanan melawan hoax.

"Masyarakat jarang mau baca, akibatnya mudah sekali mendapatkan informasi negatif, hoax dan konten lainnya tanpa lebih dahulu melakukan verifikasi kepada sumber yang shahih. Literasi ini sangat perlu terutama untuk masyarakat dengan level yang harus lebih ditingkatkan lagi," ungkap Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (17/06/2017).

Caranya sangat sederhana. Masyarakat tinggal menyetor buku-buku itu ke kantor milik PT. Pos terdekat. Nantinya, buku-buku yang terkumpul itu bakal disebar oleh PT. Pos ke seluruh pojok Indonesia. Soal biaya pengiriman, masyarakat tak perlu takut karena untuk saat ini, PT. Pos menanggung semua biaya itu.

"Drop saja ke kantor pos, biar kami nanti yang akan mengantar ketujuannya," kata Direktur Utama PT. Pos Indonesia, Gilarsi Wahyu Setijono.

Diam-diam, salah satu solois Indonesia, Tompi, memiliki kenangan pahit terkait buku. Ia mengingat momen pahit masa kecilnya itu saat di Provinsi Aceh.

Kerap kali Tompi kecil disuruh ibunya untuk membeli bumbu dapur, antara lain cabai di warung. Meski jarak warung dari rumahnya hanya lima menit, tapi artis yang juga berprofesi sebagai dokter ini mengaku perlu waktu 45 menit untuk membeli cabai. Sebabnya, Tompi justru lebih asyik membaca bungkus cabai dari koran itu ketimbang mengantarkan segera cabai pesanan ibunya. Bahkan saudara yang lainnya terkadang harus menyusulnya agar ia segera membawa cabai yang dibeli Tompi dari warung.

"Ya, korannya saya baca, jadi beli cabainya lama,” ungkap Tompi di Jakarta, Minggu (18/06/2017).

“Saya merasakan membaca itu manfaatnya sangat besar, terutama untuk anak-anak. Saya mengimbau kepada masyarakat untuk mengirimkan buku setiap tanggal 17," lanjutnya.

Ia menambahkan, Gerakan Literasi Nasional ini adalah gerakan yang sangat bermanfaat. Terutama untuk anak-anak di luar pulau Jawa. Ia juga menjanjikan akan mengirimkan buku untuk anak-anak.