Penyebab Harga Calya-Sigra Bisa Murah
Toyota Calya dan Daihatsu Sigra
Mobil

Penyebab Harga Calya-Sigra Bisa Murah

Jumat, 9 Sep 2016 | 09:34 | Rusmanto

WinNetNews.com - Ketika duet Toyota dan Daihatsu meluncurkan duo model andalan terbarunya, Cayla dan Sigra, tidak sedikit orang yang terheran-heran. Salah satunya, adalah kelengkapan fitur mobil yang mumpuni, tetapi bisa dibanderol dengan harga yang relatif murah.

Kedua model ini sudah dibekali beberapa fitur keselamatan "mahal", seperti dual airbag dan sistem pengereman anti-brake lock system (ABS).

Alasan pertama, mengapa Calya dan Sigra bisa punya harga yang kompetitif adalah karena program mobil murah dan ramah lingkungan alias low cost and green car (LCGC). Lewat program ini, PT Astra Daihatsu Motor dan PT Toyota Astra Motor punya keistimewaan tidak bayar Pajak Penambahan Nilai atas Barang Mewah (PPnBM).

Bicara kategori, kedua model ini masuk dalam kelompok kendaraan berpenggerak roda 4x2 dengan mesin di bawah 1.500 cc yang dibebani PPnBM 10 persen. Calya dibekali mesin 1.2 liter berpenggerak roda depan. Artinya, karena berstatus sebagai produk LCGC, maka kedua model ini tidak dibebani PPnBM.

Maka, jika dibandingkan dengan model-model sejenis atau yang punya dimensi lebih kecil, seperti Kia Picanto atau Hyundai i10, model-model LCGC punya keuntungan.

Faktor kedua dan yang paling berpengaruh adalah masalah kemampuan industri Daihatsu dan Toyota sebagai pemanufaktur otomotif besar di Indonesia. Sebelum Calya dan Sigra lahir, kedua merek ini sudah melahirkan beberapa model kolaborasi sebelumnya, mulai dari Avanza-Xenia, Rush-Terios, dan Agya-Ayla.

Khusus untuk Agya dan Ayla, keduanya juga berstatus LCGC dan wajib memenuhi beberapa syarat manufaktur, salah satunya kandungan komponen lokal sampai 80 persen. Artinya, baik Daihatsu dan Toyota, sama-sama sudah menyiapkan stuktur perusahaan pemasok komponen yang wajib berstatus lokal.

Tak sedikit upaya Toyota mengajak beberapa perusahaan komponen asal Jepang untuk membangun pabrik di Indonesia. Cara yang dilakukan demi strategi jangka panjang, sehingga sokongan pasokan komponen Jepang berstatus “lokal” tetap terjaga. Sederhananya, mengirim komponen dari satu kawasan industri di Karawang tentu jauh lebih murah ketimbang impor dari Jepang atau Thailand.

Faktor ketiga dan yang menjadi kartu truf bagi Toyota dan Daihatsu di bandingkan merek lain di Indonesia adalah pemanfaatkan komponen sama (common parts) pada model baru. Kebijakan ini bukan tidak dilakukan merek-merek Jepang lain, tetapi perbedaannya adalah, jumlah penjualan yang signifikan.

Bukankah lebih murah menciptakan model anyar, tanpa harus mendesak perusahaan komponen melakukan investasi baru. Cukup memanfaatkan cetakan (moulding) yang sama pada komponen model sebelumnya kemudian dikirim untuk digunakan pada produk baru.

Department Technical Service Division TAM, Iwan Abdurrahman, mengatakan, memang ada beberapa komponen yang sama yang digunakan Calya dengan model Toyota lain. Pria berkumis tipis ini mengatakan, beberapa bagian, mulai dari spion (Yaris), transmisi 4-percepatan otomatis (Agya), bemper, lampu depan, kaki-kaki, sampai kabel kelistrikan.

“Kalau dinilai dari value (nilai) mungkin kandungan komponen yang sama ada pada Calya bisa mencapai 50 persen. Tetapi, kalau dari item per item, paling 20-30 persen,” kata Iwan menjawab KompasOtomotif di Garut, Kamis (8/9/2016).

TAGS:
agyaToyota CalyaDaihatsu Sigralow cost and green caralya

RELATED STORIES

Loading interface...