Proses Keseimbangan Hidup Penyandang Tunarungu di Tempat Kerja

Oky
Oky

Proses Keseimbangan Hidup Penyandang Tunarungu di Tempat Kerja sumber foto : istimewa

Winnetnews.com - Seorang penyandang tunarungu adalah individu yang memiliki keterbatasan dan kekurangan pada fisiknya dalam hal pendengaran, hal ini membuat penyandang tunarungu seringkali menghadapi kesulitan dalam menyesuaikan diri di tempat kerja. Tharpe dalam Mangunsong (2009) menyebutkan bahwa hilangnya fungsi pendengaran pada individu berdampak pada perkembangan komunikasi dan psikososial penyandangnya. Dengan demikian keterbatasan yang dimiliki oleh penyandang tunarungu tidak hanya dalam hal mendengar, namun dapat pula dalam hal penyesuaian diri.

Penyandang tunarungu pada hakikatnya sama seperti orang normal lainnya, yaitu bekerja untuk dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini sesuai dengan pasal 14 UU nomor 4 tahun 1997 tentang penyandang cacat,

“Perusahaan negara dan swasta memberikan kesempatan dan perlakuan yang sama kepada penyandang cacat dengan mempekerjakan penyandang cacat di perusahaannya sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan, pendidikan, dan kemampuannya, yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah karyawan atau kualifikasi perusahaan”.

Saat seorang penyandang tunarungu berada di dunia kerja, mereka akan lebih dituntut untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Karena beberapa perusahaan sengaja mempekerjakan orang normal dengan penyandang tunarungu secara bersamaan agar kedua individu dengan perbedaan fisik tersebut dapat melakukan penyesuaian diri. Penyesuaian diri merupakan faktor penting dalam kehidupan manusia untuk mencapai kesuksesan baik dalam dunia akademis maupun pekerjaan. Selain itu, diketahui juga bahwa penyandang tunarungu memiliki kelemahan dalam pendengaran, kemiskinan berbahasa, ketidaktepatan emosi, dan keterbatasan intelegensi.

Keinginan penyandang tunarungu beradaptasi dilingkungan kerja jangan disalahartikan sebagai individu yang memaksakan diri untuk menjadi orang yang normal. Sebaliknya, keinginan penyandang tunarungu seharusnya dipandang sebagai dukungan dari masyarakat dan menjadikan penyandang tunarungu sebagai aset bangsa demi masyarakat yang sejahtera. Namun, bagaimana supaya penyandang tunarungu bisa menunjukan beradaptasi dengan baik? Tentunya mereka harus mempunyai kualitas yang baik. Jika tidak,  mereka akan hilang percuma. Dalam beberapa kasus, para penyandang tunarungu mengalami kesulitan dalam melakukan penyesuaian diri ditempat kerja sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dalam dunia kerja.

20 Perusahaan Yang Mempekerjakan Dengan Layak Para Penyandang Cacat :

  1. PT. Aksara Solo Pos.
  2. PT. Dewhrist Indonesia.
  3. CV. Avantex.
  4. Belmond Jimbaran Puri.
  5. RSU Santa Elisabeth Purwokerto.
  6. PT. Aneka Jasa Grahadika.
  7. PT. Trans Retail Ind (carefour).
  8. PT. Mega Andalan.
  9. PT Holy Pharma.
  10. PT. Sari Puri Permai Hotel.
  11. PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Surakarta.
  12. PT. United Farmatic Indonesia, Sidoarjo.
  13. PT. Kanindo Makmur Jaya, Jepara.
  14. PT. Samwon Busana Indonesia, Jepara.
  15. PT. Primayudha Mandiri Jaya, Boyolali.
  16. PT. Komitrindo Emporio, Bantul.
  17. PT. Giat Usaha Dieng, Kubu Raya.
  18. PT. Asia Sandang Maju Abadi, Semarang.
  19. CV. Ubud Corner, Gianyar.
  20. PT. Tri Mitra Makmur, Tarakan.

Klalsifikasi Penyandang Tunarungu-wicara

Penyandang tunarungu :

  • Sangat rigan ( light ) antara 25 dB - 40 dB.
  • Ringan ( mild ) antara 41 dB - 55 dB.
  • Sedang ( moderate ) antara 56 dB - 70 dB.
  • Berat ( severe ) antara 71 dB - 90 dB.
  • Sangat Berat ( profound ) antara 91 dB - lebih.

Penyandang tunawicara adalah :

  • Keterlambatan bicara ( delayed speech ).
  • Gagap ( stutering ), Kehilangan kemampuan berbahasa ( disphasia ).
  • Kelainan suara ( voice disorder ).

Karakteristik Penyandang Tunarungu-wicara

Penyandang Tunarungu-wicara memiliki  beberapa karakteristik berbeda dengan orang normal pada umumnya, adapun karakteristiknya sebagai berikut :

  1. Bahasa dan Wicara
    Penyandang Tunarungu-wicara biasanya mengalami kelambatan atau keterbatasan dalam berbicara dan mendengarkan bila dibandingkan dengan individu pada umumnya. Bahkan pada penyandang tunarungu total (tuli) cenderung tidak dapat berbicara.
  2. Kemampuan Intelegensi
    Hilangnya kemampuan untuk biacara dan mendengar berakibat adanya kekurangan dalam penerimaan sumber informasi mealui penddengaran. Hal ini sangat berpengaruh dalam kemampuan verbal penyandang tunarungu-wicara.
  3. Penyesuaian emosi, sosial, dan perilaku
    Penyesuaian sosial sangat dipengaruhi oleh komunikasi, dalam melakukan interaksi sosial di masyarakat dalam bayak hal mengandalkan komunikasi verbal, hal ini sebenarnya yang menyebabkan penyandang tunarugu-wicra mengalami kesulitan dalam penyesuaian sosialnya sehingga terkesan tidak ekslusif.

Tujuh Karakteristik Penyesuaian Diri Positif        :

  • Tidak menunjukan adanya ketegangan emosional.
  • Tidak menunjukan mekanisme-mekanisme psikologis.
  • Tidak menunjukan rasa frustasi, memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri.
  • Mampu dalam belajar, menghargai pengalaman.
  • Bersikap realistik dan objectif.

Sebagai penutup, mari kita renungkan apa yang sebenarnya kita dapatkan dari hidup ini. Penyandang tunarungu tak perlu dipandang sebelah mata hanya karena keterbatasan fisik yang mereka miliki. Karena pada hakikatnya semua manusia itu sama, sama-sama mempunyai kekurangan di dalam diri mereka. Entah itu dalam hal fisik, psikis, maupun finansial. Mari kita semua berkolaborasi dalam menciptakan Indonesia yang lebih baik untuk semua masyarakat baik yang normal maupun tidak.

 

Ditulis Oleh Tia Monica

Mahasiswi London School of Public Relation Jakarta