Posisi Indonesia, sih, Nomor 2 Tapi yang Diekspornya...

Zulkarnain Harahap

Dipublikasikan 4 tahun yang lalu • Bacaan 1 Menit

Posisi Indonesia, sih, Nomor 2 Tapi yang Diekspornya...
AW, pelaku bom panci di Buahbatu Kota Bandung/Dokumentasi Polda Jawa Barat

WinNetNews.com - Satu hasil penelitian sangat mengejutkan. Para peneliti memaparkan bahwa Indonesia ternyata eksportir nomor dua Foreign Terrorist Fighter (FTF) ISIS yang ikut memberontak di Suriah dan telah tertangkap di Turki.

"Jumlah warga Indonesia anggota ISIS yang ditangkap di Turki benar-benar membingungkan dan merupakan kejutan besar karena mereka nomor 2," ungkap CEO of GlobalStrat, Olivier Guitta.

Menurut data dari Kementerian Dalam Negeri Turki, seperti dikutip dari keterangan resmi pada Sabtu (15/07/2017), dari total 4.957 militan asing ISIS yang ditangkap di Turki - warga Rusia adalah yang terbanyak di dunia, yakni 804 orang. Diikuti kemudian oleh warga Indonesia yang berjumlah 435 orang.

Guitta, CEO of GlobalStrat yang dikenal sebagai perusahaan konsultasi keamanan dan risiko geopolitik mengatakan, statistik tersebut tidak menyebutkan periode penangkapan tersebut, tapi menurutnya kemungkinan sejak tahun 2015 hingga sekarang.

"Sangat mengkhawatirkan bagi keamanan Indonesia dengan begitu banyak warga negaranya yang telah bergabung atau mencoba bergabung dengan ISIS di Suriah," tambahnya.

Sementara menurut analis terorisme, Sidney Jones, banyaknya jumlah warga Indonesia yang ditangkap di Turki mungkin disebabkan oleh fakta bahwa banyak wanita dan anak-anak yang ditangkap setelah pergi ke Suriah bersama keluarga mereka.

"Ketika Anda mengatakan 'jihadis', imej Anda adalah salah satu petempur pria, tapi banyak warga Indonesia yang pergi bersama keluarga dengan tujuan yang salah arah yakni membesarkan anak-anak mereka di negara yang murni Islam," jelas Jones.

Dalam daftar penangkapan militan asing ISIS di Turki tersebut, Tajikistan, Irak dan Prancis berada di nomor tiga, empat dan lima. Sejauh ini, 17 eks WNI yang bergabung dengan ISIS, kini tengah meminta pemerintah Indonesia agar mereka diterima kembali. Masyarakat sendiri tentu saja menolak dengan berbagai alasan.

TAGS:

Share This Story

RELATED STORIES

Loading interface...