Proyek Seni Perempuan Perupa 2019: Melihat Hubungan Masalah Lingkungan Hidup dan Perempuan
Foto: Nurul Faradila/Winnetnews
Lifestyle

Proyek Seni Perempuan Perupa 2019: Melihat Hubungan Masalah Lingkungan Hidup dan Perempuan

Rabu, 16 Okt 2019 | 09:15 | Nurul Faradila

Winnetnews.com - Proyek Seni Perempuan Perupa kembali digelar oleh Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Pagelaran ini berlangsung sejak 16 - 29 Oktober 2019, bertempat di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Tahun ini, merupakan kelima kalinya Proyek Seni Perempuan Perupa diadakan.

Berawal pada tahun 2014 yang mengusung tema "Wani Ditata" sebagai bentuk representasi respon dari delapan perempuan perupa yang menelusur Dharma Wanita dalam konstruksi sosial politik dan bagaimana negara memposisikan wanita dalam masyarakat. Kali ini, Proyek Seni Perempuan Perupa 2019 menjadikan Ekofenisme sebagai temanya dan memilih "Siklus Buana" sebagai judul besarnya.

Ekofeminisme dipilih menjadi tema besar dari proyek ini karena adanya kesamaan masalah yang dialami oleh perempuan dan alam, akibat dari sistem sosial-ekonomi masyarakat yang masih menganut patriarki. Saras Dewi, kurator dalam Proyek Seni Perempuan Perupa mengatakan kalau instalasi seni yang ditampilkan di sini bukan hanya sekadar ekspresi artistik. Melainkan sebagai bentuk protes.

"Bagaimana menyampaikan suatu pesan bahwa ada problem dengan lingkungan hidup, dari soal pencemaran udara, kebencanaan alam di Jambi misalnya kebakaran hutan Karhutla," ujar Saras Dewi dalam konfrensi pers pada Selasa (15/10).

image0
Foto: Dok. Winnet News/Nurul Faradila

"Kemudian juga soal bagaiamana keresehan perubahan yang terjadi dari masih banyaknya alam, yang alamiah menjadi tidak alamiah. Kemudian soal bagaimana rasa kegelisahan seorang perempuan yang melihat kampung halamannya dihancurkan, pegunungan dihancurkan karena pertambangan karena pratik-pratik tidak berkelanjutan, lalu juga gimana sih cerita antara tubuh perempuan dengan tubuh alam," imbuh wanita yang akrab disapa Yayas itu.

Sementara, "Siklus Buana" adalah sebuah proses alamiah dalam kehidupan, mulai dari kelahiran hingga kematian. Di Proyek Seni Perempuan Perupa 2019 terdapat lima orang perempuan perupa yang akan menunjukkan karya mereka, yaitu Citra Sasmita, Dea Widya, Dewi Candraningrum, Prilla Tania dan Tita Salina.

image1
Foto: Dok. Winnet News/Nurul Faradila

Pengunjung diajak untuk menuangkan gagasannya dengan ikut andil dalam karya Prilla Tania, meresapi kidung dari syair kuno dalam instalasi seni Citra Sasmita, melihat perlawanan masyarakat  Pegunungan Kendeng agar lingkungannya tidak dijadikan pabrik semen dari lukisan Dewi Candraningrum, mengkritisi ruang domestik yang rata-rata bersifat maskulin di karya Dea Widya, serta merasakan bagaimana masyarakat Jambi dan Kalimantan kesulitan untuk mendapatkan udara bersih saat kebakaran hutan terjadi melalui karya Tita Salina.

Proyek Seni Perempuan Perupa dibuka bagi masyarakat umum secara gratis. Diharapkan, melalui cara ini para pengunjung dapat memahami tentang adanya hubungan antara gender dan masalah lingkungan. Serta karya-karya seni yang ditampilkan, bisa memicu orang-orang untuk berbuat sesuatu, khususnya kepada nasib dan keberlangsungan alam.

TAGS:
seniproyek seni perempuan perupaekofeminismeTaman Ismail MarzukiSiklus Buana

RELATED STORIES

Loading interface...