Polda Metro Tunda Limpahkan Berkas Koruptor karena Serangan Jantung

Zaenal Arifin
Zaenal Arifin

Polda Metro Tunda Limpahkan Berkas Koruptor karena Serangan Jantung
 Jakarta, Winnetnews.com -  Penyidik Polda Metro Jaya menunda pelimpahan tahap dua tersangka dugaan tindak pidana korupsi anggaran pemeliharaan ruang terbuka hijau dari pihak swasta TS kepada Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, lantaran sedang terserang penyakit jantung.

"Tersangka dari pihak swasta mendadak sakit jantung, kemudian dirawat di rumah sakit," kata Kepala Subdirektorat Tindak Pidana Korupsi Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya AKBP Ferdy Iriawan di Jakarta, Selasa (30/8/2016).

Rencananya penyidik Polda Metro Jaya akan melimpahkan berita acara pemeriksaan, alat bukti dan tersangka TS kepada Kejati DKI yang telah menyatakan lengkap (P21) pada Selasa ini.

Penyidik kepolisian menerima informasi TS menjalani perawatan intensif lantaran terserang penyakit jantung dari pengacara tersangka.

Ferdy menuturkan kepolisian akan berkoordinasi dengan jaksa peneliti, guna menjadwalkan ulang penyerahan tersangka TS.

Petugas Polda Metro Jaya telah menetapkan dua tersangka yakni TS dan pejabat pembuat komitmen (PPK) MR terkait dugaan korupsi anggaran 2015 untuk perekrutan pekerja pada Suku Dinas Pertamanan Jakarta Timur.

Kedua tersangka terindikasi bersengkokol mengambil keuntungan dari honor perekrutan pekerja lepas pemeliharaan ruang terbuka hijau secara fiktif.

Suku Dinas Pertamanan Jakarta Timur mengalokasikan anggaran sebesar Rp70 miliar untuk honor pekerja lepas pada 2015.

BPKP DKI Jakarta menemukan indikasi kerugian keuangan negara sebesar Rp12 miliar akibat pengadaan dana pekerja lepas pemeliharaan taman tersebut.

Kedua tersangka menjalankan modus dengan cara membuat Surat Perjanjian Kerja Pekerja Harian Lepas [PHL] dengan nama pekerja fiktif.

Selanjutnya, tersangka MR menyimpang uang pembayaran honor pekerja harian lepas pada rekening penampung pada Bank DKI Jakarta.

Tersangka MR hanya memberikan imbalan uang Rp200 ribu per orang kepada pekerja lepas selama tiga bulan.

Sebanyak 68 orang diperiksa sebagai saksi antara lain delapan orang Sudin Pertamanan dan Pemakaman Kota Administrasi Jakarta Timur, tiga orang saksi ahli, 19 orang pengawas PHL, 16 orang PHL dan 22 orang PHL fiktif.

Penyidik juga telah menyita surat keputusan jabatan, dokumen kontrak, dokumen pembayaran, buku tabungan dan ATM Bank DKI, serta uang tunai sebesarRp.308.000.000.

Tersangka dijerat Pasal 2, Pasal 3 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.