Sri Mulyani Ungkap Skenario Terburuk Ekonomi Indonesia Akibat Corona
Foto: Bisnis.com
News

Sri Mulyani Ungkap Skenario Terburuk Ekonomi Indonesia Akibat Corona

Rabu, 1 Apr 2020 | 14:30 | Anggara Putera Utama

Winnetnews.com - Pandemi corona memang tak hanya menjadi persoalan kesehatan. Lebih dari itu, corona memukul keras aspek lain seperti sosial dan ekonomi. Menaggapi hal ini, pemerintah mengumumkan skenario terburuk pada perekonomian domestik akibat penyebaran virus corona. Termasuk di antaranya pertumbuhan ekonomi yang tumbuh negatif 0,4 persen di tahun ini.

Angka ini lebih menurun jika dibandingkan skenario terburuk sebelumnya yang sebesar 0 persen.

Sementara untuk skenario berat, ekonomi domestik diperkirakan hanya tumbuh 2,3 persen di tahun ini, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 2,5 persen. Proyeksi-proyeksi tersebut bahkan jauh di bawah target dalam APBN 2020 yang sebesar 5 persen.

"Kami perkirakan pertumbuhan ekonomi akan turun ke 2,3 persen, bahkan skenario lebih buruk minus 0,4 persen," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani dilansir dari Kumparan.

Ia juga menambahkan, pandemi corona berimbas pada kegiatan ekonomi yang menurun, bahkan berpotensi menekan lembaga keuangan. Hal ini lantaran sejumlah kredit yang tak bisa dibayarkan oleh masyarakat akibat terdampak virus corona.

Selain itu, dari sisi nilai tukar rupiah, dalam skenario sangat berat, diprediksi dapat mencapai Rp 20.000 per dolar AS. Sementara skenario berat kurs bisa mencapai Rp 17.500 per dolar AS di tahun ini.

Nilai tersebut tentu jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan proyeksi dalam target APBN 2020 hanya Rp 14.400 per dolar AS.

Inflasi pun diproyeksi meningkat hingga 5,1 persen di tahun ini untuk skenario sangat berat dan 3,9 persen untuk skenario berat. Angka ini juga jauh di atas target sebesar 3,1 persen dalam APBN 2020. Secara rinci, konsumsi rumah tangga dalam skenario terburuk akan anjlok menjadi 1,6 persen di tahun ini dan skenario berat hanya 3,22 persen. Dalam APBN 2020, konsumsi rumah tangga ditargetkan 5,0 persen.

Sementara itu, Konsumsi Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) diperkirakan juga anjlok menjadi minus 1,91 persen untuk skenario terburuk dan minus 1,78 persen untuk skenario berat. Konsumsi pemerintah diperkirakan hanya tumbuh 3,73 persen di skenario terburuk, dari target dalam APBN 2020 sebesar 4,3 persen. Sedangkan laju investasi juga diperkirakan turun menjadi 4,22 persen dalam skenario terburuk, dari target dalam APBN 2020 sebesar 6 persen.

Dari segi impor dan ekspor, diprediksi untuk ekspor akan mengalami penurunan15,6 persen dalam skenario terburuk tahun ini, dari target dalam APBN 2020 sebesar 3,7 persen. Begitu juga dengan impor yang turun hingga menjadi minus 16,65 persen, dari target dalam APBN 2020 sebesar 3,2 persen.

TAGS:
Sri MulyaniekonomiCoronaCOVID-19

RELATED STORIES

Loading interface...