Pertarungan Antara Umat Manusia dan Serangga di Tahun 2050, Kata Ilmuwan: Bencana Masa Depan

Amalia Purnama Sari
Amalia Purnama Sari

Pertarungan Antara Umat Manusia dan Serangga di Tahun 2050, Kata Ilmuwan: Bencana Masa Depan Sumber: Intisari Online - Grid ID

Winnetnews.com - Belakangan ini isu perubahan iklim banyak dibahas oleh para aktivis atau pegiat lingkungan. Topik-topik dari mulai meningkatnya suhu bumi, cuaca yang semakin ekstrem, hingga naiknya permukaan laut karena adanya es mencir di kutub selatan dan kutub utara.

Salah satu peneliti dari University of Washington menulis dalam jurnal Science yang menyatakan bahwa akan ada ancaman untuk umat manusia. Jurnal ini berteori jika manusia akan mengalami petaka yang lebih berat dari perubahan iklim: pertarungan dengan serangga untuk berebut sumber makanan.

Para penliti ini menguji tiga jenis sumber makanan, yakni jagung, beras, dan gandum. Menurut FAO, tiga jenis tumbuhan tersebut merupakan bahan makanan pokok yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat di dunia. Jika panen berkurang, maka akan muncul potensi kekacauan yang besar.

Mengutip dari Beritagar dari New York Times, hama dan serangga saat ini telah mengonsumsi lebih dari 20 persen dari total tiga bahan pokok yang ditanam manusia tersebut. Cuaca panas akibat pemanasan global akan membuat serangga menjadi lebih lapar dari kondisi biasanya.

Para peneliti ini menyebut jika setiap peningkatan suhu sebesar 1 derajat Celcius, maka nafsu makan para serangga tersebut akan naik dan jumlah panen ketiga bahan pokok tersebut akan berkurang sebesar 20 sampai 25 persen.

Jika suhu bumi naik sekitar 2 derajat Celcius, pada tahun 2050 manusia akan kehilangan sekitar 213 juta ton tiga jenis tanaman tersebut saat panen. Masing-masing 31 persen untuk jagung, 19 persen untuk beras, dan 46 persen untuk gandum.

Pemimpin penelitan tersebut, Curtis Deutsch menjelaskan dua alsan mengapa serangga semakin ganas dalam mencari makanan. Menurut Deutsch, semakin panas cuaca, maka metabolisme dalam tubuh serangga akan semakin tinggi.

Saat ini saja satu dari sembilan orang sudah kekurangan makanan dan PBB memprediksi banyak orang akan kelaparan pada tahun 2050. Tidak tanggung-tanggung, jumlah orang kelaparan ini akan mencapai 9,8 miliar jiwa. Deustch menyebut kondisi ini bisa berpotensi memicu bencana massal bagi umat manusia di bumi.

Banyak negara di dunia yang sudah melakukan berbagai cara untuk mengantisipasi bencana masa depan tidak terjadi, salah satunya adalah mencanangkan Paris Agreement pada tahun 2015 silam. Perjanjian ini ditujukan untuk menjaga pemanasan global agar tetap di bawah dua derajat Celcius.