Obama Geram Dua Insiden Tragis di AS
Mantan Presiden AS, Barack Obama dan Donald Trump tengah berseteru. (Foto: Daily Wire)
Internasional

Obama Geram Dua Insiden Tragis di AS

Rabu, 7 Agt 2019 | 12:58 | Khalied Malvino

Winnetnews.com - Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama geram mengetahui sikap Donald Trump sebagai kepala negara digdaya saat ini.

Kekesalan Obama terungkap usai Trump menyampaikan pernyataan terkait pembantaian massal di El Passo, Texas, serta Dayton, Ohio, beberapa waktu lalu. Yang mana dua insiden tragis itu menimbulkan korban tewas hingga puluhan orang.

"Kita harus dengan tegas menolak bahasa yang keluar dari mulut para pemimpin kita yang memberi rasa takut dan kebencian atau menormalkan sentimen rasis; para pemimpin yang menjelekkan orang-orang yang tidak terlihat seperti kita, atau menyarankan orang lain, termasuk imigran, mengancam cara hidup kita, atau menyebut orang lain tidak manusiawi atau menyiratkan bahwa Amerika hanya milik satu kelompok,” tulis Obama tanpa menyebut nama dalam pernyataannya.

"Bahasa seperti itu bukan hal baru—itu merupakan akar dari kebanyakan tragedi manusia sepanjang sejarah, di sini di Amerika dan di seluruh dunia," lanjut dia.

seperti dikutip Okezone.com, sepanjang masa jabatannya selama delapan tahun, Obama menyerukan "hukum senjata akal sehat" tetapi tidak membuat kemajuan yang signifikan, undang-undang kontrol senjata gagal melewati Senat setelah penembakan Sandy Hook.

Obama dan mantan ibu negara Michelle Obama menyampaikan belasungkawa kepada keluarga-keluarga korban.

Pesannya datang setelah pernyataan Trump di Gedung Putih, menanggapi dua penembakan selama akhir pekan.

"Pembantaian biadab ini merupakan serangan terhadap komunitas kita, serangan terhadap bangsa kita dan kejahatan terhadap seluruh umat manusia. Dengan satu suara, bangsa kita harus mengutuk rasisme, kefanatikan, dan supremasi kulit putih," beber Trump.

Karena dua penembakan massal ini telah memicu perdebatan, mantan Presiden AS Bill Clinton juga berkomentar.

"Berapa banyak lagi orang yang harus mati sebelum kita mengembalikan larangan senjata serbu," twitnya.

Pada Senin sore, Departemen Kepolisian El Paso memperbarui jumlah orang yang tewas menjadi 22 dengan belasan lainnya terluka.

Sembilan orang terbunuh di Ohio sebelum polisi membunuh pelaku. Ada 27 orang yang juga terluka dalam penembakan itu, yang terjadi kurang dari 24 jam setelah penembakan Texas.

TAGS:
el passoTexaspenembakanDonald TrumpBarrack Obama

RELATED STORIES

Loading interface...