Rupiah Perkasa Imbas Serangan Iran ke AS
Ilustrasi. [Foto: Medium.com]
Ekonomi dan Bisnis

Rupiah Perkasa Imbas Serangan Iran ke AS

Kamis, 9 Jan 2020 | 15:30 | Khalied Malvino

Winnetnews.com - Rupiah perkasa pada perdagangan Kamis ini (9/1), tidak hanya melawan dolar Amerika Serikat (AS), tetapi juga melawan dolar Singapura dan Australia.

Membaiknya sentimen pelaku pasar setelah Presiden AS, Donald Trump, berpidato pada Rabu (8/1) pagi waktu setempat membuat rupiah kembali berjaya.

Rupiah langsung menguat 0,25% melawan dolar AS ke level Rp13.850/US$ begitu perdagangan hari ini dibuka. Penguatan rupiah bahkan menebal menjadi 0,32% ke level Rp13.840/US$. Namun menjelang tengah hari, penguatan terpangkas dan tersisa 0,18% di level Rp13.960/US$ pada pukul 11:40 WIB.

Di waktu yang sama, Rupiah menguat 0,12% melawan dolar Singapura ke Rp10.262,11/SG$, dan 0,11% berhadapan dengan dolar Australia di level Rp9.520,43/AU$.

Rupiah kini berada di level terkuat sejak Juni 2018 melawan dolar AS, dan terkuat tiga bulan di hadapan dolar Singapura dan Australia.

Trump mengatakan Iran "sepertinya mundur" setelah melakukan serangan tersebut. Ia juga menyatakan akan mengenakan sanksi ekonomi ke Teheran. Hal tersebut mengindikasikan Presiden AS ke-45 ini tidak akan menggunakan kekuatan militer, yang membuat sentimen pelaku pasar kembali membaik.

Presiden AS ke-45 ini juga mengatakan membuka peluang bernegosiasi dengan Iran.

 "Kita semua harus bekerja sama untuk mencapai kesepakatan dengan Iran yang membuat dunia menjadi tempat yang lebih aman dan damai" kata Trump sebagaimana dilansir CNBCIndonesia.com.

Sikap Trump tersebut berbeda dengan sebelumnya yang mengancam akan menyerang Iran jika Pemerintah Teheran melakukan balas dendam atas tewasnya Jendral Soleimani.

Melalui akun Twitternya pada Sabtu (4/1), Trump memperingatkan Iran untuk tidak melakukan balasan atas tewasnya Jendral Soleimani. Jika peringatan tersebut tidak dihiraukan, Trump akan menyerang sebanyak 52 wilayah Iran sebagai balasan.

Tidak hanya Trump, Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif, juga menenangkan suasana, melalui akun Twitternya, ia mengatakan tidak ingin eskalasi atau perang, tapi akan membela diri terhadap agresi apapun.

Kedua negara sepertinya tidak ingin eskalasi terjadi, dan pelaku pasar siap kembali masuk ke aset berisiko dan berimbal hasil tinggi, rupiah. Selain itu, rupiah sejak Rabu (8/1) juga punya modal lain untuk menguat, yakni data cadangan devisa RI.

Bank Indonesia (BI) merilis data cadangan devisa Indonesia bulan Desember 2019 yang naik menjadi US$129,18 miliar, dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat US$126,63 miliar. Cadangan devisa di bulan Desember tersebut sekaligus menjadi yang tertinggi sejak Januari 2018.

"Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,6 bulan impor atau 7,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," tulis BI dalam keterangannya, Rabu (8/1). [cnbc]

TAGS:
rupiahDolarsentimen pelaku pasarperdaganganAmerika SerikatiranDonald TrumpBank Indonesia

RELATED STORIES

Loading interface...