Ophelia: Sekelumit Lakuna dalam Jagat Shakespeare

Amalia Purnama Sari
Amalia Purnama Sari

Ophelia: Sekelumit Lakuna dalam Jagat Shakespeare Ilustrasi: Valeri Novalianto

Winnetnews.com - William Shakespeare memang amat piawai merangkai sair dan drama. Gaung karya-karyanya mungkin sudah meruak ke seantero dunia, tak terkecuali Indonesia. Bangsawan asal Inggris ini bisa dibilang mendulang kesuksesan yang begitu cemerlang: semua produk kesusastraan miliknya laku keras.

Mulai dari buku, pementasan drama, pun naskah-naskahnya meraih animo dahsyat dari masyarakat. Pantas bila dunia menyematinya dengan embel-embel ‘Pujangga Paling Mahsyur dalam Sejarah Manusia’.

Bicara Shakespeare, maka kita pantas mencantumkan salah satu karya besarnya: “The Tragicall Hiftorie of Hamlet: Prince of Denmark”. Kondang akan sebuah adagium, ‘to be or not to be’, publik seperti amat mafhum dengan karakter Hamlet.

Seperti lazimnya kepustakaan Inggris, ‘Hamlet’ mempunyai alur cerita yang elusif dan masygul. Kepiluan ini dirasa paling azmat ketika tokoh Ophelia harus padam nyawa karena kematian bapak kandungnya−Polonius. Pembaca dan penonton drama tentu pamrih akan pamitnya anak dara ini dari pangkuan drama.

Namun penikmat Hamlet tak harus menahan getir akan lenyapnya Ophelia. Sebab sebuah sastra baru yang menyigi riwayat ‘Hamlet’ telah rampung diracik seorang penulis Amerika Serikat, Lisa Klein. Asma ‘Ophelia’ inilah yang juga menjadi judul pada novel Klein.

Ilustrasi: Winnetnews/Valeri Novalianto

Masih berkisar pada panggung ‘Hamlet’, Klein menoreh petaka ‘Hamlet’ melalui perspektif Ophelia. Meskipun ikhtisar dan premisnya didasarkan pada nukilan karya Shakespeare, lektur ini memberi pengandaian asyik bagi para pemuja Ophelia.

Alih-alih menyaksikan kemasygulan sosok Ophelia di akhir stori, ‘Ophelia’ mengajak kita melihat personalitas Ophelia secara lebih telanjang. Kisah ‘Ophelia’ milik Lisa Klein ini dialegorikan sebagai sebuah hipotesa: bagaimana seandainya Ophelia tidak tewas di akhir cerita? Alih-alih lenyap, bagaimana jika Ophelia ternyata menyemukan kematiannya?

Melalui novel ini, Ophelia adalah pencerita. Semua kemalangan dalam bentala ‘Hamlet’ terjadi melalui kacamata miliknya. Kita akan dijamu dengan kisah mula; Ophelia belia sampai masa mudanya, pertalian kisah dirinya serta ayah dan kakaknya, Polonius dan Laertes, di sebuah pondok cemong dekat mahligai kepunyaan Hamlet dan keluarganya.

Adab dan kejelitaan Ophelia lantas memincut afeksi Ratu Gertrude−Ibu dari Hamlet. Ia serta merta dikatrol Ratu untuk menjadi salah satu pelayan wanita kepercayaannya. Ratu Gertrude bukan kepalang takjub dengan tabiat Ophelia; apas, berbudi pekerti, dan tentu saja, terpelajar. Ratu dan seorang herbalis kerajaan−Mechtild−membimbing Ophelia belajar meramu belukar herbal yang berguna untuk membohongi semua orang akan kematiannya kelak.

Kisah Ophelia dan Hamlet merupakan hal yang parak. Narasi keduanya bisa dilafazkan sebagai saka guru dari segala perkara dalam ‘Hamlet’. Versi novel ini mengisahkan jika keduanya pertama kali bertemu ketika masa kanak-kanak, saling jatuh cinta, kemudian melantaskan ikrar suci secara diam-diam.

Jika dalam lakon ‘Hamlet’ pembaca dibuat kalang kabut dengan rahasia kesintingan Hamlet yang sekonyong-konyong, novel ‘Ophelia’ mempertontonkan hal serupa. Psikosis yang terjadi kepada Hamlet akibat kematian Ayahnya juga membuat Ophelia kelimpungan bukan main. Horatio bisa dibilang sebagai satu-satunya karib loyal Ophelia, selalu sedia menemani. Dari sinilah pembaca novel ‘Ophelia’ akan tahu: Horatio sedianya menyimpan rasa.

Peminat sandiwara ‘Hamlet’ niscaya bakal cinta sahih dengan novel ini. Akan tetapi, jelas bukan perkara sepele untuk menyadur adikarya kebanggaan dunia. Para pengulas sastra mengujarkan jika novel ‘Ophelia’ milik Klein ini masih memencilkan banyak perkara yang terjadi dalam ciptaan aslinya. Berjibun peristiwa esensial dari ‘Hamlet’ dirasa ‘runtuh’ karena diceritakan secara parsial dan terburu-buru.

Namun jangan khawatir. Meskipun demikian, ‘Ophelia’ mempersembahkan warna baru yang tidak dituturkan dalam cerita asli: bagaimana denyut domestik Denmark terjadi dalam termin 1600-an.

Selain masalah raibnya beberapa peristiwa yang dinilai krusial, cara berbahasa Klein dinilai ikut menyumbangkan cela dalam novel. Klein menyertakan banyak sekali fragmen kalimat dari karya ‘Hamlet’ dalam bukunya. Para kritikus menyelia ‘Ophelia’ dengan kilah bahwa pencaplokan penggalan-penggalan ‘Hamlet’ justru memberikan kesan yang muluk. Banyaknya kelempengan dan formalitas juga dirasa memasok ‘jarak’ antara pembaca dan karakter-karakter yang ada dalam buku.

Salah satu ilustrasi yang ada, misalnya, dalam interlokusi Ophelia kepada Hamlet yang berbunyi, “In due season, all that lives returns to dust, making the earth fecund with life. Smell how the air tonight is pregnant with the flowers’ blooms and their bee-sought sweetness.” Gambaran tersebut terbetik begitu klise dan membangkitkan impresi lamban dalam benak para pembaca.

‘Ophelia’ memang bukan narasi paripurna. Ia ibarat secuil lakuna (celah) dalam jagat Shakespeare yang lantang. Kekuatan ‘Ophelia’ sebenarnya terletak pada hipotesisnya yang berani mempertanyakan rongga dalam karya ‘Hamlet’, menggunakan metode ‘pengandaian’ yang menyasar tokoh Ophelia.

Ia tidak muskil sebagaimana ‘Hamlet’, namun tidak juga ‘apik’ seperti yang banyak orang khayalkan.