Ramai Komunitas Pria Berpakaian Wanita, Begini Penjelasannya Menurut Lembaga Psikologi
Foto: Tribunnews
Lifestyle

Ramai Komunitas Pria Berpakaian Wanita, Begini Penjelasannya Menurut Lembaga Psikologi

Senin, 14 Okt 2019 | 15:07 | Amalia Purnama Sari

Winnetnews.com - Crosshijaber merupakan salah satu bentuk crossdressing yang praktiknya sudah ada sejak zaman dahulu. Para pelaku crossdressing ini biasanya adalah pria. Istilah crosshijaber diambil dari istilah crossdressing dimana para pria kerap tampil mengenakan dress dan tampil dengan make up. Para penganut crosshijaber ini menjadi populer setelah akun Twitter @Infinityslut memposting sebuah utas tentang maraknya komunitas tersebut.

Para penganut crosshijaber ini banyak bermunculan di Facebook dan Instagran. Mereka bahkan memiliki hashtag pribadi. Dalam foto-foto yang diperolah di Instagram, terlihat para pelaku corsshijaber ini mengenakan gamis, hijab panjang, dan cadar. Mereka bahkan tidak segan untuk masuk ke area perempuan di masjid dan kamar mandi.

image0
Para pelaku crosshijaber (foto: Instagram)

Hal ini kemudian ramai menjadi perbincangan publik. Dikutip dari Psychology Today, fenomena crossdressing ini tidak diketahui secara pasti apa penyebabnya. Berdasarkan penelitian, crossdressing sebenarnya sudah dilakukan sejak masa kanak-kanak. Ada rasa senang dalam diri anak-anak ketika mencoba baju lawan jenis. Ketika puber, kesenangan tersebut berubah menjadi kepuasan seksual. Seiring bertambahnya umur, keinginan utntuk bertukar pakaian menjadi lebih kuat meskipun kenikmatan seksual menjadi berkurang.

Menurut American Psychiatric Association, seorang pria yang gemar crossdressing dianggap mengidap gangguan trasvestis. Mereka cenderung kerap merasakan gairah seks dari berfantasi, atau akting memakai satu atau lebih busana yang pada umumnya dipakai lawan jenis. Fantasi atau perilaku ini terus terjadi setidaknya enam bulan dan menyebabkan rasa tertekan pada individu atau mengalami disfungsi sosial, profesional, dan menganggu relasi dengan orang-orang terdekat.

Psychology Today menyebut bahwa para pelaku crossdressing ini tidak selalu membutuhkan pengobatan atau terapi. Namun terdapat beberapa orang yang merujuk para pelaku crossdressing untuk melakukan terapi. Jikapun mereka menyambangi psikiater, mereka datang karena merasa tertekan atau depresi atas keinginan mereka untuk memakai baju-baju wanita.

Berdasarkan fakta yang diungkap Net Doctor, para pelaku crossdressing ini kebanyakan bukanlah homoseksual. Mereka adalah orang-orang heteroseksual yang mengaku masih menyukai kaum wanita. Mereka mengaku jika memang suka mengenakan baju-baju lawan jenis.

TAGS:
crossdressingcrosshijaberviralTwitterInstagramFacebook

RELATED STORIES

Loading interface...