Ramai Fenomena Matahari Lockdown, Ini Penjelasan Ilmuwan
ilustrasi
Sains

Ramai Fenomena Matahari Lockdown, Ini Penjelasan Ilmuwan

Selasa, 19 Mei 2020 | 13:56 | Anggara Putera Utama

Winnetnews.com -  Para ahli menyebutkan bahwa saat ini pusat tata surya kita tengah memasuk periode penguncian diri atau lockdown. Hal ini menyebabkan aktivitas permukaan matahari menjadi semakin minim dan turun secara drastis.

Melansir New York Post dari Tagar.id, seorang astronom bernama Tony Philips mengatakan bahwa tata surya akan mengalami resesi sinar matahari yang dibuktikan dengan menghilangnya bintik matahari. Ia juga mengatakan bahwa solar minimum sedang berlangsung dan ini terjadi sangat dalam.

"Ini menjadi salah satu yang terdalam di abad ini. Medan magnet matahari menjadi lemah dan memungkinkan sinar kosmik ekstra ke tata surya," kata Philips.

Lantas apa dampaknya bagi bumi jika matahari lockdown? Para ahli meyakini bahwa periode penguncian diri matahari akan menyebabkan udara dingin, gempa bumi, hingga kelaparan bagi umat manusia.

"Kelebihan sinar kosmik juga dapat menimbulkan bahaya kesehatan bagi astronot dan pelancong kutub utara, memengaruhi elektro-kimia atmosfer atas bumi, hingga memicu terjadinya petir," ucap Philips.

Ilmuwan NASA khawatir situasi ini dapat mengulangi periode Dalton Minimum yang terjadi pada 1970 dan 1830. Saat itu bumi mengalami periode dingin dengan suhu 2 derajat celcius selama 20 tahun, hingga menyebabkan kelaparan dan letusan gunung berapi yang kuat.

Namun sekarang ini kekosongan bintik matahari berada di angka 76 persen. Angka tersebut turun sedikit dari tahun lalu dengan angka kekosongan sebesar 77 persen.

TAGS:
matahari lockdowntata suryasainsilmuwan

RELATED STORIES

Loading interface...