Stigma Kulit Putih, Dating Show Netflix 'Single’s Inferno' Picu Perdebatan Netizen Internasional dan Korea

Nisa Diniah

Dipublikasikan 5 bulan yang lalu • Bacaan 2 Menit

Stigma Kulit Putih, Dating Show Netflix 'Single’s Inferno' Picu Perdebatan Netizen Internasional dan Korea
Foto: Allkpop

Winnetnews.com -  Original series Netflix terbaru tengah menayangkan program kencan bertajuk. Single's Inferno. Acara tersebut mendapuk Lee Da Hee, Kyuhyun Super Junior, Hanhae dan Hong Ji Kyung sebagai panel member.

Single's Inferno menampilkan sekelompok pria dan wanita Korea lajang yang mencari cinta di sebuah pulau terpencil dan jauh dari masyarakat. Mereka hanya bisa melarikan diri ketika mereka menemukan pasangannya.

Acara ini tidak hanya populer di kalangan penonton Korea, tetapi juga penonton internasional. Tapi, banyak dari penonton internasional memberikan respon negatif terhadap acara tersebut karena mereka menemukan bahwa para kontestan memiliki preferensi untuk kulit yang lebih terang.

Salah satu kontestan wanita yang langsung mencuri perhatian pria lainnya adalah Shin Ji Yeon, yang dipuji karena kecantikannya yang bak boneka. Salah satu komentar dari kontestan pria mengatakan, "Dia tampak sangat putih dan murni. Itu kesan pertamaku padanya."

Pada salah satu episode berikutnya, kontestan pria lain bernama Choi Shi Hun juga mengatakan bahwa dia menyukai Shin Ji Yeon. Tapi ketika menjelaskannya, dia berbagi tipenya idelanya dengan mengatakan, "Aku suka orang yang memiliki kulit terang." Yang lain menambahkan, "Aku suka Ji Yeon. Kulitnya sangat cerah."

Banyak dari penonton internasional menggunakan media sosial untuk membahas masalah ini karena mereka mempermasalahkan kontestan pria yang mengacu pada kulit "pucat" yang disamakan dengan "kepolosan."

image0

Namun, tak sedikit netizen Korea yang memberikan pembelaan terhadap acara tersebut.

"Untuk orang yang suka tanning di luar negeri, apakah itu rasis juga? Jika kita membalikkan keadaan ini, kedengarannya konyol," kata netizen Korea dikutip Allkpop.

"Aku pikir ini kontradiksi karena tidak ada yang memiliki masalah. Ketika kita mengatakan bahwa kulit yang lebih gelap dan kecokelatan itu seksi," ujar netter lain.

"Aku benar-benar tidak mengerti mengapa orang menjadi marah padahal itu hanya apa yang disukai orang-orang tertentu," tutur netter lain.

"Ini hanya standar kecantikan untuk Korea. Aku merasa mereka benar-benar salah paham dengan frasa itu," ucap netter lain.

"Aku pikir itu terjemahan subtitle, alih-alih menerjemahkan sebagai white skin, mereka seharusnya menempatkan fair skin, mereka tidak mengatakan putih. Aku juga mengerti apa yang dikatakan penonton internasional karena terjemahannya terus menyatukan 'putih' dan 'murni' atau 'polos'. Kupikir penerjemah seharusnya lebih berhati-hati dalam memilih kata-kata karena ada lebih banyak orang yang tertarik pada budaya Korea," pungkas yang lainnya. 

TAGS:

Share This Story

RELATED STORIES

Loading interface...